MAKASSAR, BKM — Satu lagi pemuda asal Sulsel yang mengukir prestasi di kancah nasional. Muhammad Reski Ismail terpilih sebagai perwakilan Indonesia timur pada ajang national forum yang dilaksanakan oleh International Republican Institute (IRI).
IRI didirikan di Amerika Serikat. Konsen memajukan kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia, dengan membantu partai politik serta warga negara untuk berpartisipasi dalam perencanaan pemerintah. Termasuk perempuan dan pemuda.
Sebagai pemuda, Reski sangat tertarik untuk mengikuti forum tersebut. Pria kelahiran Bulukumba, 9 Juni 1994 ini menjadi salah satu dari 50 peserta yang mendapatkan kesempatan dan mengikuti seleksi program Emerging Leaders Academy (ELA). Yang terpilih Indonesia timur sebanyak 15 peserta. Reski satu di antaranya.
“Sebenarnya suka belajar dan tambah-tambah ilmu. Apalagi temanya politik pemerintahan. Nah, kebetulan kemarin ada undangannya (Forum IRI) dan ada teman yang ajak, jadi saya juga yang direkomendasikan untuk ikut. Ini di luar dari kegiatan kampus. Sebenarnya belum ada komunikasi langsung dan saya ikut atas nama pribadi. Seleksinya ada tiga untuk regional, hingga bisa ikut ke tingkat nasional. Pesertanya ada dari kalangan pemuda, utusan parpol, anggota DPR dan DPRD. Kebetulan saya daftar dari utusan parpol,” terangnya dalam wawancara dengan BKM, Selasa (16/6).
Anak pertama dari empat bersaudara ini telah menyelesaikan studi strata satunya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Kini tengah menempuh kuliah di jenjang strata dua.
Reski mengakui, sebelumnya ia juga pernah mengikuti beberapa kegiatan forum. Seperti kelas politik cerdas berintegrasi yang diadakan KPK.
Melalui Forum IRI, Reski akan berdiskusi dengan kepala daerah dan jejaring pemuda nasional. Hal ini membuatnya begitu bersemangat.
“Kemarin saya juga ikut Forum KPK. Ya, mirip-mirip kegiatannya dengan ini. Kemarin yang diundang adalah komunitas. Termasuk lembaga, serta utusan parpol yang konsen pada demokrasi parpol. Indonesia timur yang jadi perwakilan ada 15 peserta. Sulsel sendiri ada lima orang perwakilan yang sampai ke tahap ketiga ini. Masing-masing dari Sinjai, Maros, Gowa, dan Bulukumba,” terangnya.
Setelah melalui ELA 1 dan, 2 peserta akan memasuki tahap akhir guna melangkah ke forum nasional. Di sana ada tahap orientasi. Ada pula pembahasan mengenai mitigasi pandemi covid-19 oleh kepala daerah yang dianggap berhasil melakukan mitigasi bencana nonalam. Termasuk tahapan yang membahas peran tantangan demokrasi Indonesia dan internal party reform.
“Tahap per tahap kita diajak diskusi terkait masterplan untuk membangun demokrasi ke depannya. Gagasan-gagasan kita seperti apa. Saya mencoba menawarkan konsep reformasi partai politik, yang fenomenanya partai sekarang lebih banyak diisi oleh kalangan elit. Jadi kita masyarakat, orang di bawah takut untuk bersentuhan langsung dengan partai politik karena itu. Padahal sebenarnya partai politik adalah pilar-pilar demokrasi kita. Semua lahir dari situ,” jelasnya.
“Jika orang tidak mau terlibat dan berproses di partai politik itu, kita bisa juga terlibat dalam dalam upaya hadirnya kebijakan-kebijakan yang pro terhadap rakyat. Bila partai akan dikuasai oleh elit atau orang kaya saja atau pengusaha, maka saya mengajak pemuda untuk hadir dan diberikan kesempatan terlibat dalam demokrasi parpol,” tambahnya.
Reski sendiri terlahir dari keluarga sederhana. Ismail, bapaknya adalah seorang wiraswasta. Sementara ibunya, Linda seorang ibu rumah tangga. Dukungan keluarga yang didapatkannya, membuat Ismail tak gentar untuk maju ke forum tersebut. Ia bahkan sudah memiliki kerangka dan konsep untuk mengubah gaya demokrasi parpol saat ini agar memberi ruang kepada para pemuda.
“Pertama, kita harus membuat partai politik ini seperti organisasi-organisasi yang bisa hidup dan ada di tengah masyarakat. Karena kan paradigma masyarakat, kalau kita bilang parpol, pasti politis dan pragmatis. Padahal sebenarnya itu parpol bisa hadir sebagai lembaga kemanusiaan yang membuat kegiatan seperti bakti sosial, memberdayakan pemuda. Hal seperti itu yang harus dihidupkan,” terangnya.
Di mata Ismail, parpol merupakan lembaga yang sama dengan organisasi lainnya, yang punya satu orientasi yang spesifik, yaitu terlibat dalam banyak kebijakan dengan melibatkan pemuda yang menjadi ujung tombak di parpol.
“Karena itu, pemuda harus jadi penggerak. Itu konsepnya yang nanti saya bawa ke daerah, bahwa demokrasi parpol yang sebenarnya lebih asik dan tidak kaku,” ucapnya.
“Jadi nanti kita ada pendampingan. Termasuk ke media untuk menawarkan konsep ini dan mensosialisasikannya. Termasuk ke partai politik juga sebagai lanjutannya,” terangnya lagi.
Mereka yang terbaik dalam forum ini nantinya, lanjut Reski, akan menjadi perwakilan dari Indonesia timur, seperti yang pernah disematkan kepada Yuliani Paris. Ia bahkan mewakili Indonesia untuk bertemu dengan presiden Amerika kala itu.
Karenanya, Reski berusaha untuk bisa sampai ke level internasional. Kelak ilmunya bisa diamalkan dan dibagikan kepada pemuda lainnya di daerah. Konsepnya nanti bisa dijadikan masukan bagi pemerintah agar demokrasi di Indonesia pada umumnya, dan daerah pada khususnya bisa semakin berkualitas. (ita)

