pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Omzet Turun Drastis, Siasati dengan Mengecilkan Ukuran

Jerit Produsen dan Pedagang Tahu-Tempe di Tengah Melambungnya Harga Kedelai

DI tengah situasi pandemi covid-19 yang masih berlangsung, para produsen serta pedagang tahu dan tempe di Kota Makassar harus menerima kenyataan pahit. Harga kedelai yang menjadi bahan baku untuk membuat dua jenis makanan itu melambung tinggi. Mereka pun menjerit dan berharap pemerintah segera mencari solusinya.

DI sebuah pabrik pembuatan tahu Jalan Balang Baru, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Senin (4/1). Aktivitasnya masih seperti biasa. Para pekerja tetap melakukan produksi. Konsumen juga silih berganti berdatangan.
Tapi, jangan dikira produsen tahu ini tak terkena dampak kenaikan harga kedelai yang melonjak cukup drastis. Hal itu diakui H Jaelani Arifin. Ia menyebut, kedelai impor sebelumnya seharga Rp5.000 per kilogram. Kini sudah mencapai Rp9.700 per kg.
Tak ingin usahanya merugi, H Jaelani pun dengan berat hati menaikkan harga jualnya. Hal itu spontan mengundang reaksi dari para pelanggan. Karena rerata dari mereka datang membeli ke tempat H Jaelani untuk kemudian dijual kembali.
Disebutkan, dalam satu bulan terakhir harga kedelai impor terus mengalami kenaikan sedikit demi sedikit. Dimulai dari Rp6.000/kg. Disusul kemudian Rp7.500/kg. Selanjutnya Rp8.500, Rp9.400 hingga dua hari kemudian menjadi Rp9.500.
Karena banyaknya pelanggan yang mengeluh, H Jaelani tak menaikkan harga tinggi-tinggi. Ia memutuskan kenaikan harganya di kisaran Rp3.000. Jika sebelumnya dijual Rp35.000 per cetak, kini menjadi Rp38.000 per cetak.
”Harganya tidak terlalu kita naikkan. Itupun masih banyak pelanggan yang komplain. Terutama penjual gorengan,” ungkap H Jaelani, kemarin.
Apa yang dilakukan H Jaelani berpengaruh terhadap omzet penjualan. Jika pendapatan yang diperoleh sebelum harga kedelai naik sebesar Rp1 juta per hari, kini berkisar Rp600 ribu pe hari.
Di saat harga tahu dan tempe naik, pedagang kecil seperti penjual gorengan, juga mencoba menyiasatinya. Mereka memperkecil potongan tahun dan tempe yang dijajakannya.
Begitu pula dengan penjual tahu dan tempe di Pasar Terong. Mereka membagi isi setiap kantong menjadi lebih sedikit dan memberlakukan harga yang sama dari sebelumnya. Hanya porsinya yang dikurangi.
Pedagang tempet di Pasar Pa’baeng-baeng, mengakui kenaikan harga telah terjadi sejak akhir Desember 2020. Jika sebelumnya tempe dijual pada kisaran Rp4.000 per batang, kini naik menjadi Rp6.000 per batang. Bahan baku kedelai mereka ambil dari Pasar Terong.
”Banyak pelanggan yang komplain dengan kenaikan harga tempe. Tapi kita mau apa, karena harga memang naik,” cetus Hengki, pedagang di Pasar Pa’baeng-baeng.
Hengki mengaku memproduksi sendiri tempe yang dijualnya. Lokasinya di Jalan Banta-bantaeng. Dalam proses pembuatannya, Hengki kini menghabiskan bahan baku sebanyak 30 kg. Berkurang dari sebelumnya yang mencapai 50 kg. Biasanya jadi dalam waktu empat hari.
Begitu pula dengan harga tahu yang mengalami kenaikan. Hengki biasanya mengambil tahu di Jalan Tanggul Patompo lalu dijual kembali. (pkl)



×


Omzet Turun Drastis, Siasati dengan Mengecilkan Ukuran

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar