MENYEBUT nama Ridwan Sau, ingatan langsung tertuju pada seorang penyanyi lagu Makassar yang cukup terkenal dan populer. BKM menghadirkannya dalam sesi podcast untuk kanal Youtube. Kisahnya ia ungkap secara blak-blakan.
DATANG dengan mengenakan songkok To Bone, Ridwan mengaku sudah menyanyi sejak kecil. Namun menggelutinya secara profesional baru dimulai di tahun 2007, ketika pertama kali rekaman di salah satu label rekaman di Makassar.
Sebelum masuk ke sana, selama enam tahun ia sempat digembleng oleh legenda penyanyi Makassar Anci Laricci. Ridwan bertemu Anci Larincci selama rentang waktu 1999-2005.
”Luar biasa pengaruh Anci Laricci terhadap Ridwan Sau. Anci Laricci menjadi orang tua kedua, setelah bapak ibu saya. Anci Laricci yang melahirkan seorang Ridwan Sau di dunia seni, khususnya menyanyi. Walaupun sebelumnya kuliah di UNM dan mengambil jurusan seni musik. Saat kuliah kan hanya belajar akademis dan teorinya,” terangnya.
Di bawah gemblengan Anci Laricci, Ridwan Sau masuk ke dunia nyanyi profesional. Termasuk mengajarinya mencipta lagu. Sehingga nyaris Ridwan menjadi duplikat Anci Laricci. Warna lagunya juga sangat terpengaruh.
Hingga saat ini Ridwan Sau telah melahirkan enam album. Sementara kompilasi (gabung dengan penyanyi lain) ada tiga. Belum lagi lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh penyanyi lain. Jika dihitung secara keseluruhan, sudah ada 100-an lebih lagu yang telah diciptakannya.
Salah satu lagu Ridwan yang cukup populer dan dikenal masyarakat luas berjudul La’roko Tojengma Kapang. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu akassar itu artinya kurang lebih mungkin betul saya makan hati.
Lagu yang dinyanyikannya di awal podcast Bercerita tentang dua sejoli yang dikhianati oleh pasangannya. Ada orang ketiga di antara mereka. Siapa sangka, lagu ini diangkat dari pengalaman pribadi Ridwan Sau.
”Kalau saya buat lagu, biasa mengangkat pengalaman pribadi dan orang lain. Untuk lagu La’roko (Tojengma Kapang), itu kisah pribadi. Tapi kisahnya terbalik dari lagu yang saya nyanyikan. Di situ seolah-olah saya yang disakiti. Padahal saya yang menyakiti, Menyia-nyiakan orang lain,” tuturnya sambil tertawa lepas.
Di antara semua lagu hasil ciptaannya, ada satu yang paling disuka, bagus dan enak dinyanyikan. Hanya saja lagu tersebut tidak begitu populer. Judulnya Bunuhma Naong, ada di album keempat.
”Artinya, bunuhlah aku. Karena cinta sekalima sama kau. Kalau kau sampai mencintai orang lain, lebih baik saya bunuh diri daripada saya mati dalam kecemburuan. Lebih baik kau bunuh saya, karena saya sudah cintal sekali,” jelasnya sambil menerangkan sebait lagu yang juga dinyanyikannya.
Dari keseluruhan lagu buah karyanya, diakui Ridwan Sau didominasi dengan tema asmara. Ternyata ada alasannya. ”Karena yang membuat lagu ini adalah Ridwan Sau yang masih jomblo. Belum menikah sampai sekarang. Bulan depan sudah masuk 43 tahun dan belum punya pasangan. Mungkin karna faktor kesendirian itulah sehingga banyak lagu bertema asmara yang lahir,” terangnya.
Apalah belum ada calon pendamping? Ridwan menjawab diplomatis. ”Calonnya masih meraba. Selain itu, juga belum ada uang panai,” cetusnya, kembali sambil tertawa.
Dia menyebut, karena mahalnya, tidak jarang orang tidak menikah gegara uang panai. Belum lagi uang belanjanya. Namun pengakuan itu seolah tidak membuat percaya. Sebab ia begitu terkenal dan populer lewat lagu-lagunya.
”Banyak memang orang yang tidak percaya dengan pengakuan seperti ini. Tidak percaya kalau penyanyi tidak ada uang. Terus terang, seniman di Makassar itu, kalau nama yes. Juga wow.
Mereka belum tahu di belakang Ridwan Sau. Bagaimana keadaan keluarganya. Secara nama populer memang, tapi duit no. Hari ini dapat duit, besoknya habis lagi. Begitu seterusnya. Boro-boro nabung,” jelasnya.
Menurutnya, menjadi seorang penyanyi bagi seniman Makassar, selain sekadar hobi dan menyalurkan bakat, juga lahan untuk mencari hidup. Beda dengan artis Jakarta yang sekada menyalurkan hobi tanpa mengharapkan banyak dari sisi finansial. ”99,9 persen penyanyi lagu Bugis-Makassar cari hidup di situ,” tandasnya.
Ridwan Sau merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sebagai tulang punggung keluarga, ia mesti menghidupi sanak familinya. Meski tidak memungkiri dirinya bisa membeli mobil dan rumah, walau masih kecil. Belum lagi situasi pandemi covid-19, jarang ada undangan untuk manggung. Juga persaingan banyaknya penyanyi baru.
Selain itu, untuk album yang dihasilkannya, berlaku kontrak khusus. Jika semua proses telah selesai ia langsung dibayar. Laku atau tidaknya album tersebut menjadi tanggungan label. Penyanyi tidak punya hak, walau biasanya masih mendapatkan uang terima kasih bila ada album yang meledak. (*/rus)

