SELAMA ini kita sering mendengar kisah dan cerita tentang pasangan suami istri yang sehidup semati. Jarang terjadi di dunia nyata. H Batriy Selkam dan Hj Maimunah Yunus merupakan salah satu dari yang langka itu.
BATRIY SELKAM berusia 73 tahun. Istrinya, Hj Maimunah Yunus berumur 71 tahun. Keduanya menghadap ke Sang Maha Pencipta di waktu yang hampir bersamaan. Hanya berselang 12 jam.
Hj Maimunah yang pernah mengajar di MAN 2 Makassar terlebih dahulu berpulang. Ia meninggal pada hari Minggu (4/8) pukul 14.35 Wita. Selanjutnya, pada Senin dini hari (5/8) pukul 01.40 Wita, giliran Batriy yang dipanggil ilahi.
Ia diketahui mengajar di Pondok Pesantren An Nahdlah. Keduanya meninggalkan tiga orang anak yang telah meraih sukses di bidangnya masing-masing.
Dari penuturan seorang tetangga bernama Samsiah, almarhumah Hj Maimunah memiliki riwayat penyakit gula. Sementara suaminya mengidap kanker tulang. Mereka berjuang bersama-sama melawan penyakit yang dideritanya.
“Semuanya baik, dek. Dari istri, suami, sampai tiga orang anaknya itu mereka baik. Saya panggil almarhum itu bapak dan ibu. Jujur, saya sangat kehilangan atas kepergian bapak dan ibu. Beliau banyak membantu saya, baik motivasi sampai bantuan apa saja,” kenang Samsiah sambil terisak. Air bening jatuh dari pelupuk matanya.
Menurut Samsiah, alharhum Batriy Selkam rajin ke masjid untuk menunaikan salat. Bahkan sampai sakit pun masih saja berjalan ke masjid yang hanya berjarak 10 meter dari rumahnya.
“Kalau ibu memang sudah berapa tahun sakit dan berdiam di rumah. Sebenarnya bapak sudah lebih lama sakit, tetapi masih bisa jalan ke masjid. Kalau ibu, pas sakit langsung drop,” tuturnya.
Ketika Maemunah meninggal, Batriy Selkam sempat memanggil nama istri tercintanya. Itu terjadi pada saat ia diperhadapkan ke jasad istrinya di rumah mereka Jalan Cakalang Lorong VI, Kelurahan Totaka, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.
Sebelum Batriy Selkam mengembuskan nafas terakhirnya, ia sempat berujar. Bila dirinya yang duluan meninggal, maka istrinya tidak ikut. Namun ketika istrinya duluan meninggal, maka dirinya pasti menyusul.
“Jadi pada saat ibu meninggal dunia siangnya, bapak dibawa pakai kursi roda ke ruangan. Bapak ditanya bahwa ibu meninggal dan diminta untuk ikhlas, serta sabar. Tidak banyak bicara. Bapak cuma mengeluarkan air mata dan bilang; tungguka’ Maimunah. Tidak lama setelah itu bapak meninggal juga,” terang
Samsiah, lagi-lagi dengan suara terisak.
Kepergian pasangan suami istri itu memberikan kesan mendalam yang baik, khususnya kepada Samsiah yang menjadi tetangga rumahnya. Kata dia, di rumah almarhum selalu anak-anak diberikan kursus bahasa Arab dan mengaji. Tanpa biaya alias gratis.
Sementara di kala usai salat Idul Fitri, mereka selalu saja mengundang semua tetangga untuk datang ke rumahnya. Termasuk anak-anak. Mereka selalu diberi uang oleh keduanya.
“Rumahnya bapak dan ibu itu selalu ramai. Banyak anak-anak di sana mengaji dan belajar bahasa Arab. Semuanya gratis. Beliau yang panggil dan bayar guru itu untuk mengajar anak-anak. Sementara anak-anaknya kalau datang ke sini, mereka pasti berinisiatif langsung membersihkan pelataran rumahnya. Juga di lorong ini. Mereka semuanya baik,” ungkap Samsiah.
Tetangga lainnya bernama Darwis menuturkan hal yang sama. Ia menyebut pasangan suami istri ini sebagai sosok yang baik dan ramah. Kepergian mereka untuk selama-lamanya dalam waktu yang hampir bersamaan, menjadi bukti ikatan batin dan komitmen atas cintanya.
“Ini yang namanya ikatan batin sesama pasangan. Cinta yang benar-benar setia. Mereka sehidup semati,” ujarnya.
Ros, tetangga yang berada di sebalah kanan kediaman almarhum, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia mengaku sangat kehilangan sosok yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri.
”Suami istri ini orang baik. Tiga anaknya laki-laki semua. Punya lima orang cucu. Dua anak yang tinggal serumah. Mereka berdua seperti orang tua saya sendiri,” terangnya.
Ros terkenang dengan sebuah nasihat yang pernah disampaikan almarhumah Hj Maemunah kepada dirinya. ”Waktu itu saya belum punya rumah. Ibu hajja nasihati saya untuk membuat rumah. Akhirnya saya bangun rumahku. Setidaknya ada campur tangan almarhum di sini,” kata Ros dengan mata sembab.
Pasangan suami istri ini dikebumikan satu liang lahat di Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep. Sebelum dibawa ke peristirahatan terakhirnya, jenazah keduanya terlebih dahulu disalatkan di di Masjid Al-Azhar Tabaringan Jalan Tinumbu, Lorong 154. Lokasinya tidak jauh dari rumahnya.
Ketiga anak-anak almarhum, yakni Hariady Batriy, Zulkarnaen Batriy, dan Alauddin Batriy serta keluarganya hadir diprosesi ini. (arf-jun/rus)

