pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dua Bulan, PCC Rawat 786 Pasien Jantung

MAKASSAR, BKM — Angka penderita penyakit jantung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Instalasi Pusat Cardiac Center (PCC) yang berada di bawah naungan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar mencatat dalam rentang waktu kurang lebih dua bulan di tahun 2020, sudah ada 786 pasien yang menjalani rawat jalan.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP Wahidin dr Zulvinah Santy, menjelaskan jumlah pasien yang dirawat di pusat jantung terpadu lebih banyak menjalani rawat jalan dibanding rawat inap, yang jumlahnya di angka 106 pasien. Mereka didominasi usia dewasa dan lanjut usia. Sementara yang dirawat inap di tahun 2019 tercatat sebanyak 3.301 pasien.
“Pasien yang dirawat didominasi karena menderita jantung koroner. Dari hasil rekap kami untuk bulan Januari masuk Februari 2020, totalnya ada 786 pasien. Tapi ini masih angka sementara,” jelas dr Zulvinah Santy.
Melihat tingginya jumlah pasien jantung, tidak heran jika ini menjadi penyakit mematikan nomor satu. “Penyakit jantung memang tingkat prevelensi paling tinggi saat ini. Karena sifatnya penyakit yang tidak bisa diprediksi. Kadang-kadang kita tidak tahu hari ini sehat, besok kita tidak tahu ada yang meninggal tiba-tiba dan dideteksi karena penyakit jantung,” terangnya.
Sebab, lanjutnya, penyakit jantung tidak sama dengan jenis penyakit yang disebabkan infeksi atau virus. Penderitanya pun tidak bisa diprediksi. Karenanya, sangat penting untuk memeriksakan kondisi kesehatan jantung seseorang.
Ditemui terpisah, dr Andiyani Wanita dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, mengatakan penyakit jantung bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Kematian mendadak akibat sakit jantung memiliki faktor risiko. Sebab kerja jantung termasuk unik dibanding organ lainnya. Untuk berfungsi maksimal, otot jantung membutuhkan asupan nutrisi dan oksigen melalui aliran darah.
“Jadi sifatnya jantung akan bekerja berdasarkan rangsangan elektrik, yang mana rangsangan tersebut berasal dari jantung itu sendiri. Jantung memiliki risiko yang bisa diubah dan tidak. Yang tidak bisa diubah adalah dari segi usia dan jenis kelamin. Yang bisa diubah itu seperti gaya hidup, kelebihan berat badan, merokok, hingga kolesterol. Jantung ini kerjanya tidak bisa diprediksi, kecuali melakukan pemeriksaan,”’ jelas dr Andiyani, Senin (24/2).
Secara ilmiah, kata dr Andiyani, lelaki cenderung berisiko penyakit jantung dibanding perempuan. Angka kejadian penyakit jantung koroner pada pria dibandingkan wanita sebesar 3:1. Pria di usia antara 25-40 tahun sangat rentan terserang penyakit ini.
“Kalau perempuan ini sedikit dilindungi dari penyakit jantung karena faktor hormonalnya. Biasanya perempuan akan terkena setelah masa menopause, di usia 50 tahun ke atas. Tingkat stress pria dan wanita juga berbeda. Kondisi itu memengaruhi cara kerja otak ke jantung,” terangnya.
Selain itu, otot jantung akan mati dan kerja jantung menjadi menurun hingga terjadi gagal jantung, bisa jadi dipengaruhi oleh neurotransmiter, seperti epinefrin dan asetilkolin. Neurotransmiter ini nantinya akan mengatur irama kerja jantung, apakah mempercepat atau memperlambat.
“Kita harus sesuaikan aktivitas detak jantung kita sendiri. Jangan melakukan olahraga berlebihan di saat kondisi tumbuh lagi capek, kelehan dan kurang tidur. Itu tidak baik untuk kesehatan. Terlebih lagi jika sehabis olahraga berat, di mana kerja jantung yang dipompa tanpa diimbangi dengan pendinginan, itu salah,” tegasnya.
Spesialis Kardiologi Unhas dr Amudai SpPD,SpJP menerangkan, serangan jantung seringkali terjadi mendadak saat seseorang sedang bersantai ataupun berolahraga. Sehingga sangat perlu mengetahui denyut jantung dewasa yang normalnya berkisar 60-100 kali per menit.
“Yang perlu kita ketahui, mengapa seseorang bisa terkena serangan jantung. Itu karena terhentinya atau berkurangnya secara signifikan pasokan darah ke otot jantung secara mendadak. Ini bisa terjadi 1 menit hingga 1 jam setelah terjadi simptom namanya,” tuturnya.
Dijelaskan dr Amudai, serangan jantung dan kelainan jantung adalah jenis penyakit berbeda. Sehingga sangat perlu seseorang menjaga kesehatan dengan olahraga minimal 30 menit dengan kondisi prima, menjaga asupan makanan, dan gaya hidup sehat.
“Kelainan jantung mungkin sudah diketahui, namun pada serangan jantung, seseorang tidak tahu waktu dan cara kematiannya yang tidak bisa diprediksi. Saran saya harus olahraga yang cukup, dan pastikan badan dalam kondisi sehat. Pola makan harus teratur dan tidak stress. Istirahat yang cukup,” imbuhnya. (ita)



×


Dua Bulan, PCC Rawat 786 Pasien Jantung

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar