pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mager Secukupnya, Berjuang Selelahnya

Sulfahri Albar, Entertainer dan Entrepreneur

MAGER alias malas gerak menjadi salah satu diksi yang umum ditemukan dalam pergaulan kalangan milenial saat ini. Asyik bermain gawai membuat mereka lebih banyak duduk atau berbaring. Padahal, ada banyak aktivitas berguna yang bisa dilakoni.

SULFAHRI ALBAR atau yang akrab disapa Fahri, punya pesan khusus kepada sesamanya milenial soal mager. ”Mager secukupnya, berjuang selelahnya,” ucapnya ketika menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Ia mengapresiasi BKM yang memberikan edukasi terbaiknya, khususnya kepada milenial.
Fahri adalah seorang entertainer. Ia pemain film, pewara (MC), serta presenter. Ada sejumlah film yang telah dibintanginya. Baru-baru ini salah satu filmnya ikut berlaag dalam Festival Film Makassar (FFM) 2022. Berperan sebagai pemain utama dalam film bergenre horor romantik itu. Selain bermain film, Fahri biasa mengisi kekosongan waktunya menjadi MC.

Pertama kali terjun di dunia entertain pada 2017, anak kedua dari empat bersaudara ini langsung dipercaya menjadi direktur sebuah Production House (PH) di Makassar. Beberapa film layar leber pernah dibuat. PH tersebut masih ada sampai sekarang.
Dari sejumlah film yang dimainkannya, ada gender romantik, melankolis, dan sedih. Fahri mengaku lebih suka genre romantik, karena dirinya tipe cowok romantis yang memberikan kebahagiaan kepada lawan jenis. ”Seorang laki-laki selain bertanggung jawab, juga harus romantis,” ujarnya.
Dalam berlakon, Fahri berusaha untuk maksimal. Tidak heran jika dirinya selalu memosisikan diri sesuai peran. Misalnya sebagai pacar atau suami, ia selalu melakukannya terhadap lawan mainnya.

Tentang MC, Fahri mengaku belajar secara otodidak. Ketika masih duduk di bangku SD dirinya sudah terbiasa mengikuti lomba pidato dan baca puisi. Karenanya, dia selalu merasa perdaya diri jika sudah berada di atas panggung. Sudah tidak ada lagi demam panggung.
Fahri mengaku punya pengalaman unik selama menggeluti profesi MC. ”Waktu itu saya diundang secara mendadak salah satu perusahaan besar. Acaranya tinggal satu jam lagi dimulai. MC pertama yang diundang tiba-tiba membatalkannya. Pesertanya 1.200 orang. Walau persiapannya hanya 30 menit, Alhamdulillah acaranya berjalan sukses. Niatnya memang untuk memberikan yang terbaik,” terangnya.

Untuk menanamkan rasa perdaya diri yang tinggi, Fahri lebih banyak berdoa. ”Karena kita tidak tahu akan salah kata di depan banyak orang. Bismillah saja. Apalagi niatnya baik, mau membantu orang dalam menyukseskan acaranya,” imbuhnya.
Ia juga mengungkap pengalaman terburuk yang pernah dialami. ”Pernah MC di salah satu hotel untuk acara pernikahan. Acaranya padat sekali. Dari pagi, siang, dan malam. Waktu acara malam, saya bilang selamat siang. Saya langsung minta maaf dan bilang selamat malam dengan cara-cara yang sedikit lucu,” ungkapnya.

Pernah pula ketika menjadi pembawa acara di Jakarta, ia menyebut nama perusahaannya, padahal itu acara perusahaan lain. Lagi-lagi ia meminta maaf dengan menyampaikan dirinya ingat perusahaan miliknya. ”Jadi intinya, ketika mau terjun menjadi MC, jangan panik. Setelah melakukan kesalahan, usahakan minta maaf,” terangnya.
Selain sebagai entertainer, cowok yang suka olahraga bulutangkis ini juga seorang entrepreneur. Salah satunya usaha kafe.
Ketika pandemi covid melanda, Fahri mengaku harus tetap survive. Ia lalu berpikir anak muda Makassar sukanya apa. Ketemulah dengan kata nongkrong. Karena apapun yang terjadi, mereka tetap nongkrong. Caranya, menyelesaikannya di atas meja kopi. Dari situlah dirinya membuka kafe walau masih kecil-kecilan. Kafe tersebut masih beroperasi hingga saat ini.
”Nongkrong menjadi salah satu menyelesaikan masalah. Yang penting tetap mengikuti dan menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.
Bagi Fahri, apa yang dilakukannya bukan dilihat pada hasilnya. Semuanya berproses, khususnya dalam menciptakan peluang kerja, membantu orang-orang di sekitar serta keluarga.
Tentang pendidikan, ada kisah haru yang diceritakan pria berdarah Bugis Bone ini. Ketika hendak melanjutkan kuliah, ia sempat dilarang oleh orang tuanya yang ketika itu tinggal di Papua. Penyebabnya soal biaya.
Walau begitu, Fahri tetap melanjutkan pendidikannya. Untuk membiayai kuliah, ia rajin mengikuti berbagai seminar. Mulai dari seminar bisnis, properti, multi level marketing (MLM), hingga asuransi. ”Yang penting biasa hasilkan uang. Saya harus tetap kuliah,” tandasnya. (*/rus)




×


Mager Secukupnya, Berjuang Selelahnya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link