USAHA tak pernah mengkhianati hasil. Ya, begitu yang dilakoni oleh Muh Thamrin. Berjualan ayam potong sejak masih duduk di bangku kuliah, ia kini menikmati hasilnya. Menjadi seorang peternak sukses lalu terpilih menjadi wakil rakyat di kampung halamannya, Kabupaten Bulukumba.
MUH THAMRIN adalah alumni Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas). Ketika masih duduk di bangku kuliah, ia memang sudah bergelut dengan bisnis jualan ayam potong di kampus. Ia juga biasa berjualan tahu. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari upayanya membiayai kuliahnya.
”Waktu itu bapak sudah meninggal. Sementara saya masih butuh biaya untuk kuliah. Karena kuliah di Fakultas Peternakan, jadilah kita jualan ayam di kampus,” terangnya ketika menjadi narasumber dalam podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Dari hasil yang diperolehnya, Thamrin semakin termotivasi untuk mencari yang di Makassar. Bahkan ia semakin eksis dan sudah bisa memakai mobil. ”Pertama muncul HP, kita yang pertama pakai. Setiap lebaran jual ayam di Pasar Terong,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan kuliah di bulan Juni tahun 2000, Thamrin kembali ke kampung halamannya di Kajang, Bulukumba. Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya saat di kampus, ia kemudian membangun usaha peternakan ayam. Ketika itu masih skala kecil. Awalnya hanya 500 ekor.
”Waktu itu potensinya cukup besar sehingga cepat perkembangannya. Hanya dalam tempo dua tahun, berkembang menjadi 7.000 ekor. Ketika itu saingan memang masih kurang,” jelasnya.
Jika banyak yang berpikiran setelah selesai kuliah harus mencari kerja dulu baru menikah, tidak demikian dengan Thamrin. Target awalnya adalah menikah dulu baru cari pekerjaan.
”Januari 2001 saya menikah, tidak lama setelah diwisuda. Dari situ mulai beternak dengan skala kecil-kecilan. Kemudian berkembang ke ayam broiler dan kemitraan kecil-kecilan. Saya yang menjadi intinya dan membina peternak plasma. Masih kurang persaingan usaha waktu. Hitungan jari orang yang menjadi peternak ayam. Masih satu-satu yang masuk. Targetnya 50 ribu ekor per bulan,” terangnya.
Dari beternak ayam, Thamrin kemudian melirik dunia politik. Merintis selama empat tahun, yakni 2008-2013, ia lalu maju bertarung di pemilihan anggota legislatif pada tahun 2014. Bersamaan dengan itu, usaha ayam potongnya berhenti. Salah satu penyebabnya, karena persaingan usaha semakin ketat. Banyak perusahaan besar yang masuk. Fokus Thamrin adalah ayam petelur. Ia masih punya peternak binaan, khususnya untuk sharing ilmu dan edukasi peternak.
Melalui Partai Nasdem, Thamrin yang bersaing di daerah pemilihan (dapil) Kecamatan Kajang, Herlang, dan Bonto Tiro akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Bulukumba periode 2014-2019. Selanjutnya terpilih lagi untuk periode kedua tahun 2019-2024.
”Tuga pokok di DPRD tetap dilaksanakan sesuai fungsi-fungsi dewan. Kalau bertani itu hobi sejak kecil, karena saya lahir dari keluarga petani. Karena ada kesempatan untuk menyalurkan hobi, itu yang dilakukan. Kebetulan juga ada lahan. Di samping ada hasil, juga menyehatkan,” jelasnya.
Memiliki latar belakang keluarga petani, Thamrin dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat, kemudian terus berjuang untuk kepentingan petani. Menurutnya, anggaran untuk petani hendaknya seimbang di setiap dapil. Termasuk ketersediaan pupuk yang kerap memunculkan riak ketika musim tanam tiba.
”Kenapa selalu muncul riak seperti ini? Sementara lahan tidak pernah bertambah, data selalu diminta setiap tahun untuk urusan pupuk. Harusnya perhatian pemerintah lebih fokus terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan petani,” tandasnya. (*/rus)

