ORGANISASI Angkutan Darat (Organda) Kota Makassar memastikan kenaikan tarif angkutan umum jenis petepete. Hal itu disesuaikan dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik drastis sejak pekan lalu.
Ketua Organda Sulawesi Selatan Zainal Abidin, mengatakan sopir petepete sepakat untuk menaikkan tarif 10 persen. Yakni ada kenaikan Rp2.000 per estafet, yang berlaku mulai ini, Senin (5/9).
“Mulai hari ini, Senin (kemarin) naik jadi Rp9.000 dari harga Rp7.000 per estafet. Kita sepakat naikkan Rp2.000,” kata Zainal saat dikonfirmasi.
Kenaikan tarif juga berlaku untuk pelajar, yang selama ini Rp3.000 naik menjadi Rp5.000.
“Jalur yang jauh itu naik menjadi Rp9.000 seperti Sudiang-Sentral. Tapi jalur yang lain, jauh dekat kita kasih Rp8.000,” sebutnya.
Zainal mengaku kenaikan ini diputuskan oleh Organda sendiri. Bukan lewat aturan pemerintah.
Ia menilai perlu untuk langsung melakukan penyesuaian tarif karena mendesak. Jika harus menunggu keputusan pemerintah, cukup butuh waktu.
Sementara, tarif angkutan umum yang ada saat ini masih sesuai dengan harga BBM premium. Padahal, angkutan umum selama ini sudah beralih menggunakan pertalite.
“Kalau mau tunggu keputusan pemerintah, mau sampai kapan. Sementara pemerintah saja tidak butuh waktu untuk menaikkan BBM. Langsung naik kan,” keluhnya.
Zainal mengaku sadar betul akan kenaikan tarif ini. Penumpang akan semakin sepi.
Namun, ia mengaku pihaknya tak bisa berbuat banyak. Kenaikan BBM kali ini yang paling menyiksa.
“Ini sejarah kenaikan BBM di Indonesia. Di tahun 2009, 2013, 2014 itu rata rata kenaikan hanya Rp500. Dua tahun terakhir yang paling menyiksa ini kan. Sudah berapa kali terjadi perubahan harga di Pertalite. Sudah tiga kali di tahun 2021. Kenaikan 3 September ini yang sangat terasa,” bebernya.
Sementara, Kepala Dinas Perhubungan Pemprov Sulsel Muhammad Arafah, mengatakan kenaikan tarif angkutan umum harus melalui keputusan pemerintah. Pihaknya baru akan merapatkan hal ini pada Kamis, 8 September.
“Nanti hari Kamis baru rapat koordinasi. Kan kita harus merujuk pada petunjuk teknis dari kementerian. Sampai saat ini belum,” ujar Arafah.
Ia menjelaskan, sopir angkutan umum memang selalu menaikkan tarif setiap BBM naik. Namun, tarifnya harus disesuaikan oleh aturan kementerian.
“Tidak boleh asal dinaikkan. Ada aturannya soal kenaikan itu, berapa sebenarnya tarif yang pantas. Itu kan ada hitung-hitungannya,” tandas Arafah.
Penumpang Sepi
Ahmad Efendi, salah seorang supir petepete di Makassar, mengaku sudah memberlakukan tarif baru sebesar Rp8.000, dari sebelumnya Rp7.000 untuk penumpang umum dan Rp5.000 bagi anak sekolah. ”Baruji hari ini (kemarin), karena sudah ada pemberitahuan kenaikan tarif. Kalau ditanya penumpangnya, pasti makin sepi. Tapi bagaimana lagi, BBM sudah naik. Kita maumi apa kodong,” ujarnya.
Menurutnya, bukan kali ini saja supir petepete sepertinya dirinya terdampak kebijakan pemerintah terkain BBM. Sebelumnya, langkah pemerintah yang menghapus BBM jenis premium telah membuat ia dan rekan-rekannya terpuruk.
“Yang lain (sopir angkutan lain) juga begitu. Naik semua (sewanya). Kalau mahal sampai Rp10 ribu juga pasti sekalimi tidak ada mau naik. Ini saja dari keluar pagi sampai sekarang baru dua penumpangku,” katanya.
Menurutnya, tidak ada lagi harga BBM yang bersahabat sesuai kantong para supir angkot yang bisa menyejahterakan mereka di tengah keterpurukan ekonomi.
Ia mengakui, Organda Kota Makassar telah melakukan penyesuaian tarif untuk semua rute, diberlakukan tarif Rp8.000. Tarif itu terkecuali untuk rute Makassar Mall-Terminal Regional Daya-Sudiang, dan rute Makassan Mall- Ir Sutami/tol-Terminal Regional Daya. Penumpang umum membayar Rp9 ribu dan pelajar Rp5 ribu.
Untuk tarif angkutan antardaerah, supir juga sudah melakukan penyesuaian. Untuk rute Makassar-Palopo, menurut seorang supir bernama Suryadi, ia khawatir jika langsung menaikkan tarif yang terlalu mahal, tidak ada lagi penumpang yang menggunakan jasa angkutannya.
“Belum ada dipasang (penyesuaian tarif). Cuman beberapaji yang sudah kasih naik, karena kita mengisi BBM Pertalite sudah naik. Untuk tarif sekarang bervariasi, sesuai jarak. Ada yang Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Dari sebelumnya Rp150 ribu sampai Rp200 ribu,” terang Suryadi.
Sopir yang ditemui kemarin, mengaku tidak setuju dengan kenaikan harga BBM. Pemerintah dinilai tidak berpihak lagi ke masyarakat bawah, khususnya angkutan umum.
“Kami sebenarnya sebenarnya. Kita makan dari sini. Kalau semakin mahal jadi kurang juga yang menggunakan jasa transportasi kita. Semoga saja ini didengarkan kasian,” kuncinya.
Data yang diperoleh dari sopir, tarif angkutan daerah dengan rute Makassar-Palopo dari Rp180 ribu naik menjadi Rp210 ribu. Untuk Makassar-Polman dari Rp120 ribu menjadi Rp150 ribu. Makassar- Mamuju dari Rp200 ribu menjadi Rp 250 ribu. Makassar-Bone dari Rp100 ribu menjadi Rp130 ribu. (jun-ita)

