MAKASSAR, BKM– Harian Berita Kota Makassar menggelar kegiatan Workshop Kehumasan dan Citizen Journalism se-Sulawesi Selatan (Sulsel), selama dua hari 26-27 Juli di Grand Palace Hotel, Makassar. Peserta berasal dari humas pemerintah kabupatan dan kota, kepolisian, Kanwil Kemenkum dan HAM, serta Kemenag.
Hadir memberikan materi, yakni Komisaris Harian Berita Kota Makassar Zulkifli Gani Otto, Direktur Utama Harian Berita Kota Makassar Mustawa Nur, dosen Unifa Nur Alim Djalil, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Berita Kota Makassar Andi Rustan.
Dalam pemaparannya, Zulkifli Gani Otto atau yang akrab dipanggil Zugito mengawali dengan memberikan apresiasi kepada Harian Berita Kota Makassar yang menggelar workshop kehumasan.
Kegiatan yang dilaksanakan dinilai sangat penting untuk mensinergikan hubungan antara humas dan wartawan media menjadi baik dan selaras. Apalagi dunia komunikasi digital sekarang ini begitu canggih. Sehingga cenderung memengaruhi hubungan yang dulunya harmonis antara humas dan wartawan, menjadi tidak lagi harmonis.
“Mungkin karena kita berpikir tidak memerlukan media lain atau wartawan karena sudah ada media sosial. Padahal tidak seperti itu,” kata Zugito.
Organisasi dan instansi apapun, lanjut Zugito, humas menjadi ujung tombak penentu maju dan berkembangnya suatu organisasi atau instansi tempat mereka bekerja. Sehingga mutlak humas memiliki kemampuan untuk membuat karya tulis atau rilis berita.
“Mau di instansi atau organisasi apapun, humas menjadi corong kemajuan. Kalau ada seorang humas cuma gambar tidak ada suara, cuma penampilan saja tanpa ada hasil karya tulisan, tidak bisa nulis, itu bukan humas namanya. Tidak ada gunanya humas seperti itu. Di workshop inilah ada pelatihan teknik menulis. Saya berharap semuanya mutlak mampu membuat rilis berita,” tegasnya.
Oleh karena itu, workshop kehumasan yang diinisiasi BKM sangat penting diikuti oleh humas. Di workshop ini humas dapat intim lagi mengetahui teknik menulis berita, cara-cara menghadapi wartawan tanpa ada rasa takut, dan bagaimana menjaga hubungan harmonisantara humas dan wartawan.
“Humas tidak perlu takut pada wartawan. Humas punya hak mengetahui identitas setiap wartawan yang datang ke instansi atau tempatnya melakukan wawancara atau konfirmasi terkait berita. Humas berhak menanyakan identitas media wartawan. Sekarang kan banyak media. Wartawan juga banyak. Jadi humas harus tanyakan dan harus jelas wartawan dan media tempatnya bekerja,” tegasnya.
Direktur Utama Harian BKM Mustawa Nur, menjelaskan soal berbagai kerja sama yang bisa dilakukan media dalam mendorong kemajuan suatu daerah. Seperti membuat program positif yang mampu mengangkat kemajuan daerah.
Mustawa menampilkan sejumlah contoh kerja sama yang telah dilakukan BKM di sejumlah kabupaten dan kota di Sulsel. Seperti program Maccarong, Majurong, Jaksa Samboritta. dan sejumlah program lainnya.
“Saat ini sudah zamannya wartawan menciptakan berita. Bukan lagi menunggu berita. Kalau di zaman dulu, konsep media selalu mengambil kesalahan untuk dijadikan berita terbaik. Tapi saat ini berita terbaik adalah berita yang mendorong kemajuan, good news is the best news,” jelas Mustawa.
Selanjutnya pemateri Andi Rustan yang juga Wakil Pimpinan Redaksi BKM lebih mengarahkan peserta workshop ke cara penulisan jurmalis. Menurutnya, penulisan berita yang dilakukan oleh bagian humas pemerintah daerah dengan pihak media tentu punya perbedaan signifikan.
Jika berita yang dibuat oleh pihak media cenderung tajam ke pokok persoalan, berita yang dibuat bagian humas cukup bersifat seremoni.
Andi Rustan juga menjelaskan, perbedaan penulisan berita yang dilakukan oleh pihak humas pemda dengan pihak media ada pada judulnya. Kalau judul yang dibuat oleh pihak media biasanya dibuat secara umum untuk menarik semua pembaca, pihak humas cukup dengan menuliskan judul secara khusus.
“Misalnya jika kegiatan hari ini dijadikan berita, pihak humas cukup menulis judul ‘Workshop Kehumasan Sulsel Dilaksanakan’ saja. Yang baca juga paling peserta. Tapi kalau sudah sampai mau diterbitkan di media, harus judul khusus yang menggambarkan secara umum, supaya masyarakat umum tertarik untuk membaca,” jelasnya.
Para peserta yang juga merupakan utusan dari bagian humas masing-masing instansi ini juga diberikan pemahaman, untuk tak ragu pula menulis berita seperti pemberitaan di media massa.
Andi mengungkapkan, penulisan berita seperti berita yang ditampilkan di media, tentu akan memberikan penilaian lebih kepada mereka yang berposisi di bagian humas.
Ia mencontohkan, saat peliputan kegiatan pemberian CSR yang biasa dilakukan oleh para humas instansi, lebih baik jika menonjolkan human interestnya. Jika dibanding dengan kegiatannya secara umum, human interest ini, dikatakan Andi, bisa lebih menarik para pembaca.
“Yang menarik itu temuan dalam kegiatannya apa. Misalnya pemberian CSR kepada warga kurang mampu, tonjolkan penerimanya, human interesnya. Bagaimana hidupnya sehari-hari, kenapa sampai seperti itu,” jelasnya.
Selain itu, dalam penulisan berita, dijelaskan Andi, juga harus memiliki pemilihan kata yang tepat. Apalagi jika kata yang digunakan menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang tepat.
Seperti misalnya kata perkosa yang bisa menggunakan kata lain rudapaksa. Atau seafood yang terkesan bahasa Inggris bisa menggunakan kata boga bahari.
“Selain itu ada juga swafoto yang berarti selfie, gawai yang berarti handphone, unduh yang berarti download, dan sebagainya,” sebut Andi. (nug-arf/rus)
”Humas tidak Perlu Takut pada Wartawan”
×

