SEKECIL apapun usaha yang dikerjakan sekarang, jika ditekuni maka akan membuahkan hasil. Apalagi, pekerjaan itu dijalankan sungguh-sungguh dengan niat ikhlas untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Seperti halnya yang dijalankan sehari-hari Mas Yono. Ia menjajakan rujak buahnya di sekitar kompleks BTP Blok M setiap harinya.
Sosok bapak dua anak ini setiap harinya mendorong gerobak hingga berjarak satu kilometer lebih dari kontrakannya. Laki-laki asal Jember ini merantau ke Makassar guna mencari rezeki halal. Ia rutin mangkal di depan Kantor Kelurahan Tamalanrea Makassar.
“Cukup jauh mbak dorongnya, Disini enak jualannya karena semua udah tahu (rujak) saya sering disini. Jadi biar dimana mbak kalau memang Tuhan memberi pasti rezeki itu datang, kalau bukan yah pasti bukan rezeki saya mba,” ungkapnya, kepada penulis, kemarin.
Bagi masyarakat di sekitar daerah mangkalnya, rujak milik Mas Yono memiliki cita rasa yang enak dan gurih. Sehingga kini, sudah banyak pelangan setianya yang rutin membeli rujak buahnya setiap hari. Bahkan terkadang rujak miliknya sewaktu mangkal sudah diserbu pelanggannya.
Setiap subuh, Mas Yono sebelum berjualan harus berangkat ke pasar berbelanja buah untuk jualan rujaknya. Pulang ke rumah dibantu sang istri membersihkan dan mengupas buah, baru sekitar pukul sepuluh pagi dia membawa gerobaknya ke tempat-tempat yang biasa disinggahi.
“Kalau subuh itu ke pasar dulu mba beli buahnya. Apalagi, kalau subuh buahnya masih segar-segar, setelah ituistri membantu mengupas buahnya. Baru pukul 10 pagi saya keluar rumah mendorong gerobak ke tempat biasa. Selebihnya tidak kemana-mana lagi karena disini saja sudah laku mbak, biasanya siang jam 2-3 itu sudah habis,” katanya.
Harga untuk rujak buahnya, Mas Yono membrandol dengan harga Rp10 ribu perporsi dimana dalam sehari bisa menghabiskan 600-700 porsi setiap harinya. Rujaknya menjadi laku akibat cita rasa rujak buahnya yang datang dari rasa bumbunya yang khas, campuran gula merah, kacang, somboy dan garam diaduk dengan cabai rawit.
Sehingga kini, setiap orang yang mencicipi rujaknya menjadi ketagihan untuk membeli. Siapa sangka dengan berjualan rujak bauh setiap harinya, dirinya mampu menyekolahkan anaknya hingga ke universitas negeri di Makassar.
“Alhamdulliah apa yang didapatkan dari jualan ini, untuk anak dan istri. Anak bisa sekolah tinggi-tinggi itu sudah alhamdullilah, walaupun masih kontrak rumah, yah masih adalah membahagiakan anak dan istri,” bebernya.
Keuntungan bersih dari hasil jualannya selain untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, juga ditabung untuk kebutuhan anaknya untuk sekolah. (*)

