MAKASSAR, BKM–Ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako) di Sulsel dijamin aman selama bulan suci ramadan hingga menjelang lebaran idul fitri nanti. Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, bahkan memastikan Ketersediaan sembako tidak terganggu oleh wabah covid-19.
“Pagi ini (kemarin-red) kita rapat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan tim PKAD. Kita semua sudah melakukan penataan daerah masing-masing terutama dalam rangka ketersediaan sembako di bulan suci ramadan dan hari raya idul fitri,” ungkap Nurdin Abdullah, Rabu (29/4).
Melalui video conference (Vicon) dengan seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan bupati, wali kota se-Sulsel, Nurdin berharap semua pasokan tersedia sampai di tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Kita pastikan bahwa pasokan sembilan bahan pokok itu betul-betul tersedia mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan. Tadi kita sudah sepakat,” tegas gubernur.
NA sapaan akrab gubernur menambahkan, Pemprov Sulsel, Polda Sulsel, Pangdam, Kejati dan seluruh Forkopimda, sama-sama melakukan pengawasan semua bahan pokok agar tidak ada penimbunan.”Kita bersama-sama dengan forkopimda, pak kapolda, pak kajati, pak pangdam melakukan pengawasan supaya betul-betul kita pastikan bahwa tidak ada penimbunan, karena ini juga salah satu pemicu kelangkaan bahan pokok,” ujarnya.
Nurdin Abdullah juga meminta, masyarakat jangan berani bermain -main dengan kebutuhan pokok masyarakat, karena pihaknya akan mengawasi secara ketat.
“Kalau ada yang mulai bermain-main soal itu. Saya kira beberapa hal sudah kita putuskan bersama-sama dan tentu saya berharap kita berkomitmen untuk menjalankan,” tegasnya.
Soal inflasi di Sulsel saat ini pun dikatakan Nurdin masih dalam keadaan stabil. Kecuali di Kabupaten Bone dan Bulukumba.
“Terkait inflasi, jadi Sulsel itu masih dalam kondisi stabil kecuali Bone dan Bulukumba. Dia diinflasi cukup tinggi tapi secara keseluruhan Sulsel itu masih di bawah nasional,” ungkap Nurdin.
Sementara untuk Kota Makassar diakuinya mengalami deflasi harga-harga, terutama harga ayam potong.
“Khusus Makassar memang terjadi deflasi terutama pemicunya ayam. Kenapa ayam? Karena restoran semua pada tutup, restoran kan paling banyak mengkonsumsi ayam,” pungkasnya.
Sementara untuk harga salah satu komiditi di Sulsel, jagung, harga masih berkisar Rp 3.150 di pusat, sementara di tingkat petani hanya Rp1.500. Menurutnya, permasalahan harga ini ternyata ada di para pengumpul dan pedagang yang mempermainkan harga jagung para petani.
“Jagung ini ada permainan di tingkat pedagang, pengumpul,” ungkap Nurdin.
Ia menegaskan agar pihak terkait melakukan reaktualisasi soal harga jagung di tingkat petani.
“Makanya kalau ini dia tidak segera melakukan reaktualisasi, terutama harga di tingkat petani, kita ambil alih nanti,” tegasnya.
Menurutnya, masalah serupa sering terjadi dari tahun-ke tahun dan ironisnya harga anjlok di saat petani melakukan panen, sementara saat penanaman harga justru naik tinggi.
“Saya yakin itu kita akan ambil alih. Kenapa? Karena sudah sekian lama petani tetap menderita ketika panen raya harganya pada jatuh,” ungkapnya.
Sebelumnya, kata Nurdin Abdullah, ia sudah mendapatkan informasi dari PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk bahwa harga masih Rp3.150 dan tidak ada perubahan harga.
“Kemarin saya sudah undang pimpinan cabang Pokphand. Mereka katakan kita tidak pernah membeli jagung di bawah Rp3.150. Oleh karena itu, mungkin kita akan ada di antara petani dan industri,” pungkasnya.
Di tempat terpisah, Penjabat Wali Kota Makassar, M Iqbal Suhaeb, mengatakan, kondisi perekonomian di Kota Makassar di masa pandemi covid-19 cenderung mengalami penurunan inflasi bahkan cenderung mengalami deflasi. Hal ini dikarenakan rendahnya permintaan akan barang.
Harga beberapa kebutuhan pangan, kata Iqbal, mengalami penurunan seperti ikan, maupun sayur mayur.
“Penurunan harga ikan dan beberapa harga pangan lainnya dikarenakan permintaan dari restoran juga mengalami penurunan,” ujarnya.
Sementara untuk harga beras terbilang stabil, beberapa mengalami kenaikan seperti harga beras kepala dari Rp 10.000,00/Kg meningkat menjadi Rp 11.500,00/Kg, namun beras medium mengalami penurunan dari harga Rp 9.000,00 menjadi Rp 8.800,00/Kg.
Hal yang saat ini cukup terbatas di pasaran yakni gula pasir, khususnya gula kemasan sehingga konsumen lebih banyak memburu gula curah.
Sementara untuk harga daging juga mengalami kenaikan, namun harga daging ayam mengalami penurunan. Demikian pula untuk harga telur, telur ayam ras mengalami kenaikan sedangkan telur ayam kampung mengalami penurunan.
Selain itu, Makassar juga telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan penyedia jasa belanja online untuk memudahkan masyarakat berbelanja berbagai kebutuhan pangan secara online, cashless, maupun cash on delivery di pasar – pasar tradisional.
“Berbelanja melalui aplikasi online yang telah disiapkan di pasar – pasar tradisional di kota Makassar, memudahkan masyarakat di masa PSBB dengan harga yang terbilang stabil,” tutupnya. (rhm-nug)

