pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Belajar tak Kenal Usia, Perempuan Harus Melek IT

Wakil Dekan II FH Unibos, Hj Siti Subaedah Bicara tentang Perjuangan Kartini

PARA perempuan yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, khususnya dosen patut bersyukur atas perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. Karena emansipasi wanita yang digaungkannya telah berbuah hasil. Begitu banyak perempuan di kekinian telah menduduki posisi sejajar dengan kaum Adam. Salah satunya adalah Hj Siti Subaedah.

WAKIL Dekan II Fakultas Hukum Univesitas Bosowa, Makassar adalah jabatan Hj Siti Subaedah saat ini. BKM mewawancarainya dalam program Diary Putri dengan host Putri Sasongko. Ia ditemui di kampus Unibos Jalan Urip Sumohardjo, Kamis (22/4).
Bunda, begitu Hj Siti Subaedah disapa oleh mahasiswanya. Ia mengawali karir sebagai dosen di tahun 1986. Keputusan itu diambilnya seusai menyelesaikan kuliah di Universitas Negeri 11 Maret, Solo.
”Saat itu saya berpikir bahwa pekerjaan yang sangat bagus untuk perempuan sekaligus menyambung cita-cita Kartini adalah mengajar. Karena Kartini di usia muda sudah berusaha untuk belajar menembus batas-batas yang tidak diperkenankan bagi kaum perempuan,” terang Siti Subaedah.
Dalam pandangan Siti Subaedah, mengajar merupakan dunia yang paling cocok bagi dirinya. Ada beberapa alasan yang disebutkannya. Pertama, dengan mengajar dirinya bisa mendapat kepuasan. Tidak sekadar untuk berbagi ilmu pengetahuan yang dimiliki, tapi juga bisa ikut mendidik tentang sikap, perilaku, terutama masih banyaknya pembeda antara lelaki dan perempuan. Sehingga perlu dilakukan usaha-usaha guna menanamkan bahwa kita itu sama.
”Alasan lainnya, dengan mengejar bukan hanya kita menambah ilmu yang selalu berkembang, tapi mendapat kepuasan batin dan pahala. Karena yang diajarkan kepada mahsiswa adalah kebenaran. Tidak mungkin mengajarkan hal yang tidak benar. Apalagi di Fakultas Hukum. Mereka memahami hukum dan dia melakukan tata tertib hukum. Materi itu nomor dua. Dengan mengajarkan ilmu-ilmu dan kebenaran itu kita mendapat pahala sekaligus,” jelasnya.
Tidak salah jika kemudian Siti Subaedah mengaku selalu bersemangat ketika ada mahasiswa angkata baru yang masuk. Sebab mereka memiliki jiwa muda, bergairah belajar, dan berasal dari berbagai daerah. ”Secara tidak langsung bunda juga bisa mempelajari karakter serta budaya lain,” imbuhnya.
Diakui Siti Subaedah, saat ini sudah banyak wanita yang berkarir di berbagai bidang. Bahkan ada beberapa rektor di Makassar dijabat oleh perempuan, dan itu sangat menggembirakan. Termasuk ketua DPRD Provinsi Sulsel. Itu artinya perempuan juga bisa
”Terus terang saya senang dan bersyukur dengan semua itu. Tapi saya berharap tidak berhenti sampai di situ saja. Semoga ke depan akan semakin banyak lagi Kartini-Kartini muda yang menjabat di ruang publik dan bidang lainnya, seperti birokrat dan menggeluti bisnis,” tandasnya.
Untuk mencapai hal itu, Siti Subaedah mendorong kaum perempuan untuk terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Termasuk melek IT (information technology).
‘”Wanita tidak boleh ketinggalan. Belajar itu tidak mengenal usia. Apalagi di tembah perkembangan tekhnologi saat ini,” imbuhnya.
Kepada sesama teman seperjuangan yang beprofesi sebagai dosen, Siti Subaedah mendorong mereka untuk terus mengasah diri dan menghasilkan karya-karya, khususnya dalam bentuk tulisan. Karena Kartini memulai perjuanganya dengan menulis, lalu mengirimkan ke sahabatnya di Belanda.
”Perjuangan pertama Kartini dimulai dari menulis. Karena itu, yang seprofesi dengan saya, baik dosen maupun guru, jangan pernah berhenti menulis. Tulis apa saja, kehidupan, perkembangan ilmu, lingkungan dan sebagainya,” tandasnya. (*/rus)




×


Belajar tak Kenal Usia, Perempuan Harus Melek IT

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar