PROFESI juru rias atau make up semakin digandrungi. Tidak heran jika banyak even digelar untuk menjaring mereka yang memiliki potensi besar di bidang ini. Salah satunya adalah even yang dilaksanakan sebuah produk kecantikan di Makassar beberapa waktu lalu.
DUA wanita pemenang ajang tersebut hadir dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Mereka adalah Tuti Susilawati dan Alfiani Kumalasari. Dua perempuan cantik yang akrab disapa Tuti dan Chiko itu berbagi kisah dan pengalamannya bergelut di dunia make up.
Antara Tuti dan Chiko memiliki latar belakang yang sama. Mereka adalah mantan karyawati perusahaan swasta yang kemudian mencoba beralih menjadi trainer di dunia entrepreneur dengan menyediakan jasa make up.
Keduanya pun kompak mengikuti ajang Wardha Beauty Class, hingga akhirnya terpilih menjadi pemenang. ”Tentu merasa bangga bisa menjadi pemenang,” ujar Tuti yang dulu pernah bergabung di sebuah operator telepon selular.
Chiko yang dulunya karyawati swasta, juga berjualan secara online. Ia mengaku tertarik terjun ke dunia make up karena ingin terus menggali sesuatu yang baru.
Menurut Tuti, ia mengikuti even lomba rias wajah setelah mendapat informasi melalui media sosial Instagram. Dirinya tertarik karena produknya sudah punya kelas dan dikenal. Begitu pula dengan trainernya. ”Kenapa tidak mengambil ilmu dari situ. Tidak ada ruginya,” tuturnya.
Sementara Chiko mengaku ikut ajang ini karena diajak oleh Tuti. ”Saya diajak oleh Kak Tuti. Bilangnya, dicoba saja dulu,” imbuhnya.
Berhasil keluar sebagai pemenang, Tuti berjanji akan bertahan di profesi ini. Alasannya karena sudah menjadi passionnya. ”Sudah ketemu dan bisa menghasilkan sesuatu,” katanya sambil tertawa.
Demikian pula halnya dengan Chiko. Apalagi ia memang sudah mengenal dan tertarik dunia make up setelah tamat SMA. ”Apalagi sudah dapat cuan,” imbuhnya disertai tawa.
Tuti berujar, sejak menjadi karyawan swasta dirinya sudah menerima beberapa job untuk make up. Hal itu jalani ketika tidak masuk kantor, seperti Sabtu dan Minggu. Namun, bila ada yang bertepatan dengan hari kerja, ia berusaha untuk menyesuaikan. ”Waktu itu kerja menjadi prioritas, karena saya kan karyawan swasta,” katanya.
Tuti menyadari bahwa profesi ini memiliki peluang yang cukup besar. Setelah resign dari tempatnya bekerja, ia mencoba untuk fokus. Sayangnya, pandemi covid-19 menjadi kendala. Even yang butuh jasa make up, seperti pernikahan dan wisuda sangat jarang dilaksanakan.
Namun, seiring dengan kebijakan pelonggaran aktivitas warga, satu persatu tawaran diterima, baik oleh Tuti maupun Chiko. Media sosial menjadi tempat mereka berpromosi. Foto hasil riasannya diunggah.
”Perkembangan profesi make up ini luar biasa dan makin banyak peminatnya. Tapi itu kami tidak anggap sebagai saingan, melainkan memotivasi untuk diri sendiri agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Untuk itu kita selalu mengikuti tren yang ada supaya tidak ketinggalan,” terangnya. (*/rus)

