MAKASSAR, BKM — Pagi itu, Jumat (26/8), sedikitnya 100 nelayan berkumpul di Kampung Nelayan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Hal ini menjadi pemandangan langka di lokasi ini. Sebab, pada jam tersebut, biasanya para nelayan tengah beristirahat di rumahnya setelah semalam suntuk pergi melaut.
Nelayan-nelayan tersebut merupakan anggota Komunitas Nelayan Pesisir Sulawesi Selatan untuk wilayah Makassar. Mereka berasal dari berbagai desa di pesisir Kota Anging Mamiri.
Koordinator Komunitas Nelayan Pesisir Makassar, Angga Januari mengatakan, berkumpulnya para nelayan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi, serta menyatukan dukungan terhadap sosok Ganjar Pranowo untuk pemilihan presiden 2024 mendatang.
Angga menjelaskan, ia telah mengikuti kepemimpinan Ganjar sejak lama dari berbagai pemberitaan di media. Dirinya berkeyakinan, Ganjar adalah sosok pemimpin yang memiliki kualitas pribadi yang sangat baik, jujur apa adanya, dan telah terbukti sangat peduli masyarakat kecil. Termasuk para nelayan di pelosok-pelosok.
“Hal ini telah terbukti di Jawa Tengah. Pak Ganjar memberikan asuransi untuk 10.000 nelayan di sana. Dia juga selalu membantu nelayan di masa suram. Contohnya, membantu saat nelayan kesusahan solar untuk melaut,” ujar Angga di lokasi.
Asuransi tersebut diketahui merupakan program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) yang diresmikan Ganjar Pranowo, agar para nelayan di Jawa Tengah bisa tenang saat melaut. Asuransi akan memberikan dana bantuan bila nelayan mengalami kecelakaan, baik di darat maupun di laut.
Saat ini, diketahui hampir 80 persen nelayan di Jawa Tengah telah memiliki asuransi.
Angga pun berharap program tersebut bisa dirasakan oleh semua nelayan di seluruh Indonesia.
Menurutnya, hal ini bisa meredam kecemasan para nelayan yang masih khawatir terhadap keluarganya di rumah saat mereka pergi melaut.
“Harapan kami, semoga Pak Ganjar bisa jadi presiden, dan membantu nelayan di seluruh Indonesia, termasuk kami di Sulsel. Harapan kami juga agar Pak Ganjar bisa mengamankan pasokan solar untuk nelayan, dan menstabilkan harga produk laut di pasar. Sebab saat ini harga jual naik turun. Jika nelayan sudah sejahtera, pasti kita bisa merdeka pangan dari hasil laut,” harap Angga.
Lebih lanjut Angga menuturkan, komunitas ini akan terus aktif mengkonsolidasikan dukungan untuk Ganjar Pranowo di kalangan nelayan lain di pesisir Makassar. Ia juga menyebut akan menggelar kegiatan positif lainnya untuk menyejahterakan anggota komunitas nelayan ini.
“Seperti hari ini (Jumat, 28/8) kita mendistribusikan bingkisan berupa sembako untuk para nelayan. Sementara ke depannya, kita juga akan menggelar sejumlah pelatihan untuk para nelayan. Salah satunya pelatihan keamanan atau safety. Sehingga kecelakaan kerja saat melaut bisa dihindari,” pungkas Angga.
Harapan Besar Nelayan Makassar
Terpisah, koordinator kelompok nelayan wilayah Untia, Febianti menilai, Ganjar adalah sosok memahami dengan baik permasalahan para nelayan. Hal ini pun menjadi alasannya mendukung pria berambut putih tersebut.
Menurutnya, nelayan di pelosok Makassar membutuhkan pemimpin yang bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang telah lama mereka derita. Mulai dari buruknya infrastruktur dermaga, harga jual produk laut yang kerap anjlok, hingga tidak kunjung adanya bantuan untuk peremajaan kapal nelayan kecil.
“Semoga kalau Pak Ganjar jadi presiden, ia bisa mendatangkan bantuan peremajaan kapal-kapal nelayan kecil. Soalnya, nelayan kecil ini penghasilannya tidak cukup untuk memperbaiki kapal mereka, jadi sangat berharap adanya bantuan,” kata Febi.
“Lalu kami juga ingin akses ke dermaga ini bisa diperbaiki. Seperti di sini (Untia), jembatan (menuju dermaga) sudah rusak parah. Susah sekali mau lewat. Makanya, saya berharap agar nantinya kalau Pak Ganjar jadi presiden, ini akses ke dermaga bisa diperbaiki,” tambahnya.
Harapan juga disampaikan salah satu ketua kelompok nelayan setempat, Samparanaing. Pria paruh baya yang telah menjadi nelayan selama lebih dari 50 tahun tersebut, berharap terpilihnya Ganjar mampu membawa kebijakan yang menguntungkan para nelayan. Khususnya kebijakan pembelian bahan bakar.
Samparanaing menuturkan, para nelayan di wilayahnya sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kapalnya melaut. “Jadi, selain tempat belinya jauh, kita juga tidak boleh beli bensin itu pakai jerigen. Hanya boleh pakai botol. Sementara kita kan tidak mungkin bawa mesin kapal untuk langsung isi bahan bakar di sana,” kata Samparanaing.
Pria berusia 75 tahun tersebut menceritakan, bila membeli bahan bakar menggunakan botol, ia hanya mendapat sekitar dua liter bensin. Padahal, kapalnya membutuhkan sedikitnya 10 liter untuk bisa melaut. Hal tersebut menyebabkan dirinya terpaksa bolak balik untuk membeli bahan bakar kapal.
“Jadi kalau Ganjar jadi presiden, semoga bisa membawa perubahan ke kami. Perubahan yang lebih baik. Khususnya bisa mempermudah kami soal bahan bakar,” harapnya. (adv)

