pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ditinggalkan Suami, Banting Tulang Biaya Dua Anaknya

MENJALANI profesi sebagai tukang bersih rumah sakit, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Butuh kesabaran dan kerja keras, pasalnya hampir setiap hari ada saja kendala dan masalah yang harus siap dihadapi di rumah sakit. Seperti yang dilakoni Titin, pembersih RS Wahidin Sudirohusodo.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Wanita berumur 48 ini kepada penulis mengaku sudah delapan tahun sejak 2011 merasakan pahit dan manisnya bekerja sebagai tukang bersih di rumah sakit, yang menuntut dirinya harus selalu sigap. Meskipun pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih rumah sakit bukan pekerjaan yang menghasilkan pundi-pundi yang banyak. Bahkan, penghasilannya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kalau mau di cerita sebagai tukang bersih di rumah sakit lebih banyak tidak enaknya. Karena tidak bisa salah-salah ki membersihkan ruangan pegawai, sebab harus ada izin. Pekerjaan ku bersihkan semua sisa-sisa sampah, menyapu, mengepel, mencuci meja, kipas dan semua aset yang ada di setiap ruangan,” jelasnya saat ditemui di sela-sela pekerjaannya kemarin.
Lanjutnya, sebagai tukang bersih rumah sakit yang cukup besar di Makassar, kehidupan Titin belum juga mencukupi. Ia harus menghidupi dua orang anaknya, pasca ditinggalkan suaminya lima tahun silam untuk merantau dan tak kunjung kembali. Olehnya itu, Titin harus bertahan hidup dan banting tulang demi meraih sesuap nasi dan pendidikan anaknya.
“Saya cuman sendiri, suamiku lama mi pergi tidak pernah kembali. Gaji di rumah sakit tidak seberapa cuman Rp1,8 juta, makanya selesai sore di rumah sakit, pulang harus kerja menyetrika di rumah tetangga. Biar dapat tambah-tambah karena kalau cuman gaji disini tidak cukupki untuk makan sama biaya sekolah anakku,” katanya.
Selain itu, Titin harus keluar rumah pada pukul 05.30 Wita karena pekerjaannya menuntut harus sudah mengepel pada pukul tersebut. Meskipun jarak tempuh dari rumahnya ke rumah sakit membutuhkan jarak enam kilo. Bahkan terkadang tidak hanya ruangan pegawai juga dikerjakan, terkadang untuk mengganti pekerjaan temannya yang tidak hadir. Belum lagi area luar yang harus ia sapu dan mengepel setiap tiga kali dalam satu hari.
Walaupun dalam menjalankan pekerjaanya harus menguras kesabarannya, sebab ada saja tamu pasien yang lalu lalang dan membuang sampah bukan pada tempatnya.
“Biasa mi itu, yang capek itu karena harus sabar betul ki. Sedikit-sedikit buang sampah ini pengunjung, padahal sudah ada tulisan dan dikasih tahu kalau dirumah sakit harus di jaga kebersihan. itu lagi kalau sudah di pel dan masih basah di situ juga lewat,” ucapnya.
Terlebih lagi ia juga tidak jarang membawah anaknya di rumah sakit lantaran mengetahui jika tidak ada makanan yang disiapkan anaknya di rumah. “Kita disini juga kadang tidak jelas kapan pulang, jadi biasanya makan disini. Kalau tidak sempatka masak anak-anakku yang ke rumah sakit, saya pulang biasanya jam 10 ke atas, kalau rumah sakit punya acara,” ujarnya.(*)




×


Ditinggalkan Suami, Banting Tulang Biaya Dua Anaknya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar