pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Manfaatkan Kontainer Recover, Target Semua Anak Bersekolah

Dokter Udhin Saputra Malik, Founder Gerakan Massikola

ADA cita-cita mulia dari Dokter Udhin Saputra Malik. Ia ingin semua anak di Kota Makassar bisa mengenyam pendidikan. Tak ada dari mereka yang putus sekolah.

MENJADI tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, lulusan Fakultas Kedokteran Unhas tahun 2013 ini membahas tentang aktivitas dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. Dokter yang juga aktif sebagai Dewan Pengawas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Makassar ini merupakan founder dari sebuah gerakan bernama Massikola.
”Ini adalah program, gerakan dan kegiatan. Namanya Makassar Siap Sekolah atau biasa disingkat Massikola. Kalau diartikan, Massikola itu ayo pergi sekolah. Ini menggambarkan visi bahwa semua anak di Makassar harus sekolah,” terang dr Udhin, sapaan akrabnya.
Lelaki yang juga aktif membantu Pemkot Makassar dalam beberapa kegiatan, menjelaskan alasannya terjun ke gerakan ini. Sebagai seorang dokter, ia pernah mengabdi pada sebuah desa di Pegunungan Bromo, Jawa Timur.

Di sana, dr Udhin melihat bahwa permasalahan kesehatan yang terjadi, akar dari persoalan itu adalah pendidikan. Banyak di antara mereka tidak tahu merawat anak. Tidak paham bagaimana menyerap informasi kesehatan karena taraf pendidikannya yang rendah. Begitu pula dengan literasinya.
”Dengan begitu, perlu dilakukan pendekatan pada sektor pendidikan. Karena jika pendidikannya baik, satu persatu permasalahan bisa teratasi,” jelas dr Udhin.
Begitu pula di Kota Makassar. Menurut dr Udhin, salah satu kebutuhan dan persoalan yang paling fundamental adalah soal pendidikan. Bila permasalahan pendidikan sudah beres, persoalan kesehatan, sosial, dan ekonomi tentunya akan ikut beres.
Terkait gerakan Massikola, dr Udhin menyebutnya hadir dari bawah. Yang menginisiasi banyak. Relawan yang bertemu saling bcercerita satu sama lain. Ketika itu permasalahan yang lagi ramai dibahas adalah Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2022 yang berbasis online.
”Apa masalahnya waktu itu? Ternyata ada anak yang tidak punya handphone, tidak punya kuota, juga gaptek (gagap teknologi). Kasihan sekali anak tidak bersekolah kalau hanya seperti itu masalahnya,” ujarnya.

Menyikapi kondisi tersebut, dr Udhin kemudian memulai membuka perekrutan relawan untuk membantu mengatasi persoalan PPDB online. Dalam waktu yang sangat singkat ada 80 orang yang mendaftar. Sementara yang dibutuhkan sebenarnya antara 5-10 orang.
Dari situ dr Udhin melihat bahwa animo anak muda Makassar untuk membantu sesama, besar sekali. Utamanya dalam bidang kerelawanan, khususnya lagi pada sektor pendidikan.
Setelah PPDB online selesai, didapati fakta bahwa partisipasi pendidikan di Makassar masih menjadi persoalan. ”Akhirnya disepakati untuk mengurus masalah ini. Intinya, yang mau dicapai adalah semua anak di Makassar harus sekolah. Karena kami yakin betul, kalau mereka bersekolah, tidak ada lagi yang pergi berbuat kriminal dan tindakan lainnya,” ungkap peraih predikat cumlaude dengan IPK 4,0 ini.

Walau terbilang masih terbilang muda, Massikola terus menunjukkan eksistensinya. Salah satunya melalui cara mengorganisir dan merekrut relawan. Mereka diambil dari yang paling dengan lokasi sasaran. Relawan Massikola bahkan diharapkan hadir di setiap kelurahan dan berasal dari orang lokal. Tujuannya agar kegiatan gerakan ini bisa berkelanjutan.
Untuk tempat berkegiatan, Massikola akan memanfaatkan kontainer recover yang ada di tiap kelurahan. Sebab dr Udhin melihat, kontainer ini merupakan sarana dengan multi tujuan yang sangat ideal untuk pembelajaran. Karena sudah dilengkapi dengan koneksi internetf wifi, penerangan, bisa lesehan, bahkan ada AC. Ada pula yang dekat dengan taman, sehingga menjadi tempat yang representatif bagi anak-anak untuk belajar.

Untuk kegiatan yang dilaksanakan saat ini, menurut dr Udhin, di antaranya pendataan anak yang tidak sekolah dan putus sekolah. Sudah ada format yang telah dikomunikasikan dengan Disdik dan pihak sekolah. Dari pengisian format itu kemudian bisa dinilai intervensi dan solusi yang tepat untuk anak-anak.
Sebab, permasalahan yang mereka hadapi masing-masing berbeda. Ada yang tidak sekolah karena permasalahan ekonomi, dilarang orang tuanya, trauma karena dibully dan dimarahi guru. ”Jadi, dari pendataan yang dilakukan, pertama dicari adalah akar masalahnya apa. Kenapa anak tersebut tidak bersekolah. Yang paling banyak adalah masalah ekonomi,” ungkapnya.
Diakui dr Udhin, pekerjaan rumah terbesar di Gerakan Massikola saat ini adalah bagaimana mencari formulasi agar anak bisa belajar sambil mencari nafkah. Setidaknya ia bisa membantu dirinya sendiri. Karena itu, mereka akan diberi edukasi supaya bisa mandiri, mendapat penghasilan sendiri tanpa mengganggu sekolahnya.
Untuk saat ini, sebut dr Udhin, sudah ada tiga kelurahan yang menjadi sasaran Gerakan Massikola. Angka partisipasi anak sudah ada 30-an orang. Dari jumlah itu, ada tujuh anak yang sudah dikembalikan ke sekolah.

Guna kelancaran program yang dijalankan Massikola, dijalin kolaborasi dengan OPD terkait. Mulai dari Dinas Pendidikan, Disdukcapil, Dinas Sosial, Perlindungan Anak, hingga KUA. Mereka diajak berembuk untuk mencari solusi pasa kasus-kasus yang berbeda. (*/rus)




×


Manfaatkan Kontainer Recover, Target Semua Anak Bersekolah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link