SALAH satu cabang kedokteran yang tengah berkembang saat ini adalah kedokteran nuklir. Apa itu dan seperti apa manfaatnya? Dokter As’ari As’ad,Sp.KN-TM mengulasnya di podcast kanal Youtube Berita Kota Makassar.
SEBELUM lebih jauh membahas tentang kedokteran nuklir, dr Ari –sapaan akrab dr As’ari– ia sedikit menjelaskan tentang gelar yang ada di belakang namanya, yakni Sp.KN-TM. Titel itu merupakan singkatan dari Spesialis Kedokteran Nuklir Teranostik Molekuler.
Kedokteran nuklir merupakan terapi untuk penyakit tiroid dan hypertiroid yang berkaitan dengan fungsi kelenjar gondok yang berlebihan. Juga untuk mengobati pengidap nyeri tulang akibat penyebaran sel kanker.
”Kedokteran nuklir adalah suatu cabang spesialis kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka. Kalau kita di Indonesia ini, berdasarkan undang-undang dan peraturan Kementerian Kesehatan, yang menggunakan radiasi untuk melakukan deteksi penyakit ada tiga. Pertama adalah radiologi dengan alat X-Ray, CT-Scan, dan MRI. Kedua, ongkologi radiasi. Mereka adalah teman-teman dokter spesialis radsioterapi yang berperan untuk terapi kanker menggunakan alat. Ketiga yaitu kedokteran nuklir. Di cabang kedokteran ini menggunakan sumber radiasi terbuka dengan tipe radiasi yang dipancarkan untuk dua fungsi. Satu untuk diagnostik, satunya lagi memancarkan sinar untuk terapi. Dua fungsi ini biasa disingkat dengan teranostik (terapi dan diagnostik),” jelas dr Ari.
Lalu, di mana dr Ari memperdalam ilmu cabang kedokteran ini? ”Satu-satunya tempat pendidikan kedokteran nuklir ini adalah di Faklutas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung,” ungkap pria kelahiran Bulukumba ini. Ia menjadi satu-satunya dokter dengan spesialisasi kedokteran nuklir teranostik molekular di Sulawesi Selatan saat ini.
Selama menggeluti bidang ini, dr Ari mencatat sudah ada ribuan orang yang menjalani diagnostik dan terapi. Khusus untuk Sulsel, jumlahnya cukup banyak. Ia menyebut setiap bulan ada 4-5 kasus baru kanker tiroid di daerah ini.
Hanya saja, pasien masih harus menjalani terapi penyakit yang diidapnya di Bandung. Karena, menurut dr Ari, di Makassar belum ada alatnya.
”Untuk saat ini kami masih dalam tahap perjuangan untuk mendapatkan alatnya. Berharap semoga ke depan bisa bertemu dengan pemangku kebijakan di daerah ini agar alatnya bisa tersedia. Secara umum di Indonesia, kedokteran nuklir ini berkembang di pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Untuk Indonesia timur, alatnya belum ada,” ungkap dr Ari.
Ada dua alat dengan tekonologi canggih yang diperlihatkan dr Ari untuk mendukung kerja-kerja dokter spesialisi kedokteran nuklir. Masing-masing PET (Positron Emission Tomography), yang merupakan modalitas pencitraan canggih dan mutakhir. PET adalah prosedur pencitraan yang menunjukkan fungsi kimiawi suatu organ atau jaringan di samping strukturnya, terutama kanker. Satu alat lainnya adalah spec, yang fungsinya mengecek penyebaran kanker di tulang.
Disebutkan dr Ary, terapi kanker yang berkembang di Indonesia saat ini ada lima, yaitu kanker tiroid, gondok beracun (hypertiroid untuk yang resisten dengan obat-obat tiroid), pengobatan nyeri tulang, keloid (di kulit ada luka timbul tumpukan daging), serta neuroblastoma pada anak. Selain itu, pula terapi spesifik untuk kanker protast dan kanker kelenjar getah bening.
Dia menegaskan, untuk mendapatkan persentase kesembuhan dalam terapi kanker tiroid adalah melakukan deteksi secara dini (early detection). Jika telah menjalani terapi, harus rutin kontrol dan tetap menjaga pola hidup sehat. (*/rus)

