WAJAH Rahmatiah (14) terlihat sumringah. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya bisa mengenakan seragam sekolah. Kamis (1/9) kemarin, dia secara resmi tercatat sebagai siswa kelas 7 di SMPN 13 Makassar.
Laporan: RAHMA AMRI
Sebelumnya, Rahmatiah tercatat sebagai anak putus sekolah. Setelah menamatkan SD, dia sempat mendaftar di salah satu SMP negeri. Namun dia tidak lulus.
Keinginannya untuk bersekolah sangat kuat. Karena setelah tidak diterima di sekolah negeri, dia ingin melanjutkan di sekolah swasta. Namun sayang, kandas karena terkendala pada biaya.
Orang tuanya, Jamaluddin hanya seorang buruh serabutan yang kadang bekerja dan kadang tidak. Sementara ibunya hanya berjualan makanan jadi. Itupun juga kadang jualan kadang tidak.
Ketika diperhadapkan pada pembayaran sekolah di swasta, lulusan SD Kelapa Tiga tersebut terpaksa memupuskan mimpinya untuk bersekolah.
Rahmatiah pun menjadi anak putus sekolah. Waktunya dihabiskan untuk membantu ibunya berjualan.
Namun Rahmatiah beruntung. Saat Kepala Dinas Sosial, Aulia Arsyad, melakukan pendataan di Lorong Wisata Kelurahan Ballaparang Kecamatan Rapoccini, Selasa (30/8), diketahui jika remaja tersebut putus sekolah.
Kadinsos pun segera berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin Mustakim terkait persoalan tersebut.
Tidak tunggu waktu, Muhyiddin langsung mencari nomor telepon orang tua Rahmatiah untuk komunikasi terkait nasib pendidikannya.
“Jadi begitu dapat informasi, kami langsung menghubungi orang tua anak itu. Sekitar jam 12 malam saya telepon. Saya katakan, kami akan fasilitasi anaknya untuk sekolah,” ungkap Muhyiddin.
Kadis Pendidikan pun memilih SMPN 13 untuk sekolah Rahmatiah karena jarak paling dekat dengan rumahnya.
Selanjutnya, Rahmatiah bersama orang tuanya diminta untuk ke sekolah tersebut pada Rabu (31/9).
Keesokan harinya, Rahmatiah pun ke SMPN 13. Dia disambut dengan hangat oleh Kepala Dinas Pendidikan dan seluruh guru di sana. Malah, mereka urunan untuk membelikan Rahmatiah perlengkapan sekolah. Mulai dari tas, sepatu, baju seragam, hingga buku- buku sekolah.
Rahmatiah ditemani sang ayah, Jamaluddin, tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Anak dan bapak tersebut menangis bahagia karena tidak menyangka akan mendapat nasib baik.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Muhyiddin Mustakim mengatakan, pihaknya memang mendorong semua anak untuk sekolah.
“Itu sejalan dengan program strategis Bapak Wali Kota, Revolusi Pendidikan Semua Harus Sekolah,” ungkapnya.
Sejauh ini, kata Muhyiddin pihaknya sudah melakukan pendataan untuk mengetahui berapa banyak anak putus sekolah untuk segera dilakukan intervensi agar bisa kembali mengenyam pendidikan.
Diapun meminta keterlibatan berbagai pihak hingga ke RT/RW untuk melaporkan ke Disdik jika ada anak tidak sekolah di wilayah masing-masing.
“Pokoknya kalau ada anak yang ditemukan tidak sekolah, kasih saja nomorku. Suruh hubungika. Nanti kami akan melakukan intervensi untuk memasukkannya ke sekolah,” tandas Muhyiddin.
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMPN 13, Ismuddin menjamin Rahmatiah akan belajar dengan baik tanpa harus memikirkan biaya pendidikan di sekolah tersebut.
“Kita di sini tidak ada pembayaran. Yang dilakukan terkait pengadaan buku semua gratis. Kita di sini ada kegiatan Kamis beramal untuk digunakan kalau ada siswa tidak mampu. Kita penuhi apa kebutuhan siswa kami,” tandasnya. (rhm)

