MAKASSAR, BKM — Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika telah mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang bakal melanda Makassar selama tiga hari, 18-20 Januari. Ternyata prediksi tersebut cukup tepat. Pada Selasa (18/1), hujan lebat dan angin kencang terjadi di Makassar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar Hendra Hakamuddin menerangkan, cuaca ekstrem yang terjadi mengakibatkan sedikitnya empat rumah rusak berat dan terjadi genangan air di beberapa wilayah.
“Hujan deras dan angin kencang yang terjadi mengakibatkan tiga rumah di Kecamatan Manggala dan satu di Panakkukang rusak. Atapnya terangkat. Saat ini, BPBD sementara turun ke lapangan menyampaikan bantuan stimulan bencana,” ungkap Hendra saat ditemui di War Room BPBD Makassar, Jalan Kartini, Selasa (18/1).
Selain itu, ada sejumlah wilayah yang tergenang air, namun belum dikategorikan banjir. Di antaranya di Jalan poros Paccerakkang, tepatnya depan Yayasan Gubernur hingga depan Masjid Al Mubarak.
Saat hujan deras terjadi, mobil dan motor tidak bisa melewati wilayah yang tergenang. Sejumlah kendaraan yang memaksa untuk melewati genangan berakhir mogok. Namun setelah hujan deras berhenti dan air surut.
Selain itu, wilayah di sekitar SMPN 19 Antang juga tergenang air mengakibatkan sekolah tersebut terendam. Hujan deras dan angin kencang juga mengakibatkan pohon tumbang di Jalan Nipah-nipah, Kompleks Pemda Blok C10 Kelurahan manggala Kecamatan Manggala.
Hendra mengatakan, sejak mendapat warning atau peringatan dini dari BMKG, pihaknya langsung menetapkan siap siaga darurat banjir. Posko bencana di seluruh wilayah Makassar diintensifkan.
“Kita terus waspada, menginstruksikan teman di lapangan untuk terus melakukan monitoring terhadap lokasi-lokasi rawan banjir. Tim melapor setiap satu jam ke posko,” kata Hendra.
Pihaknya juga meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk senantiasa memantau wilayah masing-masing.
Khusus di wilayah yang memiliki tempat wisata, Hendra meminta kepada pemerintah setempat agar warga jangan dulu mendatangi tempat-tempat wisata, khususnya yang dekat dengan laut.
“Dikhawatirkan terjadi peristiwa seperti kejadian beberapa hari lalu, ada korban yang terseret ombak di Pantai Anging Mammiri. Jadi saya sampaikan untuk jauhi tempat wisata. Ombak mencapai ketinggian satu meter lebih,” ungkapnya.
Sejauh ini, pihaknya telah menurunkan bantuan ke rumah-rumah yang terdampak angin kencang. Bantuan yang diberikan berupa tenda, selimut, sarung. “Kita akan akan memberikan material seperti seng, balok, tripleks,” tandasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) juga bergerak cepat dalam penyaluran bantuan untuk korban terdampak bencana angin puting beliung di Kota Makassar.
Dari data Pusdalops BPBD Kota Makassar, hujan disertai angin kencang terjadi di Makassar. Akibatnya, tiga rumah rusak diterpa angin puting beliung di Jalan Raya Baruga Kampung Baruga, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala. Tiga rumah yang rusak itu dengan jumlah 3 Kepala keluarga (KK) atau 15 jiwa.
“Tim BPBD Provinsi tengah mempersiapkan bantuan logistik pangan dan logistik shelter untuk korban terdampak angin puting beliung di Jalan Raya Baruga, Antang,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman, kemarin.
Ia pun berharap, bantuan logistik ini dapat bermanfaat dan membantu warga terdampak bencana. “Kehadiran pemerintah tentu untuk memastikan kesiapan logistik bantuan tepat sasaran dan dapat membantu korban terdampak,” ujarnya.
SMP 19 Terendam Banjir
Satu gedung SMP di Kelurahan Antang, yakni SMP Negeri 19 Makassar terendam banjir, kemarin. Air masuk hingga ke dalam kelas. Ketinggiannya mencapai betis orang dewasa. Akibat sekolahnya terendam, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar Muhyiddin menginstruksikan untuk memulangkan siswa di sekolah tersebut.
Sebenarnya, pada pagi kemarin, proses pembelajaran di SMPN 19 masih berjalan normal. Namun, saat hujan deras mulai terjadi sekitar pukul 10.00 Wita, tetiba air masuk ke dalam ruang-ruang belajar. Akibatnya, proses belajar mengajar dihentikan.
“Peserta didik terpaksa dipulangkan karena air masuk ke dalam kelas. Yang kena ini yang sesi kedua sampai jam 11. Jadi mereka disuruh pulang dulu, pembelajaran sementara secara online,” ujarnya.
Muhyiddin menambahkan, sejauh ini hanya SMP 19 yang melaporkan memulangkan siswanya akibat cuaca ekstrem. Sekolah lain, baik SD maupun SMP di Makassar tetap melakukan pembelajaran tatap muka terbatas seperti biasanya.
“Saya minta kepala sekolah untuk melaporkan progress terkait kondisi sekarang curah hujan yang tinggi,” tegasnya.
Jika ada perkembangan cuaca buruk, maka pihaknya akan menindaklanjuti dengan menginstruksi pembelajaran secara online atau daring. “Kalau ada yang terjadi kita ubah belajar di rumah saja. Untuk saat ini tetap di sekolah,” pungkasnya. (rhm)

