MAKASSAR, BKM — Syahrul Yasin Limpo kini resmi menjabat Menteri Pertanian (Mentan). Ia dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Rabu (23/10).
Usai pelantikan, mantan gubernur Sulsel dua periode ini langsung mendatangi kantor Kementerian Pertanian (Kementan) di Ragunan. Di tempat ini, SYL disambut ratusan staf.
“Saya baru silaturahmi ke kantor ini. Jumat nanti (besok) baru kita mulai,” katanya kepada BKM di Jakarta, kemarin.
Di depan staf dan media, SYL mengungkapkan visi Kementan untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia. Menurut dia, 360 juta penduduk Indonesia harus terjamin ketersediaan pangannya.
“Negeri ini punya potensi pertanian yang sangat besar. Oleh karenanya pertanian harus menjadi sokoguru bangsa,” katanya. Sebelum menyusun program prioritas, mantan gubernur Sulsel dua periode itu meminta Sekjen Kementan memperbarui data tentang maping potensi pertanian Indonesia. “Tentu daerah satu memiliki potensi yang tidak sama dengan daerah lainnya. Ini semua menjadi dasar dalam penyusunan program. Mudah-mudahan pemetaan berbasis data ini bisa selesai satu hingga tiga bulan ini,” katanya.
Apresiasi NA
Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah memberi apresiasi atas pelantikan SYL selaku Mentan. Ia menilai, Syahrul sosok yang tepat untuk posisi tersebut. Nurdin bersyukur karena mantan bupati Gowa dua periode itu dapat mewakili masyarakat Sulsel di pusat. Dia pun berharap SYL dapat mensupport sektor pertanian di daerah ini.
“Ya, terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya Bapak Presiden. Saya melihat bahwa Pak Syahrul adalah sosok yang tepat untuk menjadi Menteri Pertanian. Saya kira memang, kami masyarakat Sulawesi Selatan bersyukur bahwa Sulsel menjadi salah satu penyanggah pangan nasional, pasti Pak Menteri Pertanian yang baru akan mensupport penuh. Saya yakin, Insyaallah,” kata Nurdim di Hotel Four Point Makassar, kemarin.
Nurdin menambahkan bahwa dengan dilantiknya SYL menjadi Mentan, ke depan Sulsel akan tetap menjadi penyangga pangan nomor satu di Indonesia
“Saya kira beliau telah meletakkan dasar di sektor pertanian. Tentu beliau ingin supaya sustainability Sulsel tetap nomor 1 menjadi penyanggah pangan nasional,” jelas dia.
Khusus komposisi menteri kabinet Jokowi-Ma’aruf sendiri, Nurdin menilai presiden telah memperkirakan nama-nama menteri tersebut jauh hari sebelum mereka dilantik. “Saya kira sudah dipikirkan oleh Bapak Presiden,” tandasnya.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengucapkan selamat kepada para menteri yang baru dilantik.
“Semua menteri itu, semua saya kenal baik. Semua adik-adik saya. Baik yang lama, juga yang baru. Semua saya kenal dengan baik. Dan saya tahu dia punya kemampuan,” ungkapnya.
Dia pun meminta seluruh masyarakat Indonesia memberikan kesempatan kepada kabinet di bawah pimpinan Jokowi untuk bekerja sebaik-baiknya bagi masyarakat.
“Tentu banyak tantangan-tantangannya. Jangan kita menilai dulu. Nanti menilai setelah bekerja lima tahun,” jelasnya.
Sementara bagi mantan menteri yang tidak lagi meneruskan tugasnya, dia juga sampaikan selamat berlibur dulu sambil menanti tugas-tugas baru.
Seperti diketahui, dari seluruh kabinet yang dilantik, ada nama-nama baru yang cukup mendapat perhatian masyarakat.
Salah satunya Nadiem Makarim yang menduduki posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayan, serta Pendidikan Tinggi dan Erick Thohir yang menjadi Menteri BUMN.
JK melihat, terpilihnya Nadiem dan Erick sebenarnya menjadi ujian untuk wakil kalangan muda itu untuk memperlihatkan kemampuannya.
Dia mengatakan, memang dunia usaha dengan bidang birokrasi pemerintahan itu berbeda. Tapi harus dilalui dengan baik melalui pengalaman-pengalaman.
“Di dunia usaha itu, yang penting hasilnya. Prosesnya bisa diubah. Tapi kalau di pemerintahan itu, prosesnya tidak bisa berubah. Tapi, bagaimana menciptakan hasil dengan baik,” kata JK mengingatkan.
Sementara Menteri Agama yang berasal dari kalangan militer, Fahrul Rozi, JK mengatakan kendati berlatar belakang militer, namun yang bersangkutan mengerti soal agama.
“Pak Fahrul Rozi itu paham agama dengan baik. Saya kenal baik waktu di Makassar. Waktu jadi kasdam, dia selalu salat Magrib dengan kami di Masjid Al Markaz dan bisa khutbah. Dia bisa khutbah. Jadi bukan hanya jenderal. Tapi paham agama dengan baik,” tambahnya.
Terkait masuknya Prabowo dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf, JK menegaskan bahwa dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Apa yang terjadi bulan April yang lalu, berbeda dengan Oktober ini kondisinya. Bisa saja jadi kawan. Itu bukan hal baru.
Dia menilai semua yang dipilih Jokowi-Ma’ruf adalah orang-orang baik yang punya kapasitas.
“Bahwa ada perlu penyesuaian-penyesuaian dan pembelajaran lagi, iyya. Nadiem contohnya, tiba-tiba menjadi Menteri Pendidikan. Tentu punya dasar pengetahuan, tapi harus menyesuaikan diri dengan mempelajari lagu hal-hal yang baru. Saya kira teman-teman itu, adik-adik itu banyak yang belajar cepat,” tuturnya.
Bergantung Kemampuan
Presiden Joko Widodo melantik 38 menteri dan setingkat menteri. Lima berasal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tiga dari Partai Golkar, tiga dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tiga dari Partai Nasdem, dua dari Partai Gerindra, dan satu dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selebihnya ada profesional, akademisi, dan unsur lainnya.
Pembentukan kabinet ini dinilai cukup ideal, lantaran mewakili partai, profesional serta geopolitik yang ada. Seperti disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel HM Aras.
Aras yang juga anggota DPR RI ini menyebut susunan kabinet ini sangat proporsional, karena diisi kalangan profesional dan parpol. “Kalaupun yang diusulkan itu dari parpol, juga tetap sesuai dengan bidangnya masing-masing,” ujar Aras.
Kedua, kata dia, presiden menekankan untuk bekerja secara maksimal. Tidak boleh terlibat KKN. Lebih mengedepankan kerja nyata, sehingga optimisme bisa lebih tinggi untuk memaksimalkan kabinet jilid 2.
Ketiga, dalam masa tugas 5 tahun ke depan dibutuhkan kerja sama sesama kementerian agar tidak saling tumpang tindih, sehingga apa yang menjadi visi misi presiden sesuai dengan keinginannya. Karena kementerian tidak memiliki visi misi.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel Andi Idris Manggabarani juga mengungkapkan hal serupa. ”Saya kira 75 persen on the right place. Yang lainnya kita coba liat ke depan bagaimana. Tapi Pak Jokowi pasti punya pertimbangan yang detil kelayakan pembantunya,” ujar IMB, sapaan akrab Idris, Rabu (23/10).
Pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono yang dimintai tanggapannya soal susunan kabinet, menegaskan bahwa semua bergantung pada kemampuan para menteri yang ditunjuk.
Mengenai susunan kabinet Indonesia Maju ini, kuncinya ada di presiden. Ideal atau tidak jalannya para menteri ke depan, bergantung dari kemampuannya masing-masing untuk menerjemahkan konsep presiden tentang Indonesia Maju itu ke dalam tataran yang lebih operasional.
“Kalau target-target kementrian bisa relatif banyak tercapai ke depan, maka itu bisa kita katakan ideal. Tapi kalau kebanyakan target meleset, ya berarti tidak ideal,” ujar Arief.
Menurutnya, presiden tinggal menggantinya dengan mekanisme reshuffle kabinet. Kalau komposisi kabinet saat ini dilihat, tentu itu yang cukup ideal bagi presiden, berdasarkan data dan informasi yang presiden miliki tentang para pembantunya.
Lumrah Jadi Oposisi
Kader dari tiga partai politik tidak masuk dalam kabinet Indonesia Maju. Masing-masing Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulsel Ni’matullah Erbe, mengaku tidak ada masalah dengan tidak adanya kader dari partai berlambang bintang mercy ini di kabinet. “Biasa saja. Itu haknya presiden memilih pembantunya,” ujar Ulla, panggilan akrab wakil ketua DPRD Sulsel ini, Rabu (23/10).
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sulsel Ashabul Kahfi hanya tersenyum ketika mendapat pertanyaan dari koran ini. Meski demikian, Wakil Ketua DPW PAN Sulsel Usman Lonta mengatakan, tidak masuknya kader partai berlambang matahari terbit ini dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf tidak jadi masalah.
“Alhamdulillah, karena PAN ingin di luar pemerintahan untuk melakukan koreksi terhadap kekuasaan, ketika ada kebijakan negara yang tidak memihak kepada masyarakat. Jadi hal ini lumrah saja. Pernah dilakukan oleh PDIP ketika SBY presiden,” ujar Usman Lonta.
Ketua DPW PKS Sulsel Surya Dharma mengemukakan bahwa tidak adanya kader PKS masuk kabinet, karena jauh-jauh hari PKS sudah menempatkan dirinya sebagai oposisi terhadap pemerintah.
“Insyaallah PKS akan tampil sebagai oposisi yang kritis dan konstruktif. Demi sehatnya demokrasi, Indonesia butuh oposisi. Semoga negeri ini bisa berakselerasi lebih cepat untuk meraih kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya,” jelas Surya Dharma.
Wakil Ketua DPW PKS Sulsel Sri Rahmi menambahkan bahwa yang aneh itu kalau ada kader PKS di kabinet Jokowi. “Presiden PKS sudah menegaskan bahwa PKS oposisi konstruktif,” tandasnya. (rif)
Kabinet Indonesia Maju 2019-2024
1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan: Mahfud Md
2. Menteri Koordinator Perekonomian: Airlangga Hartarto
3. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi: Luhut B Pandjaitan
4. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhadjir Effendy
5. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
6. Menteri Dalam Negeri: Muhammad Tito Karnavian
7. Menteri Luar Negeri: Retno LP Marsudi
8. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto
9. Menteri Hukum dan HAM: Yasonna Laoly
10. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
11. Menteri ESDM: Arifin Tasrif
12. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita
13. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto
14. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo
15. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya Bakar
16. Menteri Perhubungan: Budi Karya Sumadi
17. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo
18. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziyah
19. Menteri Desa dan PDTT: Abdul Halim Iskandar
20. Menteri PUPR: Basuki Hadimuljono
21. Menteri Kesehatan: dr Terawan
22. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim
23. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro
24. Menteri Sosial: Juliari Batubara
25. Menteri Agama: Fachrul Razi
26. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama
27. Menkominfo: Johnny G Plate
28. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki
29. Menteri PPPA: Gusti Ayu Bintang Darmavati
30. MenPAN-RB: Tjahjo Kumolo
31. Menteri PPN/Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa
32. Menteri ATR/Kepala BPN: Sofyan Djalil
33. Menteri BUMN: Erick Thohir
34. Menpora: Zainudin Amali
Jaksa Agung: ST Burhanuddin
Sekretaris Kabinet: Pramono Anung
Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko
Kepala BKPM: Bahlil Lahadalia
Mereka tak lagi menteri
-Amran Sulaiman
-Arief Yahya
-Darmin Nasution
-Enggartiasto Lukita
-Eko Putro
-Hanif Dhakiri
-Ignasius Jonan
-M Prasetyo
-M Nasir
-Nina Moeloek
-Lukman Hakim Saifuddin
-Rini Soemarno
-Rudiantara
-Ryamizard Ryacudu
-Susi Pudjiastuti
-Syafruddin
-Wiranto
-Yohana Yembise

