MAKASSAR, BKM — Proses pemadaman kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa, Antang masih terus berlangsung. Hingga Rabu (19/9), personel gabungan masih berjibaku di lokasi.
Sementara petugas medis, baik dari Dinas Kesehatan Makassar maupun Sulsel turun melakukan pemeriksaan kesehatan warga sekitar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Sulsel Bachtiar Baso, mengatakan pihaknya membangun dua posko kesehatan bersama Dinkes Makassar. Ada puluhan tim kesehatan yang diterjunkan untuk membantu masyarakat.
“Tadi pagi (kemarin) saya sudah cek. Saya bawa seluruh tim, baik gerak cepat, tim kesehatan lingkungan, dan survilence. Saya ajak BPJS kesehatan untuk datang ke lapangan. Memang masih ada asap keluar,” kata Bachtiar saat di kantor gubernur Sulsel, Rabu (18/9).
Tim kesehatan yang ada di lapangan, lanjut Bachtiar, telah melakukan survei ke beberapa pemulung, serta warga sekitar. Terutama balita yang ada di sekitar TPA Tamangapa.
“Sampai saat ini sudah ada dua orang yang mengeluhkan sesak nafas. Kalau asap kebakaran penyakit yang bisa muncul Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, dan kanker,” jelasnya.
Penyakit kanker, menurutnya, bisa menjadi ancaman. Apalagi asap akibat kebakaran plastik sangat berbahaya. Bisa saja, saat dewasa anak-anak yang menghirup asap kebakaran bisa terkena kanker paru-paru.
“Mungkin baik kelihatan sekarang, tapi kalau dewasa bisa jadi gangguan paru-paru. Kedua asma bisa berbahaya kalau kena asap. Bahkan bisa mengakibatkan kematian,” pungkasnya.
Asap Lebih Banyak
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar Andi Iskandar, mengatakan saat ini pemerintah terus berupaya mengendalikan kualitas udara buruk akibat kebakaran TPA Tamangapa.
Iskandar mengatakan, pemerintah provinsi pun telah memasang alat untuk pengujian kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.
“DLH Provinsi sudah memasang alat pengujian kualitas udara di sini. Hasilnya bisa diketahui setelah 24 jam kemudian,” kata Iskandar.
Setelah itu, lanjut Iskandar, hasil pengujian udara akan diuji kembali di laboratorium. Tujuannya untuk memastikan kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran dan Kota Makassar secara umum.
Selain itu, ia juga memastikan penyelesaian kebakaran TPA tidak memakan waktu yang lama. Sebab berbagai pihak telah turut membantu menangani.
“Tidak sampai lima bulan kita selesaikan. Apalagi sudah ada beberapa pihak terkait juga turun melakukan pemadaman. Seperti ada dari kepolisian yang membawa mobil water cannon, dan Manggala Agni,” jelasnya.
Dari hasil rapat, kata Iskandar, pihak Manggala Agni akan memadamkan api dari bagian bawah tumpukan sampah. Sehingga diperkirakan akan menimbulkan asap yang lebih banyak.
“Manggala Agni punya alat khusus untuk menembak langsung titik api. Bilai berhasil memadamkam, akan lebih banyak asap yang akan timbul,” terangnya.
Oleh sebab itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa memakai masker. Apalagi asap dari TPA tidak menentu arahnya. Bergantung arah angin. Bahkan dampak asapnya bisa sampai hingga ke wilayah tengah kota.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Sekretariat Pemkot Makassar M Sabri, mengatakan berdasarkan laporan terakhir, camat, lurah dan seluruh OPD turun langsung membagi-bagikan masker untuk warga yang beraktifitas di area Manggala, Tamalanrea, Panakkukang, dan Biringkanaya.
“Selain itu, damkar telah melakukan metode nosel tanam milik Manggala Agni dengan bantuan armada damkar,” ujarnya.
Ia mengatakan, akibat dari proses pemadaman yang tengah berlangsung saat ini, akan timbul asap dengan kepulan yang lebih banyak selama lebih dari 2 hari. “Dua hari ke depan akan lebih banyak asapnya, karena digunakan metode itu,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat mau mengungsi untuk sementara waktu. Untuk pengamanan barang-barangnya, Sabri mengatakan itu menjadi tanggung jawab bersama.
”Kalau seandainya dilakukan pengungsian, harta benda milik warga menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah.
Ia juga mengatakan, saat ini seluruh armada seluruh armada dibawa ke TPA Antang. Untuk itu, ia mengimbau kepada warga untuk mencari jalan alternatif.
“Kalau ada jalan alternatif jangan dulu melewati jalan di depan TPA, karena akan macet,” tandasnya. (rahm-nug/rus)

