MAKASSAR, BKM — Masih ingat dengan Rosmiati, ibunda dari Aisyah (11), yang sehari-harinya berjualan donat keliling di kawasan Jalan Rappokalling Timur, Kecamatan Tallo. Perempuan itu hanya bisa berbaring di atas kasur tipis dalam rumah kayu yang kondisinya memprihatinkan.
Dadanya masih sering sakit kalau menarik napas. Kedua kakinya juga tidak dapat lurus. Tubuhnya masih kurus.
Bukan tanpa usaha Rosmiati untuk mendapatkan kesembuhan. Ia sudah pernah menjalani pengobatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar sekitar enam bulan lalu. Namun, ikhtiar itu belum berbuah manis. Kondisinya belum baik. Ia masih tak berdaya.
Rasa sakit nyeri pada dadanya hingga saat ini belum juga hilang. Diperparah nafsu makannya yang semakin menurun. Beruntung dia masih dapat berbicara ke anak-anaknya.
“Masih seperti duluji. Belum baik. Kaki belum bisa lurus. Ini dada sakit kalau ambil napas. Rasanya nyeri. Makanan juga tidak mau turun ke tenggorokan. Tiga sendok makan sudah banyak. Kalau lebihmi saya muntahkan kalau masuk,” aku Rosmiati yang ditemui di rumahnya, Senin (15/11).
Rosmiati memiliki empat orang anak. Tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Anak perempuannya bernama Aisyah yang tertua. Putri sulungnya itu yang sempat sehari-hari berjualan donat keliling demi membantu memenuhi kebutuhan ibunya yang sakit dua tahun belakangan. Pendapatan jualan donat keliling digunakan untuk makan, beli obat dan sebagiannya lagi diputar sebagai modal. Namun sekarang ini Aisyah tidak lagi jualan donat keliling.
Saat penulis berkunjung ke rumahnya di Jalan Rappokalling Timur, Lorong 3, Kelurahan Tammua, Kecamatan Tallo, sosok perempuan yang masih duduk di bangku kelas V SD tampak duduk menemani ibunya.
“Aisyah sekarang sudah tidak lagi jualan donat. Tetangga banyak yang simpatik, terutama ibu RT yang meminta agar Aisyah fokus saja jaga saya (ibunya). Kalau ada kebutuhan bisa disampaikan untuk dibantu,” ujar Rosmiati dengan suara lemah.
Kehidupan Rosmiati bersama anak-anaknya benar-benar sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari kayu di sebuah lorong sempit. Kayunya sudah banyak yang lapuk. Rosmiati tidak dapat bergerak banyak. Warna kulitnya masih gelap. Dua tangannya masih kaku dan kedua kakinya pun begitu. Tidak bisa diluruskan. Kalau dipaksa terasa sakit.
Ketika sempat mendapatkan perawatan medis di RSUD Daya Makassar, Rosmiati mengaku pihak medis tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya. Mendengar pernyataan itu, membuat dirinya berpasrah. Diapun memilih untuk pulang ke rumah saja.
“Sudah. Janganmi lagi ke rumah sakit. Biarkanmi saya di sini (rumah) saja. Pihak rumah sakit juga bingung mengaku tidak tahu apa sakitku ini. Biarkanmi saya di rumah saja. Kalau pengobatan tradisional nonmedis bilang kalau saya ini terkena santet,” imbuhnya.
Yang dirisaukan Rosmiati sekarang ini adalah, bagaimana anak-anaknya bisa mendapatkan perhatian baik dan layak untuk hidupnya. Di tengah kondisinya sekarang ini, untuk bisa makan sehari-hari saja ia sudah bersyukur.
“Harapan tentu mau sembuh juga, tapi bagaimana lagi. Saya mau bekerja lagi, cari uang buat anak-anak. Saya kasihan anak-anak saya,” tuturnya.
Dia pun kembali mengingat kalau sakitnya ini secara tiba-tiba saja. Diawali rasa sakit di kepala ketika pulang bekerja di pabrik pembuatan roti. Sekitar Pukul 21.00 Wita kala itu, kepalanya terasa hendak ‘pecah’ dan badannya demam. Pikir orangtuanya karena efek atau pengaruh kehamilannya.
“Waktu itu saya masih mengandung anak bungsu saya itu. Dipikir karena itu. Apalagi waktu ke RS juga tidak ditahu sakitnya apa. Kemudian berselang beberapa hari warna kulit badanku gelap, disusul tangan dan kaki yang kaku. Sampai sekarang ini sudah dua tahun,” tandasnya. (Arf)

