pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Rintis Jalan Tani Pakai Uang Sendiri

Purnawirawan TNI Ini Jadi Inspirator di Likuloe, Gowa

DAENG Malling, begitulah sapaan Jaharuddin oleh masyarakat di Dusun Likuloe, Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Sosok panutan berusia 60 tahun ini adalah seorang purnawirawan TNI AD berpangkat Sersan Mayor (Serma) yang memiliki dedikasi tinggi dan ikhlas berkarya untuk dusunnya.

Ayah tiga anak dan seorang istri ini tak kenal lelah. Sejak pensiun dari tugasnya sebagai anggota TNI AD di Rindam XIV Hasanuddin pada 2014 lalu, kini Dg Malling lebih banyak menikmati masa pensiunnya dengan berbakti kepada negara dengan cara mengabdikan kesehariannya dengan bertani.
Namun ada hal istimewa dari tulang-tulang kokoh dirinya meski sudah terlihat tidak setegak ketika usianya baru 30-an tahun. Dg Malling punya cita-cita mulia yakni membuat pola hidup warga dusunnya berubah dan ada peningkatan.
Cita-citanya itu adalah bagaimana membuat masyarakat di Dusun Likuloe sejahtera lewat tangannya yang keriput dan menghitam karena setiap hari terpapar sinar matahari yang cukup panas itu.
Dengan menggunakan cangkul dan sekop, Dg Malling meratakan tanah di antara kebun tanaman palawija warga Likuloe. Dia merintis sebuah jalan tani dengan harapan jalanan ini akan membuka akses bagi masyarakat petani mengangkut hasil taninya dan juga memberikan jalanan yang mudah kepada masyarakat untuk mendongkrak nilai tanah di sekitarnya.
” Alhamdulillah kurun dua tahun saya mulai mencangkuli pesisir sawah dan tanah kebun warga disini, akhirnya saya bisa membuat jalanan ini dan panjangnya sudah 1 kilometer lebih dari arah jalan raya. Saya juga bersyukur atas kesadaran warga disini untuk bersama-sama berbuat kebajikan dimana mereka mau dibuatkan tanah sawah dengan mengeruk tanah ladangnya yang tidak produktif lagi. Setelah dikeruk kini sawahnya terbentuk. Dan tanah hasil kerukan itu saya bersepakat dengan warga untuk digunakan menimbun jalan ini agar rata dan sebagian lagi tanah uruqnya disepakati dijual untuk menyewa alat berat excavator yang saat ini kami gunakan untuk mengeruk tanah ladang,” tutur Dg Malling saat ditemui di lokasi pembuatan jalan tani ditemani beberapa warga yang seumuran dengannya serta dua orang pemuda, baru-baru ini.
Mengenakan kaos lengan panjang bermotif loreng TNI dengan celana warna kain abuabu, mengenakan alas kaki boots plastik dan dipinggang melingkar tali kain merah yang diselipi parang panjang, Dg Malling pun mencangkuli gundukan tanah lalu menebarnya ke tengah dan sisi badan jalan yang dikerjanya.
Jalan yang dikerjakannya kata Dg Malling saat ditemui di lokasi tersebut, sudah sepanjang 1 kilometer. Masih ada sejauh 4 kilometer lagi akan diganyangnya bersama warga lainnya. Jika jalan yang 5 kilometer ini tembus, maka Dg Malling telah menghubungkan Desa Bontoramba Kabupaten Gowa dengan desa seberang yang masuk wilayah Kabupaten Takalar.
Tidak tanggung-tanggung, selama mulai merintis jalan tani ini sejak tahun 2017, Dg Malling sudah menghabiskan uang pribadinya sebesar Rp 30 juta.
” Iya sudah menjadi niat saya dari awal bahwa untuk berbuat amal pahala dan untuk kepentingan orang banyak maka saya ikhlas dan siap berkorban. Saya hanya berharap, setelah rintisan ini, pemerintah desa bisa membantu agar pengerjaan maksimalnya melalui anggaran desa agar jalan tani ini bisa mulus dipergunakan masyarakat dusun,” kata Dg Malling.
Selama membuat jalan, Dg Malling tidak punya rencana lain. Dalam upayanya merintis jalan pun sempat menuai isu miring bahwa pengerukan tanah kebun warga di lokasi pembuatan jalan itu merupakan aktivitas komersial tambang kecil.
” Di sini saya dan warga melakukan kesepakatan. Kesepakatannya adalah tanah kebun yang tidak produktif itu digali kemudian tanah galiannya digunakan untuk menimbun jalan yang tengah dikerja sedang timbunan tanah lainnya separuh dijual untuk membiayai operasional alat berat yang kami sewa. Jadi sama sekali tidak dikomersialkan untuk kepentingan pribadi. Dan ini berdasarkan kesepakatan bersama para warga pemilik tanah kebun yang dibuatkan sawah dengan kompensasi tanah galian kebunnya digunakan untuk operasional alat berat dan sebagai timbunan jalan yang dibuat,” jelas Dg Malling.
Awalnya kata Dg Malling, waktu tahun 2017 lalu, dia mengoperasikan mobil pemotong padi. Untuk masuk ke wilayah persawahan di lokasi pembuatan jalan itu sangat susah. Jalannya harus melingkar 2 kilometer lewat Desa Pabbentengang. Karena sulitnya akses mengoperasikan mobil pemotong padi ini sehingga sejumlah warga memilih tanah kebun meminta agar dibuatkan jalanan saja.

” Waktu itu saya bilang susah karena tidak ada tanah untuk menimbun jalan jika dibuat jalan tani. Ternyata mereka sepakat dibikinkan sawah. Mereka bilang kalau untuk tanah timbunan ambil tanah kebunku. Bikinkan saja sawah dan tanahnya jadikan timbunan untuk jalanan. Akhirnya semua pemilik kebun disini setuju lalu saya pun mulai bekerja menyewa alat berat lalu dibiayai dari penjualan tanah timbunan yang digali. Dan untuk biaya alat berat itu didapatkan dari penjualan sebagian tanah timbunan tersebut,” jelas Dg Malling lagi.
Dari upaya pembuatan jalan ini, sudah ada 20 petak sawah sudah dibuat dan semuanya bermula dari tanah kebun yang tidak produktif lagi. Bahkan sudah ada sawah bikinannya yang sudah menikmati padi dua kali panen dalam satu tahun.
Sementara itu Kepala Dusun Likuloe, Desa Bontoramba, Abd Kadir Tiro, mengatakan, sangat mengapresiasi adanya seorang Dg Malling yang dianggapnya salah satu tokoh Likuleo ini.
” Sebagai aparat tentu saya akan mengusulkan ke pemerintah desa agar pembuatan jalan tani rintisan Pak Malling ini bisa diprioritas dalam penganggaran dana desa tahun 2021. Kalaupun ada prioritas di tahun 2021 sebaiknya diagenda di 2022 saja yang penting adalah jalan tani ini yang perlu diprioritas,” kata Kadir Tiro. (sar)



×


Rintis Jalan Tani Pakai Uang Sendiri

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar