PANIK. Begitulah perasaan perantau yang bermukim di Wamena, Papua pada saat terjadi kerusuhan 23 September lalu. Peristiwa itu pun meninggalkan trauma yang cukup mendalam bagi para penyintas.
Mereka yang beruntung dapat selamat dalam peristiwa berdarah itu memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Salah satunya adalah Tommy asal Padang, Sumatera Barat.
Tommy adalah salah seorang penyintas kerusuhan Wamena. Di kota itu, dia dan perantau asal Padang bekerja pada sebuah rumah makan (RM) di Jalan Pramuka.
Sudah dua hari Tommy berada di Rusunawa A Kompleks Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Tempat ini menjadi penampungan sementara. Bersama penyintas Wamena lainnya, Tommy rencananya akan melanjutkan perjalanan ke Padang.
Tommy mengisahkan, kerusuhan berlangsung pukul 08.30 WIT. Nyaris semua jalan ditutup kala itu. Pelaku membakar bangunan dan mencari para perantau.
Pada saat penyerangan dan razia ke rumah-rumah penduduk berlangsung, dia bersama para perantau lainnya langsung berlarian meninggalkan rumah toko (ruko) tempatnya bekerja dan mencari tempat aman. Beruntung, jarak kantor Polres Jayawijaya dari tempatnya bekerja tidak jauh. Mereka pung akhirnya masuk ke mapolres mencari perlindungan.
“Kami juga kaget, tiba-tiba banyak orang yang berbuat kerusuhan. Sekitar pukul 08.30 pagi mereka datang dan menyerangsecara membabibuta, membakar bangunan, dan melakukan pembacokan. Kami langsung berlarian masuk ke Polres Jayawijaya yang dekat dari kami,” ucapnya.
Setelah berhasil masuk di Polres Jayawijaya, Tommy dan perantau lainnya masih panik. Bagaimana tidak, kelompok perusuh sempat mendatangi dan mengepung kantor polres. Beruntung penjagaan ketat dari personel polisi ekstra ketat, sehingga mereka aman.
Semua perantau dievakuasi masuk ke gedung kantor. Tidak dibiarkan berada di tempat terbuka halaman kantor polisi demi keamanan. Mereka berdiam di dalam dan di masjid area kantor.
Memasuki malam, kota gelap. Jaringan listrik, telepon serta internet mati dan terputus. Hanya kantor Polres Jayawijaya tetap terang karena menggunakan genset.
“Sempat dari dalam kami melihat ada orang yang datang seperti mengepung polres. Tapi penjagaan ketat sekali, sehingga tidak berhasil masuk. Malam itu kota gelap. Listrik mati dan jaringan telepon juga,” terangnya.
Semua keluarga Tommy berada di Padang. Mereka terus berdoa bagaimana dapat segera keluar dari kota yang rusuh tersebut.
“Keluarga semua ada di kampung (Padang). Saya cuma sama teman-teman saja bekerja di tempat makan nasi padang,” jelasnya.
Danny (27), penyintas lainnya menuturkan hal senada. Kata dia, dirinya berada di Mapolres Jayawijaya selama empat hari. Selanjutnya dievakuasi ke AURI. Di sini selama empat hari guna menunggu pesawat yang akan mengangkut.
”Kami di sini (Rusunawa Unismuh Makassar) sudah dua hari. Menunggu jadwal untuk dipulangkan ke kampung. Trauma untuk kembalike sana,” tambahnya.
Sudah 557 Penyintas Tiba
Proses pemulangan para penyintas kerusuhan Wamena terus berlanjut, baik melalui jalur udara menggunakan pesawat Hercules, maupun jalur laut.
Pada Sabtu sore (5/10), sebanyak 370 pengungsi Wamena tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta menggunakan KM Ciremai. Dari jumlah tersebut, sebanyak 205 orang di antaranya merupakan warga Sulsel. Didominasi pengungsi asal Toraja sebanyak 147 orang. Sisanya berasal dari Padang.
Sama halnya pada kedatangan pengungsi Wamena di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, di Pelabuhan Soekarno-Hatta disambut langsung Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bersama Pj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb. Juga Ketua Ikatan Kerukunan Toraja (IKT) Provinsi Papua yang juga anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Fraksi Golkar Jhon Rende Mangontang (JRM).
Nurdin Abdullah mengatakan, pihaknya akan terus memfasilitasi kepulangan pengungsi Wamena ke daerah asal masing-masing.
Ia menyebut, jika tak ada aral melintang, rombongan pengungsi Wamena berikutnya akan datang pada 15 Oktober mendatang.
Nurdin Abdullah mengatakan, sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing, pengungsi asal Sulsel, ditampung di Asrama Haji. Sementara pengungsi dari Minang (Sumatera Barat) ditampung di Asrama Mahasiswa Unismuh.
“Para pengungsi diberi waktu untuk istirahat terlebih dahulu. Beberapa yang dalam kondisi sakit, langsung dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
Gubernur berharap suasana di Wamena bisa kembali kondusif. Apalagi warga perantau memiliki aset di sana. Untuk anak-anak pengungsi yang ingin bersekolah di Sulsel, pemprov memberi jaminan kemudahan.
“Saya sudah menjamin anak-anak pengungsi selama ada di sini, dengan mudah bisa sekolah. Jadi tidak sulit,” ujarnya.
Selanjutnya yang dilakukan adalah penanganan trauma dari peristiwa kerusuhan yang terjadi.
Jhon Rende Mangontang mengatakan, sejak terjadi peristiwa di Wamena, dirinya terus memantau perkembangan dan melakukan koordinasi dengan Pemprov Sulsel.
“Persoalan yang terjadi di Wamena, yang menimpa saudara kita, itu adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama. Apalagi sebagai wakil rakyat dan saya juga sebagai ketua IKT, harus memberikan perhatian kepada mereka,” kata JRM.
Terpisah, Head of Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel Nur Ali Akbar menuturkan, pengungsi Wamena asal Sulsel yang tiba di Pelabuhan Makassar sebagian besar berasal dari Toraja. Jumlahnya 140 orang.
Menurut Nur Ali, pihaknya menyiapkan armada transportasi gratis bagi pengungsi yang ingin pulang ke daerah asal.Namun jika mereka menunggu jemputan keluarga, maka akan ditempatkan di Asrama Haji untuk sementara.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan memberi tanggungan sebesar Rp5 juta hingga Rp10 juta jika diketahui ada anggota keluarga mereka menjadi korban meninggal akibat kerusuhan di Wamena.
Terhitung sebanyak 557 orang pengungsi kerusuhan Wamena tiba di Makassar secara bertahap selama tiga hari. (arf-rhm/rus)

