pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berdiri di Atas Bekas Saukang dan Belum Diberi Nama

Masih Tentang Masjid Megah di Tengah Hutan

GOWA, BKM — Cerita tentang masjid megah yang berada di tengah hutan Dusun Langkowa, Desa Bontoloe, Kecamatan Bontolempangang, Kabupaten Gowa terus bermunculan. Setelah viral usai diunggah di media sosial, keberadaan tempat ibadah tersebut kian ramai dibicarakan.
Masjid yang terletak di tengah kebun kopi itu ternyata punya cerita tersendiri di awal-awal pembangunannya. Konon, sebelum lahan dibanguni masjid oleh pengusaha kopi dan hotel tersebut, tanah tempat berdirinya dikenal sebagai saukang. Bahasa Makassar itu, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia yakni tempat yang dikeramatkan dan jadi tempat berhala.
Penjelasan itu disampaikan masyarakat, ketika banyak warganet yang telah menyaksikan video unggahan, mempertanyakan alasan Puang membangun masjid megah nan cantik itu. Pengusaha asal Bugis itu merupakan pemilik 30 hektare kebun kopi, yang sebagian di antaranya dibanguni masjid.
Sekretaris Desa (Sekdes) Bontoloe Lahuddin La’lang, membenarkan informasi warga itu. Dihubungi Senin (25/11), Lahuddin menjelaskan bahwa masjid itu dibangun sejak delapan tahun lalu, atau sekitar 2011 silam. Lokasinya berjarak 1 km dari permukiman warga Langkowa.
Puang yang merupakan pengusaha kaya itu ternyata bernama H Busli Saraka. Usianya kira-kira 80 tahun. Ia disebutkan memiliki banyak usaha. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri.
“Yang saya tahu, beliau itu (Puang Busli Saraka) berasal dari Sengkang (Kabupaten Wajo). Beliau membangun masjid untuk menghilangkan kebiasaan buruk masyarakat dulu yang suka memberikan sesaji di lokasi masjid itu,” terang Lahuddin.
Dulunya, lanjut Lahuddin, ada batu besar di bukit itu yang dijadikan berhala oleh penduduk kampung. Kemudian, ketika lokasi tersebut dibeli Puang Busli, tempat berhala itu kemudian dibongkar. Batu besar yang kerap jadi media penyembahan dihancurkan. Selanjutnya, pecahan bongkahannya dijadikan sebagai batu pondasi masjid.
”Yang bongkar batu besar itu didatangkan Puang Busli dari luar Sulsel. Katanya dari Papua. Kemudian masjid itu mulai dibangun. Pekerjanya juga didatangkan Puang dari luar Gowa dan Sulsel,” beber Lahuddin.
Saat ini, masjid cantik yang mulai disebut warganet di medsos sebagai ‘surga Langkowa’ telah berdiri kokoh. Namun belum bisa dipergunakan untuk menunaikan ibadah salat sehari-hari. Karena pembangunannya belum sepenuhnya rampung.
Memang, jika dilihat sepintas, dari luar masjid ini sudah selesai. Mulai dari kubah, badan masjid, lantai, hingga pagarnya tampak telah rampung. Sebanyak sembilan kubahnya tampak berkilau, karena dicat berwarna keemasan.
Menurut Lahuddin, masjid itu dipakai oleh pekerja kebun cengkeh Puang Busli Saraka dan penduduk Langkowa. Karena terbilang jauh dari permukiman, masjid ini belum pernah dipakai untuk salat Jumat.
”Mungkin hanya dipakai untuk para pekerja kebun, supaya kalau masuk waktu salat mereka tidak mesti pulang ke rumah yang berjarak 1 kilo. Akses jalan menuju masjid sudah bagus. Memang, ada sebagian jalanan masih batu-batu. Tapi sebagian lagi sudah ada yang diaspal dan dibeton,” jelas Lahuddin lagi.
Diakui bahwa luasan kebun kopi H Busli Saraka mencapai puluhan hektare. Yang dijadikan untuk lahan masjid ada dalam 1 hektare kebun kopi miliknya. Sementara lahannya yang lain, tempatnya terpisah-pisah.
Busli Saraka tidak tercatat sebagai warga Langkowa, sebab ia jarang berada di kampung itu. Dirinya hanya datang sesekali untuk melihat kondisi perkebunannya. Itu pun jika ia hendak ke Timika atau Papua.
Yang unik dari masjid ini, karena sampai sekarang belum punya nama. “Saya juga belum tahu apa namanya itu masjid,” imbuh Lahuddin.
Sejak keberadaan masjid viral di medsos, ada beragam komentar yang mengalir dari warganet. Ada yang takjub melihat sebuah masjid berada di tengah hutan. Ada pula yang malah menduga-duga bahwa masjid itu sengaja dibangun di lokasi tersembunyi untuk keperluan tertentu.
Seorang lelaki melalui akun Rizal Busli kemudian memberikan klarifikasi. Pria ini mengaku sebagai putra H Busli Saraka.
“Masjid ini dibangun ayah saya di dalam kebun kopi (masjid terbuka untuk umum). Di tempat berdirinya masjid itu dulunya ada batu yang sangat besar. Seringkali ditemukan semacam persembahan atau sesajen di batu tersebut maupun di sekitarnya. Karena itu ayah saya mencari orang untuk menghancurkan batu tersebut. Penduduk sekitar tidak ada yang mau, karena batu tersebut dianggap keramat. Lalu ayah saya kemudian membawa pekerja dari Papua untuk menghancurkan batu itu, dan tukang-tukang dari Jawa Barat untuk menggunakan batu-batu tersebut sebagai pondasi masjid. Masjid itu belum selesai seutuhnya. Di bawahnya akan ada ruangan untuk tempat tinggal guru mengaji untuk anak-anak/penduduk sekitar. Miris saya menbaca komen-komen miring seakan-akan masjid itu tersembunyi karena dipakai oleh Islam radikal atau niat tidak baik. Percayalah, masjid itu berdiri atas niat yang sangat baik. Wassalam Rusli Busli,” tulisnya. (sar/rus)




×


Berdiri di Atas Bekas Saukang dan Belum Diberi Nama

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar