MAKASSAR, BKM — Bakal calon wali kota Makassar diprediksi masih bisa mengganti pasangannya jelang pendaftaran di Komisi pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar, 4-6 September mendatang. Hal itu bisa saja terjadi bila di menit-menit akhir dukungan partai tidak mencukupi karena beralih ke kandidat lain. Atau balon pasangan dinilai tidak punya daya ungkit raihan suara nantinya.
Saat ini ada empat pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang berpeluang maju, lantaran telah mendapat dukungan atau surat tugas. Bahkan sudah ada yang menerima rekomendasi dalam bentuk format KPU B1 KWK dari partai politik.
Keempatnya adalah pasangan Mohamamd Ramdhan Pomanto-Hj Fatmawati Rusdi Masse, Syamsu Rizal MI-dr Fadli Ananda, Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando, serta pasangan Irman Yasin Limpo dengan Andi Zunnun Halid.
Ada yang menyebut bahwa pasangan boleh saja berganti. Hal itu diketahui dari informasi yang mencuat, bahwa salah balon wali kota tengah melakukan survei terhadap balon wakilnya. Bila tidak memenuhi harapan, bisa saja terjadi pergantian. Namun, tidak sedikit yang menegaskan pasangan tidak akan berganti.
Bakal calon wali kota Syamsu Rizal berharap tidak ada pergantian pasangan. “Kalau kami tidakmi. Insyaallah,” ujar Deng Ical, Selasa (11/8).
Hal sama disampaikan Munafri Ariduddin. “Kalau pasangan Appi- Rahman sejak awal tidak akan berganti. Apalagi rekomendasi parpol yang telah diterima juga telah mencantumkan nama berpasangan,” jelas Appi, kemarin.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel Sri Rahmi mengemukakan bila semua bisa berubah.
Hal sama dilontarkan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sulsel Surya Darma. Ia berujar bahwa pasangan bisa sajaberganti. “Bisa tetap, bisa juga berganti. Sampai sekarang masih menunggu keputusan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS,” jelas Surya Darma.
Hal berbeda disampaikan Wakil Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel Fauzi Andi Wawo. “Entahlah kalau pasangan lainnya. Kalau kami Insyaallah istiqamah di pasangan Dilan, sampai di titik akhir perjuangan,” jelas anggota DPRD Sulsel ini.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Makassar Farouk M Betta, juga yakin jika pasangan usungan Partai Golkar tidak berubah. “Insyaallah, Golkar sudah final. Sesuai yang tertuang dalam SK dari DPP Partai Golkar,” jelas mantan ketua DPRD Kota Makassar dua periode ini.
Ketua DPD Partai Nasdem Kota Makassar Andi Rachmatika Dewi alias Cicu, juga menampik jika ada wacana pergantian pasangan. “Kalau Danny Pomanto-Fatmawati Rusdi itu sudah finalmi. Partai pengusung sudah keluarkan B1 KWK, sehingga mencukupi syarat untuk mendaftar di KPU,” ujar ketua Komisi B DPRD Sulsel ini.
Hal sama ditegaskan Sekretaris DPW Partai Nasdem Sulsel Syaharuddin Alrif. “Kalau Nasdem semua sudah aman,” ucap Syaharuddin Alrif yang juga wakil ketua DPRD Sulsel.
Wakil Ketua DPC PDIP Kota Makassar Raisul Jais, mengemukakan bahwa semua berpotensi. “Tapi kami di PDIP sudah selesai. Rekomendasi ke Dilan, dan kami yakin Dilan memenuhi persyaratan ikut dalam kontestasi pilwali Makassar. Dengan Hanura, PKB, Insyaallah dengan PKS Dilan mendapat dukungan 15 kursi,” tandasnya.
Sekretaris DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel Rudy Pieter Goni (RPG), menyakini pasangan tidak akan berubah lagi. “Kami yakin bahwa Dilan akan maju dalam pemilihan wali kota Makassar,” ujarnya.
Kata dia, partai-partai besar selalu memiliki komitmen besar ketika sudah mendukung calon. Sudah melalui proses yang panjang dan tentu dengan pertimbangan yang mendalam dan penuh kalkulasi, baik politik maupun elektabilitas.
“Pasangan Dilan tidak kami ragukan. Bahkan kami sudah mensosialisasikan secara internal. Untuk pengenalan ke dalam partai, sebelum masa kampanye nanti. PDI Perjuangan solid mendukung pasangan Dilan,” tegas RPG.
Citra Partai
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, menilai semakin tingginya ketidakpastian dalam dukungan partai saat ini. Kepastian dukungan dalam bentuk surat tertulis saja, masih sangat mungkin berubah.
Probabilitas yang tinggi ini membuat kandidasi menjadi sangat dinamis. Terutama karena keputusan dukungan bersifat oligarkis dan sentralistik berada di tangan elit DPP partai. Para kandidat tidak lagi memercayai statement dukungan dari pimpinan partai di tingkat wilayah dan daerah.
“Akses untuk komunikasi politik dan jalan pintas bernegosiasi dengan elite nasional masih terbuka. Situasi yang membuat determinasi kapital sangat menentukan dalam pengusungan calon,” jelas Luhur.
Dosen komunikasi politik UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, menyebut jika potensi berubah pasangan itu ada. Karenanya, para kandidat harus membangun komitmen dengan partai pengusung agar tetap solid.
Namun, ia mengingatkan bahwa manuver partai mengalihkan usungan juga berisiko pada citra partai dan kepentingan politiknya ke depan. ”Sebab mereka dianggap inkonsistensi kecuali memiliki argumen rasional,” pungkas Firdaus. (rif)

