KEPEDULIAN terhadap sesama untuk menolong terus terpupuk di tengah pandemi covid-19. Satu persatu dermawan bermunculan. Mereka membantu sesuai kemampuan serta keahlian masing-masing.
DI saat wabah yang diakibatkan virus corona terus menyebar, masker menjadi barang langka. Tak terkecuali di Kabupaten Sidrap. Dua pengusaha di daerah ini pun turun tangan. Mereka membagi-bagikan ribuan pelindung wajah tersebut secara gratis.
Wahyu Kandacong misalnya. Ia salah satu putra Sidrap yang sukses melakoni usaha bisnis kayu di Jakarta. Dirinya turut terpanggil untuk memberi sumbangsih bagi daerahnya.
Pengusaha berusia 28 tahun itu mengirim 15 ribu masker berstandar kesehatan WHO bagi masyarakat. Terkhusus para petugas maupun relawan penanganan covid-19 di Kabupaten Sidrap.
Bantuan tersebut diserahkan kepada Bupati Sidrap H Dollah Mando, Selasa (7/4). Turut disaksikan Kapolres Sidrap AKBP Leonardo Panji Wahyudi dan Kajari Sidrap Djasmaniar.
Wahyu diwakili oleh ayahnya H Kandacong Mappile untuk penyerahan bantuan. Kandacong sendiri merupakan Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap.
Bupati Dollah Mando menyampaikan apresiasi yang tinggi atas bantuan masker tersebut. Ia menyatakan salut kepada pengusaha muda tersebut, yang selalu ingat dan peduli pada kampung halamannya.
“Terima kasih, bantuan ini sangat dibutuhkan dalam penanganan covid-19 di Kabupaten Sidrap,” ujar Dollah Mando.
Wahyu yang dihubungi melalui aplikasi pesan singkat menyampaikan harapan agar bantuan tersebut bisa dipergunakan dan dimanfaatkan guna meminimalisir penyebaran virus corona di tanah kelahirannya.
Direktur PT Whyka Ekspres Logistik (WEL) itu juga mengajak seluruh masyarakat Sidrap untuk mengikuti protokol pencegahan penyebaran covid-19 yang ditetapkan pemerintah.
“Jaga jarak dan selalu di rumah, hanya 14 hari. Jika kita disiplin akan sangat membantu pemerintah untuk mengendalikan dan bisa memutus mata rantai penyebaran COVID 19,” tulis Wahyu.
Sementara Kandacong Mappile mengutarakan, bantuan tersebut akan didistribusikan ke para petugas medis dan pelaksana di lapangan. Di antaranya Dinas Kesehatan, Polres, Kodim 1420 dan beberapa instansi terkait lainnya.
Hal serupa juga dilakukan Syarmila, pengusaha konveksi kaos di daerah ini. Meski usahanya terbilang tidak sesukses pengusaha konveksi lainnya, ia ikhlas menyisihkan rezekinya untuk membuat ribuan masker bersandar WHO.
Wanita berusia 32 tahun ini terus memproduksi ratusan masker gratis setiap harinya. Caranya, ia tak membagikannya secara simbolis, melainkan memanfaatkan relasi, kerabat dan kenalannya.
Ibu dua anak ini berencana akan menyumbangkan 3.000 buah masker secara gratis. Hanya saja, keterbatasan tenaga penjahitnya membuat produksi masker miliknya tidak sekaligus.
Mila, sapaan akrabnya, mengaku sejak sepekan terakhir ini sudah membagikan seribuan lebih masker kepada karyawan pabrik, pegawai dan kantor, guru serta tenaga medis yang membutuhkan.
Dalam sehari, pemilik usaha Konveksi 38 Desain ini mampu memproduksi 100 buah saja. Itu ia lakukan sendiri, karena dua orang karyawan yang semula dipekerjakan memilih merumahkan diri karena penerapan imbauan pemerintah untuk berada di rumah. Sesekali, ia dibantu dua orang buah hatinya yang lagi libur sekolah untuk proses pembuatannya.
Mila juga mengaku, untuk memenuhi permintaan kebutuhan masker gratis itu, pesanan jahitan kaos dan baju olahraga lainnya terpaksa dia kesampingkan.
“Saya sangat kewalahan saat ini dan butuh relawan untuk membantu membuat masker. Hampir setiap hari ada permintaan seratusan masker. Semua itu saya tidak minta sepersen pun dan gratis,” ucap Syarmila
Dijelaskan Mila, usaha konveksi jahit pakaian miliknya dirintis seorang diri. Namun, niatnya membuat masker gratis ini terinspirasi setelah masker langka di Sidrap. Ditambah adanya warga di daerah ini yang dinyatakan positif covid-19.
Untuk pembagian ribuan masker gratis yang dilakukannya, Mila enggan merincikan besaran biaya produksi yang dikeluarkannya. Yang jelas, katanya, ia menyisihkan rezeki yang dikumpulkan selama ini untuk membeli bahan, seperti kain. Karena di rumahnya sudah ada tiga unit mesin jahit modern.
“Untuk produksi murni modal dari saya sendiri tanpa dibantu orang lain. Saya jamin dan garansi produksi masker saya ini karena sudah standar kesehatan WHO. Untuk syarat sterilisasi masker saya dapatkan dari internet,” bebernya.
Sebelum ia bagikan, proses produksi sudah melalui beberapa tahapan. Seperti, kain dicuci bersih beberapa kali, lalu dsterilkan dengan setrika panas. Setelah pengguntingan, bahan kemudian dijahit dengan metode berlapis.
Usai rampung prosesnya, kemudian setiap masker kembali dicuci dan dikeringkan setelah disetrika kembali.
“Sebelum proses terakhir yakni membunkus, masker diberikan kembali disterilisasi dan diberi pewangi. Pokonya semua sudah standar steril baru dibagikan ke orang yang membutuhkan,” imbuhnya.
Keinginan Mila membagikan ribuan masker gratis ini, tidak lain karena kepeduliannya terhadap maraknya wabah ini. Apa yang dilakukannya didukung penuh oleh kedua orangtuanya.
Di akhir perbincangan, Mila meminta warga ataupun koleganya yang membutuhkan masker gratis, bisa mendatangi tempat usahanya di kompleks BTN Griya Batulappa Arawa, Blok C4 nomor 2, Kelurahan Batulappa, Kecamatan Watangpulu atau samping selatan Masjid Al Faiz Malikal. (ady/b)

