MAKASSAR, BKM — Kamis malam (11/2) di Masjid Darussalam Kompleks Bumi Bosowa Permai Kelurahan Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Tak seperti biasanya, seusai salat Magrib berjamaah terpasang sebuah layar lebar berukuran besar di dalam masjid.
Awalnya, layar berwarna putih pada bagian atas dan sebagian kecil di bawahnya berwarna hitam itu tersimpan di sisi utara dalam masjid. Tak lama kemudian, bergeser ke bagian tengah depan.
Usai salat Isya berjamaah, pewara yang juga tokoh masyarakat setempat tampil ke depan jamaah yang jumlahnya lebih seratusan orang. Mereka adalah pengurus masjid, majelis taklim, remaja masjid, serta warga dari Blok L Minasa Upa serta perumahan Bumi Bosowa Permai.
MC yang juga seorang dai menyampaikan, bahwa acara malam itu adalah muhasabah, yang dalam bahasa Indonesia berarti instrospeksi diri atau renungan. Materi disampaikan Ustas Jamal Muhammad Genda yang tergabung dalam Ikatan Dai Muda Indonesia (IDMI) yang juga kepala TPA Nurul Amri Balai Kota.
Sebelumnya, Ketua ORW 015 Kelurahan Minasa Upa yang juga pelindung pengurus Masjid Darussalam Zainal Arifin berbicara di depan jamaah. Ia memberi apresiasi terhadap pelaksanaan muhasabah yang dilaksanakan pengurus masjid.
”Pengurus masjid dan jamaah memang harus saling bahu membahu dan bekerja sama dalam kegiatan seperti ini. Jadikan muhasabah ini sebagai momentum mengubah sikap dan perilaku kita,” ujar Zainal yang juga dosen Universitas Negeri Makassar (UNM).
Tiba giliran Ustas Jamal yang memberi materi. Membawa sendiri peralatan audio berupa pelantang suara, layar, serta proyektor, ia terlebih dahulu menjelaskan tata cara mengikuti materi. Dengan cahaya lampu yang sebagian sudah dipadamkan, salah satu yang ditekankannya adalah materi hendaknya diikuti dengan mata hati, bukan mata kepala. Termasuk tentang nikmatnya berdoa di kala sujud.
Sorotan cahaya proyektor yang mengarah ke layar putih diawali dengan gambar hitam putih. ”Gambar apa ini?” tanya Ustas Jamal. ”Katak,” jawab jamaah secara serentak. Jawaban tersebut ternyata benar.
Selanjutnya, gambar yang mirip kemudian ditampilkan dengan posisi terbalik setengah. Ketika ditanya gambar apa itu, lagi-lagi jamaah menjawab katak. Namun, jawaban jamaah kali ini tidak tepat. Yang benar adalah gambar kuda. Setelah diperhatikan dengan teliti, ternyata itu memang gambar kepala kuda.
”Begitulah manusia, cepat mengambil kesimpulan tanpa memeriksanya secara teliti,” ujarnya memberi argumen.
Penjelasan Ustas Jamal terus berlanjut pada topik yang diusung, yaitu Jangan Sia-siakan Waktu. Cuplikan video tentang bencana alam gempa bumi yang melanda Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat ditampilkan sebagai tanda kekuasaan Allah.
Disusul video berisi detik-detik seseorang menjemput ajal. Ada yang meninggal ketika berjoget. Ada pula yang berpulang ketika sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Termasuk yang mengembuskan napas terakhir kala sujud dalam sembahyang di masjid.
Lampu dalam masjid pun dipadamkan seluruhnya. Hanya cahaya proyektor yang menerangi. Suasana semakin khusyuk. Suara Ustas Jamal kian merasuk ke dalam jiwa jamaah. Ditimpali dengan suara musik bernuansa Islami. Dimulai dari melafalkan Asmaul Husna.
Sayup-sayup terdengar suara mulai terisak dari barisan jamaah. Awalnya hanya satu dua. Lama kelamaan semakin banyak. Jamaah kian larut dalam suasana muhasabah. Mereka pun menumpahkan tangis dan air matanya. Mengakui dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini dan meminta ampun kepada Tuhan.
”Mari kita semua sujud dan berdoa kepada Allah Swt,” kata Ustas Jamal mengajak jamaah untuk bersujud. Karena dengan sujud, nikmatnya berdoa akan sangat terasa. Suara tangisan masih terus terdengar.
Dari posisi sujud, jamaah kembali duduk dan selanjutnya diminta untuk berdiri. Mencari orang yang pernah ditempatinya berdosa lalu kemudian meminta maaf. Setelah itu kegiatan muhasabah di Masjid Darussalam Minasa Upa diakhiri. (rus)

