JENEPONTO, BKM — Rabu (27/1) tengah malam pukul 23.15 Wita. Suasana yang awalnya sunyi di Kampung Bulloe, Desa Bontomate’ne, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto tetiba geger. Kepulan asap tampak dari sebuah rumah panggung.
Beberapa orang yang masih terjaga dan menyaksikan kejadian itu langsung berusaha membangunkan pemilik rumah. Namun apa daya, api sudah terlanjur membesar. Mereka yang ada di dalam rumah tak satupun yang bisa meloloskan diri.
Enam orang meregang nyawa dalam peristiwa ini. Mereka adalah pemilik rumah bernama Sirajang Daeng Tonga (70) dan istrinya I Salma Daeng Cini (65). Anak Sirajang bernama Armi Damayanti Daeng Kebo (35) bersama suaminya Yusuf Daeng Tompo (40), serta bayi mereka yang masih berusia delapan bulan. Satu korban lainnya adalah Ridwan (6), cucu Daeng Tonga yang datang menginap di rumah neneknya. Selain itu, api juga menghabiskan dua unit sepeda motor, serta puluhan ton garam.
Rohani (48) dan suaminya Syarifuddin Daeng Rate memberi kesaksian atas peristiwa ini. Mereka tetangga dengan korban dan tinggal sebelah utara rumah yang terbakar. ”Awalnya saya mendengar teriakan dari luar rumah, api….api…. Saya dan suami langsung bangun dan menendang pintu kamar. Saya langsung ambil anak saya yang berumur enam bulan, lalu kami keluar rumah. Api di rumah tetangga itu sudah membesar dari arah depan dan membumbung tinggi,” terang Rohani.
Suami Rohani, Syarifuddin Daeng Rate mencoba membangunkan penghuni rumah dengan cara melempari rumah tersebut dengan batu. Ketika terbangun, mereka yang ada di dalam berusaha menyelamatkan diri dengan mencari jalan untuk keluar. Namun, usaha tersebut tak berbuah hasil. Mereka terjebak dalam rumah hingga akhirnya meninggal dunia.
Sebanyak enam unit armada pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kejadian. Api berhasil dipadamkan setelah rumah rata dengan tanah. Si jago merah pun tak merembet ke rumah lainnya.
Yang menjadi tanda tanya warga, kenapa tak satupun penghuni dalam rumah yang berhasil meloloskan diri. Padahal, rumah panggung berukuran 8×12 meter itu hanya berdinding seng dan bisa dengan mudah didobrak untuk bisa menyelamatkan .
Ketika dilakukan pencarian di puing-puing kebakaran, jasad para korban berhasil ditemukan. Kondisi mereka sangatlah mengenaskan. Yang tak kalah miris, Armi Damayanti didapati memeluk bayinya. Hal itupun dibenarkan Rohani.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Jeneponto M Nasuhan Tangnga, menyebut enam jasad korban yang terbakar telah ditemukan. Kondisinya cukup mengenaskan karena hangus terbakar. Kuat dugaan kebakaran dipicu arus pendek listrik.
“Penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Ketika petugas pemadam datang, terdengar ledakan,” jelas Nasuhang.
Kepala Pemerintahan Kecamatan Turatea Ardi Jahini, menyatakan sangat prihatin dengan kejadian ini. Ia menyebut, baru kali ini ada peristiwa kebakaran yang menewaskan enam orang sekaligus. Apalagi mereka satu keluarga.
”Mungkin mereka terlelap tidur di dalam rumah. Untuk penyebab pastinya, kita tunggu hasilnya dari polisi,” ujar Ardi.
Kapolsek AKP Syamsuddin Daeng Nai belum bisa memastikan penyebab kebakaran karena masih dalam penyelidikan. Sementara semua mayat yang ditemukan langsung dibawa ke RSUD Lanto Daeng Pasewang untuk dilakukan otopsi. (krk/b)

