Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX Sulawesi Prof Dr Jasruddin, menegaskan bahwa perguruan tinggi swasta (PTS) yang berada di bawah naungannya cukup siap untuk melaksanakan kuliah tatap muka. Hanya saja, harus memperhatikan sejumlah faktor lain.
”Beda antara SMA, SMP, SD dengan perguruan tinggi. Kalau di sekolah, siswanya berada di sekitar tempat itu. Tapi untuk perguruan tinggi, mahasiswa datang dari berbagai penjuru daerah. Ini yang harus kita pikirkan, apakah kita memang sudah siap untuk itu,” tandas Prof Jasruddin, pekan lalu.
Ia melanjutkan, ketika perkuliahan tatap muka dibuka seluas-luasnya, kemudian seluruh mahasiswa yang saat ini tengah berada di daerah akan berbondong-bondong datang ke Makassar. Kondisi itu menjadi kekhawatiran, apakah mereka yang datang itu terpapar atau memaparkan ke orang lain.
”Karena itu kita perlu ekstra hati-hati. Kita hendaknya menyesuaikan kondisi, khususnya kemampuan perguruan tinggi (PT) untuk menerapkan standar protokol kesehatan yang ditetapkan oleh WHO dan pemerintah. Tidak semua perguruan tinggi siap untuk itu, baik dari segi sarananya maupun pembiayan,” jelas Prof Jasruddin lagi.
Bagaimana dengan target Januari 2021 kampus sudah bisa melaksanakan kuliah tatap muka? Prof Jasruddin mengatakan hal itu masih pilihan. Perguruan tinggi boleh memilih. Apakah hendak melaksanakan perkuliahan daring ataukah luring. Namun, cara yang sangat memungkinkan untuk dilaksanakan adalah menggabungkan keduanya alias blanded learning.
Prof Jasruddin kemudian menyebut program studi (prodi) eksakta yang harus melaksanakan praktik secara luring. Tetapi tentunya harus mengikuti persyaratan.
”Praktikum tidak terlalu sulit diatur pelaksanaannya. Pegawai laboratorium bisa mengatur jadwal. Yang tadinya 10 orang, bisa hanya lima orang. Sangat bisa diatur. Karena pelaksanaan praktikum tidak mungkin virtual. Hasilnya tidak akan sama dan tidak akan capai target,” terang Prof Jasruddin.
Untuk perkuliahan daring, menurut Prof Jasruddin, perguruan tinggi sudah berpengalaman melaksanakannya. Setahun menerapkannya, perguruan tinggi kini semakin siap. Walau tingkat kesiapannya masih bervariasi.
Diakui Prof Jasruddin, sejak 2008 LLDikti Wilayah IX Sulawesi sudah mendorong pembelajaran berbasis teknologi. Sudah banyak PT menerapkan learning management system, khususnya yang ada di Makassar. Sementara di daerah masih mencari bentuk.
”Dalam proses pembelajaran tidak ada aplikasi yang sangat menjamin itu yang paling baik. Sehingga yang paling baik adalah menggabungkan beberapa aplikasi dalam learning management system,” tandasnya. (*/rus)
Ketua LLDikti: Sesuaikan Kesiapan dan Kemampuan PT
×

