pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

NA Minta None Cepat Mundur dari ASN

MAKASSAR, BKM — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Litbangda) Pemprov Sulsel Irman Yasin Limpo digadang-gadang akan ikut bertarung dalam pemilihan wali kota Makassar (pilwali) yang akan dihelat 202 mendatang.
Bentuk keseriusan untuk ikut dalam kontestasi memperebutkan posisi pemimpin Makassar itu, dibuktikan lelaki yang akrab disapa None itu, dengan mengutus sejumlah relawan mengambil formulir pendaftaran di kantor DPC PDIP Makassar, pekan lalu. Ia pun sudah mengembalikan formulir pada Sabtu (14/9) lalu, sebelum pendaftaran ditutup.
Mengetahui jika pejabat eselon II Pemprov Sulsel itu akan bertarung dalam kontestasi pilwali, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah langsung memintanya agar mengundurkan diri lebih cepat. Nurdin menegaskan, siapapun aparatur sipil negara (ASN) yang ingin maju pada pilkada 2020, harus mengundurkan diri lebih cepat.
“Harus mundur lebih cepat dong. Lebih bagus mundur,” kata Nurdin, kemarin.
Mantan bupati Bantaeng dua periode itu mengatakan, pengunduran diri bisa lebih cepat dilakukan agar fokus mempersiapkan diri untuk bertarung. Selain itu, tidak terbebani beban kerja dengan statusnya yang masih kepala badan. Kendati demikian, kata Nurdin, ia akan mendukung apabila ada pejabat di Pemprov Sulsel yang ingin maju di pilkada 2020.
“Kita sangat dukung. Apalagi kalau None (Irman) itu kan sangat potensial. Bagus untuk Makassar. Lebih bagus mundur kalau sudah mendaftar,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, None menyebutkan jika dirinya sempat ragu untuk mengembalikan formulir pencalonan di PDIP. Namun, berkat dorongan dari semua pihak, mantan kepala Dinas Pendidikan Sulsel itupun akhirnya mengambil keputusan tersebut.
“Saya lama berpikir apakah ada ruang di PDIP bagi kami. Kami yakin dan percaya bahwa PDIP sebagai partai demokrasi tentunya akan menghasilkan keputusan demokratis juga,” kata None, baru-baru ini.
Ia juga komitmen untuk mewakafkan diri pada PDIP. “Saya akan mewakafkan diri untuk PDIP dan berkontribusi positif untuk kehidupan masyarakat, khsusunya di Kota Makassar. Kita harus tumbuh bersama bersaing bersama dengan nilai- nilai positif,” tambahnya.
Namun, ketika ditanyakan soal pengunduran dirinya, None enggan berkomentar. “No komen saya. Itu kan ada aturannya. Kita ikuti prosedur dan aturan yang berlaku,” jawabnya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Akmal Malik, mengatakan pengunduran diri bagi PNS yang mau maju di pilkada baru dilakukan setelah penetapan calon oleh KPU.
“Ataupun sudah mendeklarasikan diri maju. Nanti setelah itu, baru bikin surat pengunduran diri. Jangan terlalu terburu-buru,” kata Akmal.
Surat keputusan pengunduran diri, kata Akmal, bukan di Kemendagri tetapi dari Badan Kepegawaian Nasional. Kemendagri hanya memberikan surat keterangan yang bersangkutan telah diberhentikan. Namun, ia menegaskan untuk ASN untuk bisa mengundurkan diri jika sudah yakin akan maju.
Hal ini, menurut Akmal, agar kualitas pelayanan publik tetap terjaga. “Kalau mundur, setidaknya posisi yang ditinggalkan bisa diisi dengan pejabat tetap. Jadi tidak mengambang,” tukasnya.
Diketahui, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) 15/2019 telah keluar. Berdasarkan PKPU itu, pilkada akan digelar secara serentak pada 23 September 2020 di 270 daerah. Sementara, pendaftaran menjadi paslon berlangsung 16-18 Juni 2020.

Berpeluang

Selain PDIP, None juga disebut-sebut melirik beberapa partai lainnya untuk dikendarai menuju pilwali 2020. Di antaranya Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Perindo, dan Partai Nasdem.
Banyak yang menilai, mantan kepala Dinas Pendidikan Sulsel itu masih memiliki jaringan dan elektoral yang cukup diperhitungkan. Pada Pilwali 2013 lalu, Irman yang maju bersama Busrah Abdullah menjadi memenang kedua setelah pasangan Mohammad Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal.
Pemenang ketiga yakni pasangan Tamsil Linrung-Das’ad Latif. Kemudian Supomo Guntur-Kadir Halid, Muhyina Muin-Syaiful Saleh, Adil Patu -Izradi Zainal, Rusdin Abdullah-Idris Patarai, Apiaty Kamaluddin-Zulkifli Gani Otto, Erwin Kallo-Hasbi Ali, serta pasangan Herman Handoko-Latif Bafadal.
Nurmal Idrus dari Nurani Strategic Nurmal mengemukakan, ketika membaca peluang seorang figur dalam sebuah kontestasi pemilu, maka kita menghitung empat faktor. Yaitu kapasitas personal figur, jaringan pemenangan, modal sosial dan politik, serta finansial.
“Saya pikir, Irman memiliki keempatnya. Untuk itu tentu saja sangat tepat jika dia mencalonkan diri,” ujar Nurmal, Selasa (17/9).
Tak hanya itu, Irman adalah pemenang kedua di pilwali 2013. Raihan tersebut menjadi modal besar baginya. Karena artinya, dia punya modal sosial dan politik berupa basis massa yang jelas.
Secara kapasitas personal, tentu saja dia sangat bisa diandalkan. Karena pernah menjabat beberapa kali sebagai pelaksana tugas (plt) kepala daerah dan kepala dinas.
“Jaringan suara juga dia miliki, karena menjadi bagian dari klan YL (Yasin Limpo) yang sangat mengakar di strata terendah pemilih. Sementara modal finansial juga sudah tak bisa diragukan,” terangnya.
Suwadi Idris Amir dari Indeks Politika Indonesia (IPI), menilai peluang None maju di pilwali cukup terbuka. Sebab ia cukup dekat dengan dua sampai tiga parpol.
“Jika None yang maju, maka peluang calon lain di luar Danny Pomanto dan Munafri Arifuddin cukup kecil jika melalui jalur parpol. Danny dan Appi kemungkinan paling diminati parpol. Sebab hingga bulan ini survei keduanyanya masih paling tinggi,” ujar Suwadi.
Danny dan Appi masih menguasai 75 persen elektoral. “Kajian saya parpol rujukannya ada dua. Pertama, survei yang tinggi. Kedua, kesiapan bertarung (cost politik),” jelas Suwadi.
Hal sama disampaikan Dedy Alamsyah Mannaroi dari Duta Politika Indonesia (DPI). Menurut dia, nama None adalah representasi klan Yasin Limpo yang harus berhasil di pilwali.
“None cukup cerdas dalam berpolitik. Masih ada kekuatannya yang tersisa di pilwali 6 tahun lalu. Olehnya itu, None tak bisa dianggap enteng, karena paham politik dan pemerintahan,” jelas Dedy.
Dosen politik Unibos Dr Arief Wicaksono, menilai peluang None cukup besar. “Saya kira cukup baik karena beberapa faktor. Pertama faktor birokrasi. Beliau (None) saat ini adalah birokrat senior yang masih aktif dalam pemerintahan. Sebagai birokrat, beliau memahami seluk beluk birokrasi. Kedua, faktor garis keluarga, beliau adalah salah seorang pemimpin dari klan Yasin Limpo. Pernah maju jadi calon wali kota Makassar 2013, dan berada di urutan kedua,” ucap Arief.
Dosen komunikasi dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad juga menilai None sangat berpeluang. “None sangat berpeluang maju di pilwali. Apalagi telah mendaftar di PDIP,” tandasnya. (rhm-rif/rus)




×


NA Minta None Cepat Mundur dari ASN

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar