MAKASSAR, BKM — Laga final leg kedua Piala Indonesia antara PSM Makassar versus Persija Jakarta ditunda tanpa batas waktu. Duel kedua tim harusnya dihelat di Stadion Mattoanging, Makassar, Minggu sore (28/7).
Keputusan tersebut diambil PSSI atas pertimbangan aspek keamanan dan kenyamanan pelaksanaan pertandingan. Penonton dan supporter PSM yang telah memenuhi stadion langsung bergemuruh penuh kecewa setelah mengetahui penundaan tersebut.
Manajer PSM Munafri Arifuddin bersama Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal S Suhaeb, dan Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Ariwibowo muncul di tengah lapangan. Dengan alat pelantang di tangan, manajer yang akrab disapa Appi itu menyampaikan informasi ke penonton.
”Kita sudah komunikasikan semuanya. Bahkan tadi malam (Sabtu malam), Bapak Kapolrestabes dan Penjabat Wali Kota telah datang berkomunikasi dan berdialog dengan pihak Persija agar final bisa dilaksanakan. Saya juga bersama Karo Ops dan Kapolrestabes mengajak Persija, mari kita bertanding hari ini (kemarin). Tapi karena menyatakan suasana tidak kondusif dan PSSI telah hadir di tengah-tengah kami, akhirnya pertandingan ditunda dan diminta untuk mencari tempat lain,” ujar Appi dengan suara lantang, yang disambut teriakan kekecewaan penonton.
”Saya sampaikan kepada pihak PSSI kalau pertandingan itu ditunda dan diselenggarakan di tempat lain, maka PSM tidak akan ikut lagi dalam pertandingan,” tandasnya.
Menyusul keputusan dari PSSI tersebut, sanksi agar diberikan kepada Persija, langsung disuarakan banyak kalangan. Mulai dari Penjabat Wali Kota Iqbal Suhaeb, mantan pemain PSM Sumirlan, mantan Manajer PSM Kadir Halid, hingga para supporter.
”Di sini kita ingin bagaimana PSSI bertindak tegas. Orang jangan seenaknya tiba-tiba menyalahkan sesuatu. Bisa saja kan dibicarakan terlebih dahulu apa solusi yang bisa ditempuh. Ada banyak win-win solution yang bisa diambil. Ditunda satu atau dua minggu ke depan. Bukannya tanpa batas,” cetus Iqbal.
Dia pun sangat menyayangkan manajemen Persija yang terkesan tidak percaya terhadap aparat negara. ”Masa’ aparat negara tidak dipercaya. Belum ada dalam sejarah, ada orang yang meninggal di lapangan saat pertandingan sepak bola berlangsung. Apa yang ditakuti kalau aparat sudah menjamin?” ketusnya.
Menurut Iqbal, ada banyak pihak yang dirugikan dengan keputusan PSSI tersebut. Khususnya penonton yang telah membeli tiket.
”Ada banyak orang-orang dari daerah yang sengaja datang untuk menonton pertandingan. Ada banyak orang yang saya tahu selama bertahun-tahun tidak pernah datang ke stadion, baru kali ini datang. Karena itu, PSSI harus bertindak tegas. Berikan sanksi kepada Persija,” tandasnya.
”Tapi, bukankah PSSI sendiri yang menunda laga tersebut? Ada apa antara PSSI dan Persija?” tanya BKM.
”Saya juga bertanyanya seperti itu,” sergah Iqbal.
Kadir Halid yang pernah menjadi Manajer PSM, juga sangat menyayangkan keputusan PSSI. ”Kalau soal keamanan, maka saya kira tidak pantas mereka untuk tidak bertanding. Karena Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar sudah menurunkan pengamanan penuh. Seharusnya PSSI tegas dan memberi sanksi kepada Persija,” tandas Kadir.
Ganti Pengurus PSSI
Mantan pemain PSM Sumirlan menilai, Persija telah mencoreng sepakbola Indonesia dengan segala bentuk alasannya. Dia pun mendesak PSSI untuk menggurkan Persija karena tidak bersedia bermain menghadapi PSM.
”Sebenarnya dari awal mereka tidak ingin bermain di Makassar. Mereka tidak gentlemen. PSSI harus memberi tindakan tegas kepada Persija karena selalu membuat ulang. Hanya mereka saja yang selalu ingin juara. Ini tidak bagus buat sepakbola Indonesia,” terangnya.
Sumirlan mendesak agar PSSI berani berbuat. Bila tidak, kata dia, lebih baik pengurus PSSI diganti. Karena Persija telah merusak tatanan persepakbolaan Tanah Air.
”Ini sejarah baru ada tim yang tidak mau bertanding di final, dan PSSI menyetujui hal itu. Keputusan ini patut dipertanyakan, ada apa. Apalagi pihak kepolisian dan aparat keamanan sudah memberi jaminan,” ujarnya.
Kejadian yang terjadi sehari sebelumnya dan menyasar pemain Persija, disebut oleh Sumirlan hanya sebagai insiden kecil. ”Dengan menerima keputusan penundaan, maka PSSI memang tidak pernah benar. Maka keputusan Menpora yang pernah membekukan PSSI tepat sekali. Tindakan mereka abnormal. Kalau memang tidak mampu, mundur saja dari PSSI,” kesal Sumirlan. (arf/rus)

