MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar belum bisa memastikan kapan pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan. Hal itu disebabkan oleh penularan kasus covid-19 yang belum terkendali.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Makassar Andi Irwan Bangawan, membenarkan hal itu. Kadis Ketenagakerjaan ini menegaskan, pembelajaran tatap muka saat ini belum memungkinkan. Pasalnya, Makassar masih masuk dalam zona merah penyebaran virus corona.
Dia menyebut, berdasarkan petunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pembelajaran di sekolah bisa dilaksanakan jika zona sudah masuk dalam indikator kuning atau hijau. Irwan berharap Kota Makassar segera masuk zona hijau, sehingga pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Kebijakan serupa diterapkan di sekolah wilayah kepulauan. ”Meski penularan dianggap telah terkendali, kebijakan membuka sekolah tatap muka masih perlu dikaji lebih lanjut,” ujarnya, kemarin.
Penjabat Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin, dalam beberapa kesempatan mengaku khawatir pembukaan sekolah tatap muka bisa memicu klaster baru penyebaran virus corona. Hal ini menanggapi usulan Dinas Pendidikan yang dikhususkan untuk wilayah kepulauan, karena kesulitan mengakses fasilitas belajar daring.
Rudy menegaskan, ia akan berani membuka jika kondisi covid-19 di Makassar telah aman terkendali.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan Kota Makassar berencana menggelar uji coba sekolah tatap muka. Sebanyak enam sekolah ditunjuk untuk menjadi percontohan dalam program itu.
Sekolah yang akan menjadi lokasi uji coba berada wilayah kepulauan. Pertimbangannya, penularan covid-19 yang rendah dan jangkauan internet belum memadai untuk metode pembelajaran secara daring.
Tingkat Kematian Rendah
Tim Gugus Tugas Penanggulangan dan Penanganan Covid-19 Kota Makasar merilis data kasus covid-19, Selasa sore (7/10) di Posko Gugus Tugas Covid-19 Makassar, Jalan Nikel.
Berdasarkan data, kasus positif di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini sudah mencapai 8.540 kasus. Dari jumlah ini, ada 1.665 orang atau 19,5 persen yang masih dirawat. Selebihnya adalah kasus sembuh sebanyak 6.596 orang, sedangkan kasus meninggal dunia sebanyak 279 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Naisyah Tun Azikin mengatakan, kabar yang cukup melegakan karena tingkat kematian di Kota Makassar tercatat 3,3 persen. Sementara untuk tingkat kesembuhanya sebesar 77,2 persen.
Tingkat kematian akibat covid-19 di Kota Makassar per 6 Oktober 2020 tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat kematian secara nasional, yaitu 3,7 persen. “Ini menunjukkan bahwa penanganan kita selama ini lebih baik,” kata Naisyah.
Berdasarkan kelompok umur, kasus kematian akibat covid-19 paling banyak terjadi pada usia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 150 orang. Rerata meninggal karena adanya penyakit komorbid atau penyerta seperti jantung, kanker, gagal ginjal, dan sebagainya.
“Tapi meski kasus tinggi, konfirmasi positif tinggi, yang dirawat tinggi, yang penting tidak menyebabkan kematian. Jadi salah satu tolok ukur keberhasilan adalah tidak terjadi kematian,” kata Naisyah.
Sementara itu, Ketua Tim Epidemiologi Covid-19 Kota Makassar Ansariadi, mengatakan angka kematian yang lebih rendah dari nasional itu sebenarnya hanya ekspektasi. Dengan data tersebut, menurutnya, orang akan berekpektasi bahwa apa yang terjadi di Makassar jauh lebih baik dibandingkan apa yang terjadi secara nasional dan beberapa kota besar lainnya.
Hal tersebut dikarenakan belum tentu semua orang yang meninggal akibat covid-19 bisa tercatat. Sebab angka 3,3 persen itu, kata Ansariadi, merupakan kasus yang terdata dan terlaporkan di layanan kesehatan. Belum termasuk jika ada yang meninggal di rumah.
“Kalau seandainya yang meninggal itu di rumah sakit, kita bisa yakin 100 persen bahwa 3,3 persen itu adalah total kematian. Yang jadi pertanyaan adalah kalau hanya sebagian kecil yang meninggal di rumah sakit, dan sebagian besar orang meninggal di rumah, itu kan kita tidak tahu,” katanya.
Tetapi jika dibandingkan dengan Jakarta yang angka kematiannya hanya sekitar 2 persen, kata dia, Makassar masih jauh lebih tinggi. Namun melihat kapan sebenarnya kematian itu terjadi, maka seharusnya ada progres.
Dia mengatakan, kematian itu lebih banyak terjadi di awal-awal pandemik. Artinya, walaupun kematian tinggi, tapi ada progress penanganan jadi lebih bagus. Misalnya, seperti minggu lalu di mana ada 10 orang meninggal dalam seminggu, tapi sekarang hanya 2-5 orang.
“Jadi itulah indikator yang menunjukkan bahwa penanganannya lebih bagus. Meski report menyatakan sekitar 3,3 persen, namun menurut saya kematian memang lebih tinggi dari Jakarta, tapi posisi progress mulai ada perbaikan,” tandasnya. (rhm)

