pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Psikolog dan Trauma Healing untuk Pengungsi Wamena

MAKASSAR, BKM — Pengungsi gelombang kedua dari Wamena tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Kamis (3/10) pukul 08.30 Wita. Mereka yang berjumlah 83 orang diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.
Kapolda Sulsel Irjen Pol Guntur Laupe dan Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar Laksamana Pertama TNI Dwi Sulaksono, menyambut para pengungsi. Ikut mendampingi pejabat utama Polda Sulsel dan Koops 11 AU.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, mengatakan para pengungsi langsung diberi sarapan pagi oleh kapolda sesaat setelah turun dari pesawat. ”Pengungsi juga diberikan konseling untuk menghilangkan rasa trauma. Psikolog dari Polda kita turunkan,” ujarnya, kemarin.
Dari 83 pengungsi yang tiba di Lanud Hasanuddin, 66 di antaranya berasal dari Pulau Jawa. Setelah transit sejenak, mereka kemudian diterbangkan lagi melanjutkan perjalanan.
”Untuk 17 pengungsi asal Sulsel, ditampung sementara di Asrama Haji Sudiang,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Sulsel juga menurunkan tim gabungan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani para pengungsi Wamena. Di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Tim tersebut mulai bekerja sejak kedatangan pengungsi tahap pertama yang menggunakan pesawat Hercules, Rabu (2/10). Tim tersebut bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing.
Dinas Sosial misalnya, yang memberikan pendampingan kepada para pengungsi hingga ke Asrama Haji Sudiang sebelum mereka bertolak ke kampung halaman masing-masing.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Imran Jausy menjelaskan, pihaknya menurunkan tenaga untuk melakukan pendampingan. Sekaligus membantu para pengungsi jika ada sesuatu yang dibutuhkan.
“Jadi kami turunkan anggota sesuai kebutuhan. Kemarin (Rabu) saat ada pengungsi tiba, kami turunkan cukup banyak. Tapi hari ini (kemarin) hanya tiga orang untuk pendampingan di Asrama Haji Sudiang,” ungkap Imran.
Sejauh ini, tambahnya, Dinsos belum membuka dapur umum di Asrama Haji. Karena pengungsi yang tiba di Makassar, ada yang hanya sekadar transit kemudian melanjutkan penerbangan ke tujuan akhir. Sementara pengungsi asal Sulsel, setelah transit di Asrama Haji Sudiang, rerata langsung dijemput keluarganya. Untuk kebutuhan makan pengungsi, disiapkan makanan jadi berupa nasi bungkus atau nasi kotak.
“Jadi tidak adaji pengungsi yang nginap, sehingga belum perlu membuat dapur umum,” tuturnya.
Dia menambahkan, sebenarnya pihaknya juga menyediakan bus untuk mengangkut para pengungsi ke tujuan masing-masing. Namun hingga saat ini, bus tersebut belum digunakan karena para pengungsi kebanyakan langsung dijemput keluarga masing-masing.
Kepala DPPPA Sulsel Ilham Gazaling, mengatakan pihaknya melakukan pendampingan memberikan pelayanan kepada sejumlah anak-anak yang menjadi korban konflik kemanusiaan di Wamena yang diungsikan ke Sulawesi Selatan.
Merespon cepat kedatangan para pengungsi tersebut, pagi-pagi Ilham mengirim pejabat dan staf ke Lanud Hasanuddin untuk melihat kondisi dan memastikan jumlah anak yang diungsikan.
Mereka yang diturunkan ke lokasi, di antaranya Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak Patriani, Kepala Seksi Kerja Sama dan Informasi UPTPPA Aida, dan Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak Andi Nurseha.
Ketiganya langsung ke lanud untuk memperoleh data akurat terkait jumlah pengungsi secara rinci dan memantau kebutuhan para pengungsi.
“Berdasarkan laporan dari tim yang kita kirim, jumlah anak yang mengungsi sebanyak 18 orang, laki-laki 9 orang dan 9 perempuan. Usia balita 13 orang dan 5 orang berusia di atas 5 tahun. Sebagian dari anak-anak diserahkan kepada keluarganya. Alhamdullilah, semua anak-anak didampingi orang tuanya. Mereka sementara ini butuh istrahat, ” tutur Ilham.
Dinas PPPA fokus pada layanan kebutuhan psikologis dan konseling bagi para pengungsi, khususnya anak-anak. Menurut Ilham, melepaskan anak-anak dari traumatik menjadi pekerjaan sangat penting dan tidak kalah pentingnya memberikan bantuan sandang, pangan, maupun penampungan sementara.
“Kami akan terus mendampingi korban kerusuhan bersama tim layanan UPT P2TP2A dan bidang pemenuhan hak dan perlindungan anak,” tandasnya.

Trauma Healing DPPPA

DPPPA Kota Makassar memberikan trauma healing untuk pengungsi kerusuhan Wamena yang berada di Asrama Haji Sudiang, Kamis (3/10). Kepala DPPPA Makassar Tenri A Palallo mengatakan, terapi yang diberikan jajarannya merupakan bentuk kepedulian pemerintah kota kepada warganya yang kembali merantau dari Papua.
“Kita memiliki kesamaan darah dan suku. Trauma healing ini bentuk perhatian kami untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban kerusuhan di Wamena,” kata Tenri, sapaan akrabnya Rumah P2TP2A.
Tenri menyebutkan, DPPPA telah berkomitmen untuk melakukan pendampingan bagi pengungsi kerusuhan Wamena. Hanya saja, kata dia, banyak keluarga pengungsi yang langsung datang menjemput, sehingga keadaan pengungsi di Asrama Sudiang secara psikologis dianggap masih stabil.
Meski begitu, Tenri tetap memerintahkan shelter Biringkanaya untuk bersiaga apabila sewaktu-waktu pengungsi membutuhkan pendampingan.
“Di sana (Asrama Haji Sudiang) seperti orang naik haji. Suasananya sangat kekeluargaan. Apalagi waktu tiba kemarin, banyak keluarga yang sudah menunggu untuk menjemput pulang ke kampung halaman. Tapi saya tetap minta shelter Biringkanaya untuk turun memantau, apabila sewaktu-waktu ada yang membutuhkan kita,” kunci Tenri. (mat-rhm-nug/rus)




×


Psikolog dan Trauma Healing untuk Pengungsi Wamena

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar