SOPPENG, BKM — Perjuangan penuh risiko masih terus ditempuh para pelajar di tengah pandemi covid-19. Semua dilakukan agar mereka bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui sistem daring (dalam jaringan).
Namanya Nur Fadillah. Saat ini duduk di bangku kelas X MAN 2 Watansoppeng. Hampir setiap hari, bersama teman-temannya ia mesti berjuang keras untuk melakukan perjalanan demi memperoleh koneksi internet. Bahkan mereka melewati bukti serta lembah agar bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
Nur Fadillah menuturkan, dia dan rekannya bisa menempuh jarak kurang lebih 9 kilometer dari rumah menuju hutan untuk mendapatkan sinyal. Karena di tempat terbuka seperti inilah sinyal telepon seluler bisa diperoleh.
Jalan becek dan berbatu, serta kondisi jalan yang naik turun gunung menjadi tantangan bagi mereka. Bahkan tak jarang mereka harus menerima risiko terjatuh dari motor yang dikendarainya.
Hal itu diceritakan Nur Fadillah kepada BKM yang menemuinya dalam perjalanan menuju kawasan hutan, Rabu (12/8). Pelajar yang tinggal di Datae, Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng ini butuh waktu kurang lebih sembilan jam untuk belajar daring di hutan pinggir Kampung Lejja.
”Sebenarnya ada wifi di Datae, Pak. Tapi sewanya Rp6 ribu per jam. Kalau dikalikan dengan sembilan jam waktu untuk kita belajar online, berarti kita harus menyediakan Rp54 ribu sehari. Kalau keluar dan mencari tempat yang ada sinyalnya, kita hanya beli kuota data Rp55 ribu. Itu sudah cukup untuk satu minggu,” jelas Fadillah, sapaan akrabnya.
Namun, lanjut Fadillah, dirinya masih butuh biaya tambahan saat keluar dari rumah menuju pinggir hutan. Ia mesti membeli bensin untuk bahan bakar motornya.
Dari pantauan BKM, berbekal gawai dan buku pelajaran masing-masing, para pelajar dari Datae ini begitu antusias belajar meski di tengah hutan. Sesekali mereka menulis di atas motornya, atau naik ke atas batu.
Untuk sampai di Datae, tidak semua kendaraan roda empat bisa menjangkaunya. Hanya kendaraan tertentu yang bisa masuk, karena infratruktur jalannya tidak mendukung. Jalanannya rusak. Bila hujan deras dan banjir, mobil tak bisa sampai di Datae. Karena jembatan yang menghubungkan Lejja dan Datae hanyut pada saat banjir besar bulan Januari lalu.
Untuk motor, tetap bisa lewat karena ada jembatan darurat yang telah dibangun personel Kodim 1423 Soppeng bersama warga Datae. Dari ibukota Kecamatan Marioriawa ke Datae berjarak 23 km. Sepanjang 14 km sampai di Lejja sudah diaspal. Namun setelah Lejja menuju Datae hanya berupa jalan tanah, yang langsung berlumpur saat hujan turun.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Soppeng H Khuzaema yang dihubungi, Kamis (13/8), mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dengan persoalan yang dihadapi siswa di lingkup MAN ataupun MTs. Karena satu-satunya yang bisa digunakan untuk membiayai adalah bantuan operasional sekolah (BOS).
”Saya dengar informasi kalau gugus tugas (penanganan covid-19) punya program rumah cerdas. Tempat itu bisa dicari untuk membantu pembelajaran online. Karena kami sama dengan Dinas Pendidikan, tidak bisa menggunakan dana BOS begitu saja jika kepala sekolah tidak melengkapi semua persyaratan. Apalagi kalau tidak semua sekolah melakukannya,” terang Khuzaema.
Taufan Suherman, anggota komisi III DPRD Soppeng dari Partai Nasdem asal daerah pemilihan (dapil) Donri-donri-Marioriawa, menyatakan prihatin dengan apa yang dialami Nur Fadillah dan teman-temannya.
”Saya berharap kepada pihak terkait supaya ada perhatian, dan memberikan solusi kepada anak-anak kita. Sehingga mereka bisa belajar seperti halnya anak-anak yang ada di perkotaan,” ujar Taufan. (ono/b)

