pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Andi Rita: Pencegahan Stunting Harus dari Hulu, Mulai saat Remaja

MAKALE, BKM — Upaya pencegahan stunting harus dari hulu, yang dimulai saat remaja. Kondisi stunting pada anak dapat dicegah dengan menyiapkan kesehatan remaja secara baik dengan asupan gizi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Remaja yang menikah harus sehat dan matang, baik secara fisik maupun psikis. Karena akan berpengaruh pada kesehatan janji ketika hamil nanti.
“Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama, sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Tapi ingat, stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting,” ungkap Kepala Perwakilan adan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan Hj Andi Rita Mariani. Ia menyampaikan hal itu saat membuka kegiatan Pendampingan Pelaksanaan Edukasi Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) bagi pengelola PIK-R dan BKR di ruang Pola Kantor Bupati Toraja Utara, Kamis (22/4).
Andi Rita menambahkan, kasus stunting banyak terjadi pada remaja yang menikah di usia dini. Remaja usia muda belum matang secara fisik maupun psikologis, serta belum memiliki pengetahuan yang cukup terkait kehamilan dan pola asuh yang baik dan benar.

Selain itu, remaja usia muda juga masih sangat membutuhkan gizi untuk pertumbuhan hingga usia 21 tahun. Ketika mereka menikah dan hamil, tubuh ibu akan berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya dan menyebabkan anak lahir stunting.
Disebutkan, masalah stunting bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk ditangani. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor dalam penanganan stunting. Untuk itu, BKKBN Sulsel terus berupa membangun koordinasi lintas sektor dengan berbagai kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah dalam percepatan penurunan stunting.
“Kita telah bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk memberikan edukasi kepada remaja melalui kursus catin (calon pengantin), serta Dinas Kesehatan terkait edukasi remaja seputar kesehatan reproduksi dan pola asuh anak,” ungkap Andi Rita
Andi Rita menambahkan, edukasi PKBR sangat penting diberikan kepada setiap remaja yang akan menempuh jenjang pernikahan, mengingat kasus perceraian tertinggi terjadi pada remaja yang menikah di usia muda disebabkan ketidaksiapan dalam menjalani kehidupan pasca perkawinan.
Andi Rita menyampaikan, melalui kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman remaja seputar informasi kesehatan reproduksi dan upaya penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Khususnya yang tergabung dalam Kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Kader Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) yang ada di Kabupaten Toraja Utara.
“Saya mengimbau untuk mencegah lahirnya bayi-bayi stunting di dalam keluarga. Itu dapat dilakukan dengan menyiapkan betul remaja putri yang akan menikah dan pastikan sehat. Menghindari empat terlalu, yaitu jangan terlalu muda untuk hamil kurang dari 20 tahun, jangan terlalu tua untuk hamil lebih dari 35 tahun dan terlalu sering yaitu kurang dari tiga tahun sudah hamil lagi dan terlalu banyak, dua anak lebih sehat,” ujarnya.
Di bagian lain penjelasannya, Andi Rita mengatakan bahwa selama ini masyarakat beranggapan BKKBN hanya mengurusi sebatas kontrasepsi saja. Padahal kontrasepsi hanya sebagian kecil dari tugas BKKBN. Secara umum tugas BKKBN meliputi siklus hidup manusia sejak dalam kandungan hingga lanjut usia.

“Begitu luasnya bidang tugas BKKBN sehingga kelembagaannya pun harusnya tidak digabung dengan intansi lain. Untuk itu perlu dilakukan penguatan advokasi dan KIE terkait tugas dan informasi strategis BKKBN ke pemerintah daerah, sehingga OPD-KB tidak perlu dimerger dengan instansi lain, supaya dapat lebih fokus melaksanakan tupoksi memberikan pelayanan kepada masyarakat,” harap Andi Rita.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kabupaten Tana Toraja Boyke Patandianan, mengatakan untuk memaksimalkan kegiatan ini, panitia menghadirkan narasumber dari OPD KB, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Agama. Mereka memberikan informasi terkait perencanaan kehidupan berkeluarga kepada peserta sesuai dengan bidangnya.
Adapaun peserta kegiatan ini berjumlah 30 orang, terdiri dari anggota PIK-R lokus Pro-PN dan kader BKR yang ada di Toraja Utara. (rls)




×


Andi Rita: Pencegahan Stunting Harus dari Hulu, Mulai saat Remaja

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar