PAKAR Geologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr Adi Maulana, mengatakan potensi terbentuknya gas dan minyak bumi di Kabupaten Gowa, khususnya wilayah Kecamatan Pattalassang tidak memungkinkan terjadi. Hal itu terlihat dari sejarah terbentuknya bebatuan yang ada di kawasan tersebut.
“Dari segi geologi, Pattallassang itu agak sulit terbentuk bebatuan yang berpotensial untuk ada minyaknya. Cuma, kemungkinan besar kalau memang itu betul ada sudutan api (di bekas galian sumur bor), itu gas yang terjebak dalam pori-pori batuan. Karena di Pattallassang itu, seperti yang kita ketahui di sana itu lebih banyak batuan-batuan dari hasil gunung api,” ungkapnya saat dihubungi, Minggu (19/1). Sehingga, lanjutnya, apa yang terjadi di area penggalian sumur Pattalasang bukanlah minyak atau gas yang menghasilkan hidrokarbon. “Jadi bukan seperti (Pattalasang) yang banyak potensi hidrokarbon,” imbuhnya.
Guna memastikan kebenaran informasi tersebut, dirinya akan melakukan pengecekan langsung di lokasi. Sekaligus untuk membuktikan bahwa itu bukannya hal yang berbahaya.
“Mungkin tim dari Unhas akan ke lapangan mengecek. Tapi khusus di Gowa sendiri, apalagi di Pattallassang, kalau kita pelajari dari geologinya di situ tidak ada potensi minyak sebenarnya. Jadi ini sifatnya hanya sementara. Makanya, dampaknya pun tidak terlalu besar. Kemudian terjebak di areal tersebut sehingga tidak seperti, yang katakanlah seperti Lapindo, ataupun lapangan-lapangan minyak lainnya,” bebernya.
Masyarakat pun, menurutnya, tidak perlu khawatir dengan adanya kejadian tersebut. Meski begitu, dia tetap mengimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang bisa menyemburkan api. Khususnya pada radius 50 meter.
”Kenapa? Karena memang sifatnya gas hidrokarbin. Artinya, bahan organik yang kemudian bahan bakar seperti itu sangat reaktif ketika ada sumber panas seperti api,” tuturnya
Ia menyebut situasi yang ada saat ini tidak berbahaya, sepanjang warga tidak bermain pada sumbernya. Tidak menyalakan api di sekitarnya. ”Itu masih dalam taraf yang aman, karena sifatnya hanya setempat-setempat saja,” imbuhnya.
Jika melihat dari sejarah sejarah bebatuan yang ada di Gowa, lanjutnya, tidak ditemukan tanda-tanda adanya terbentuk gas dan minyak dari dasar bawah tanah.
“Kalau kita lihat sejarahnya, di Pattallassang itu tidak ada. Karena dari sisi sisi geologi dan tata batuannya itu tidak memungkinkan adanya terbentuk potensi hidrokarbon, dalam hal ini minyak dan gas bumi karena memang dulu yaitu daerah-daerah vulkanik,” jelasnya.
Salah satu buktinya, masih ada arti gunung api Bawakaraeng dan Lompobattang. Sementara untuk minyak atau hidrokarbon, potensinya di daerah cekungan sedimen, seperti yang ada di Kalimantan, serta bagian utara Jawa,” tandasnya. (ita/rus)
Pakar Geologi: Gas yang Terjebak di Bebatuan
×

