pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Yang Berulang Setiap Tahun, Pakai Air Kotor dan Berbau

Derita Warga Pesisir Maros Kala Musim Kemarau Tiba

KEMARAU panjang kini tengah mendera. Kesulitan air bersih pun dialami. Seperti warga yang bermukim di wilayah pesisir Kabupaten Maros. Tepatnya di Desa Tuppabiring, Kecamatan Bontoa.

DI sebuah lokasi yang debit airnya kian dangkal, seorang perempuan menimba air dan memasukkannya ke dalam baskom. Air yang kondisinya keruh dan kotor itu kemudian diangkut ke rumah dengan menempatkannya di atas kepala. Butuh perjuangan serta perjalanan yang lumayan jauh untuk mendapatkannya, walau tak layak konsumsi.
Sebanyak 400 lebih kepala keluarga (KK) yang berdomisili di Bontoa mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Khususnya untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
Sejak hujan tak lagi turun, warga terpaksa menggunakan air kubangan kotor yang sudah mengeluarkan bau untuk dikonsumsi sehari-hari. Kondisi ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu, dan terus terulang setiap memasuki musim kemarau.

Agar bisa mendapatkan air tersebut, warga terpaksa harus berjalan kaki melalui pematang tambak dan sawah untuk mengambil air di sebuah sumur penampungan tadah hujan yang sudah hampir mengering.
“Di sini kami sudah lama mengalami krisis air bersih. Sejak bulan ramadan sudah seperti ini. Sehari-harinya terpaksa kami ambil air di sumur tadah hujan. Itupun airnya tinggal sedikit dan mulai berbau,” ujar Arung, salah seorang warga Desa Tuppabiring.
Arung menjelaskan, warga terpaksa menggunakan air kotor untuk keperluan sehari- hari, lantaran suplai air bersih dari truk tangki penjual air keliling dirasa begitu mahal. Apalagi semenjak wabah covid-19.
“Untuk keperluan mencuci dan mandi kita gunakan air kotor ini. Sementara untuk minum kita tetap beli air galon. Dulu masih mampu beli air untuk mengisi tandon penampungan di rumah. Tapi semenjak corona, uang susah didapat. Anak dan suami dirumahkan,” keluhnya.
Selain dirinya, warga lain pun yang bermukim di pesisir Maros, juga merasakan hal yang sama. Salma misalnya. Setiap tahun saat kemarau panjang tiba, ia mengakui bahwa krisis air bersih di wilayah ini sudah menjadi permasalahan serius yang tak kunjung usai.
Merekapun berharap besar kepada pemerintah untuk memberikan solusi, agar ke depannya masyarakat pesisir tak lagi bersusah payah untuk mendapatkan air bersih. Karena di Kecamatan Bontoa, hampir keseluruhan wilayahnya terdampak kekeringan di musim kemarau.
Terkhusus Kelurahan Bontoa yang tahun lalu bisa menikmati pelayanan PDAM, untuk saat ini terhenti. Penyebabnya, instalasi penjernihan air (IPA) Turikale berhenti beroperasi, dikarenakan kondisi air payau dari sungai Maros (Turikale) yang menjadi sumber air baku.
Adapun wilayah yang saat ini terdampak parah krisis air bersih adalah Desa Ampekale, Tupabiring, Pajukukang, Minasaupa, dan Desa Bonto Bahari.
“Untuk Kecamatan Bontoa ada sekitar, 28.515 jiwa yang bermukim. Guna memenuhi kebutuhannya warga membeli air tangki dengan kisaran harga Rp130 ribu hingga Rp200 ribu per tangki,” ungkap Arung. (ari/b)




×


Yang Berulang Setiap Tahun, Pakai Air Kotor dan Berbau

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar