MAKASSAR, BKM — Warga Makassar hendaknya meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim kemarau yang terjadi saat ini. Potensi terjadinya kebakaran tergolong cukup tinggi.
Selama tahun 2021, sejak Januari hingga Juni, Dinas Pemadam Kebakaran mencatat telah terjadi peristiwa kebakaran sebanyak 60 kasus di wilayah Makassar. Penyebabnya bervariasi.
Menurut keterangan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar Hasanuddin, terbanyak terjadi karena adanya sambungan arus pendek atau korsleting listrik. Disusul karena akibat kompor meledak dan tabung gas yang bocor. “Jadi tercatat sudah 60 kasus,” ujar Hasanuddin.
Dia menyebut taksiran total kerugian materil disebabkan peristiwa kebakaran mencapai Rp10,8 miliar lebih. Sementara jumlah jiwa yang terdampak kebakaran ada 411 orang. Korban meninggal dunia satu jiwa, dan korban luka-luka 2 orang.
Untuk menangani peristiwa kebakaran, kata Hasanuddin, pihaknya memiliki 475 pasukan, dalam 45 peleton. Selain menangani kejadian kebakaran, Damkar Kota Makassar juga turut melakukan penyelamatan, seperti menangani evakuasi dan pemusnahan sarang tawon yang berpotensi membahayakan manusia.
“Jumlah penyelamatan lebih banyak dibanding kebakaran. Itu total ada 106 kali sampai hari ini, sarang tawon terbanyak ada 60 yang kita tangani,” jelasnya.
Penyelamatan lainnya mengevakuasi penemuan ular, biawak dan hewan lainnya. Selain itu, penanganan pelepasan cincin. “Layanan Damkar Makassar dapat diakses melalui telepon 0811410113 atau call center 112,” tutupnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mengatakan Pemkot Makassar kembali akan mengaktifkan pemadam kebakaran lorong. “Kita harus massif memberdayakan pemadam kebakaran lorong,” ungkap Danny saat ditemui di kediaman pribadinya, Minggu (13/6).
Kalau perlu, kata dia, Pemkot Makassar membuat alat pemadam kebakaran sederhana yang akan disebar di berbagai tempat di Makassar. Sehingga jika terjadi kebakaran, alat tersebut bisa jadi pertolongan pertama sebelum armada dari Dinas Pemadam Kebakaran tiba di tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran.
“Jadi kalau perlu kita bikinkan bengkel untuk buat alat pemadam. Jadi jangan lagi dibeli sistemnya, ” tambah Danny.
Menanggapi penyebab kebakaran yang kebanyakan terjadi karena korsleting listrik, Danny mengaku selalu komplain ke PLN. “Hampir 99 persen akibat arus listrik. Sehingga pengawasan harus diperketat,” jelasnya.
Dia melanjutkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan menemui PLN untuk membicarakan persoalan tersebut. “Saya lihat banyak kualifikasi kabel yang gampang terbakar. Itu bukan otorisasi kami, tapi PLN. Makanya, saya akan ketemu dengan PLN untuk membicarakan persoalan ini, ” tambah Danny.
Diapun berencana untuk mengubah sistem sambungan kabel yang ada di Makassar menjadi sistem kabel bawah tanah. Selain itu, untuk mencegah kebakaran di Kantor Wali Kota, dia akan mengganti sistem kabel jaringan listriknya. (rhm)

