GOWA, BKM — SG, seorang lelaki usia 43 tahun ditemukan tak bernyawa setelah menggantung dirinya di pohon akasia dalam kebun milik paman korban. Peristiwa mengejutkan ini terjadi, Selasa (25/5) pukul 17.45 Wita di Dusun Batu Alang, Desa Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa.
Sosok SG yang dikenal sebagai ponakan Amir bin Juma (50) diketahui baru menetap di Bontomarannu beberapa bulan belakangan. Ia awalnya menetap di Kalimantan bersama istri dan anaknya. Namun karena rumahtangganya diwarnai masalah, akhirnya SG kembali ke kampung halamannya di Gowa. Menetap sementara di kebun milik Amir.
Belum ada yang mengetahui secara pasti motif SG mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Seutas kawat besi melilit di leher dan menggantung di dahan akasia. Selaku paman,
Amir pun pun bingung dengan tindakan bunuh diri yang dilakukan ponakannya itu.
Ia mengaku, selama berada di Gowa setelah meninggalkan anak istrinya di Kalimantan, korban kerap berperilaku aneh.
” Kadang dia tertawa sendiri, diam mengkhayal dan bicara sendiri. Dia ke sini dan tinggal di rumah kebunku karena sempat bermasalah dengan istrinya, ” jelas Amir.
Pertama kali SG diketahui gantung diri di pohon akasia yang berjarak lima meter dari rumah kebun, ketika Amir baru pulang dari rumahnya.
“Saya memang menemani dia (SG) di rumah kebun seharian. Tapi karena HP saya lobet, jadi saya kembali ke rumah dulu kemudian kembali lagi ke kebun. Tapi saat saya kembali, dia sudah tidak ada di rumah kebun. Setelah saya cari ke mana-mana, ternyata sudah tergantung di atas pohon akasia, ” ungkap Amir bin Juma sedih.
Dijelaskan, saat ponakannya terlihat tergantung di pohon dengan lilitan tali di leher, Amir langsung bergerak cepat untuk menyelamatkannya berharap SG masih hidup.
Amir spontan mengambil sebilah parang di rumah kebun lalu memotong dahan hingga patah. Saat itu juga tubuh korban jatuh ke tanah bersama dahan pohon. Pada dahan itu terdapat tali kawat besi atau tali kopling motor sepanjang satu meter lebih, terlilit melingkar di batang pohon akasia. Ujungnya menjuntai ke bawah berbentuk lingkaran dengan posisi simpul hidup.
Amir pun langsung berteriak meminta tolong. Tak lama berselang datang seorang tetangganya lalu membantu melepas ikatan yang terlilit pada leher korban. Selanjutnya jasad korban diangkat ke depan rumah kebun.
Saat diperiksa, SG sudah tak bernyawa. Kedua saksi kemudian melaporkan kejadian ke kepala dusun setempat. Pada pukul 21. 30 Wita, kepala dusun menuju TKP lalu menghubungi Bhabinkamtibas setempat.
Tidak lama kemudian Kapolsek Bontomarannu Iptu Bahtiar bersama kanit Reskrim dan anggota SPKT Polsek Bontomarannu tiba dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Usai melakukan olah TKP, Iptu Bahtiar menjelaskan bahwa pada leher korban terdapat bekas lilitan tali bentuk melingkar. Di sekitar alat vital korban terdapat cairan bening mirip sperma.
Namun, jelas kapolsek, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Di dekat pohon juga ditemukan bangku yang terbuat dari papan dengan panjang sekitar dua meter dan tinggi 0,5 meter. Posisinya telah rebah ke tanah. Pada dahan pohon akasia ditemukan dahan yang patah yang terlilit kawat besi atau tali kopling motor sepanjang satu meter lebih, dan ujungnya membentuk lingkaran dengan posisi simpul hidup.
Kepada polisi, Amir menjelaskan, SG berada di Gowa pada April lalu.
” Dia pulang kampung, karena katanya ada kesalahpahaman dengan istrinya. Karena itu selama ada di sini, saya suruh dia tinggal di rumah kebunku,” beber Amir Bin Juma.
Amir juga sering menemani korban bermalam di rumah kebun.
“Kalau saya bermalam bersama di rumah kebun, dia (SG) sering bertingkah aneh. Sering duduk sendiri dan mengkhayal. Juga sering tertawa, bahkan bicara sendiri, ” terang Amir.
Setelah melakukan serangkaian kegiatan olah TKP selanjutnya mayat SG diserahkan ke pihak keluarga (Amir bin Juma) dan hasil komunikasi dengan pihak keluarga, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi.
Kapolsek Bontomarannu Iptu Bahtiar pun melakukan proses Kepolisian sebagaimana mestinya.
” Sekalipun pihak keluarga menolak untuk otopsi namun kasus ini akan kami selidiki dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti latar belakang kematian korban yang ditemukan tergantung di pohon,” jelas Iptu Bahtiar.
Diketahui bahwa selama berada di kampung pamannya itu SG kesehariannya bekerja sebagai pengumpul barang bekas untuk dijual kepada pengumpul. (sar)

