MAKASSAR, BKM – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Makassar berhasil merancang Kapal Selam Tanpa Awak Autonomous KRI Barukang. KRI Barukang secara umum, dirancang untuk menjadi drone permukaan bawah air pemburu kapal selam dan kapal permukaan konvensional. Bahkan kapal selama ini bisa melakukan operasi pengintaian, survei, dan intelijen, dengan rute yang cocok di operasikan di seluruh perairan Indonesia.
Ketua Tim Barukang Boat Unhas, Nurhalim Dwi Putra melalui rilisnya, Senin (21/11/2022) mengatakan, kapal ini akan menjadi solusi untuk mengintai kapal asing yang menyusup ke perairan wilayah Indonesia. Bahkan mampu memberikan tindakan pada kapal penyusup tersebut, baik itu ditembak dengan rudal ataupun torpedo.
Konsep autonomous dari kapal ini, kata Nurhalim, terletak pada Diving System Otomatis, yang memanfaatkan durasi penyelaman tiap 5 jam di bawah air, harus naik ke permukaan lagi, untuk mentransmisikan data record selama pelayaran, dengan menegakkan communication mass ke atas permukaan air. Setelah itu, lanjutnya, mengirimkan transmisi data ke satelit, hingga diterima oleh kapal permukaan tempat operator berada. “Dengan dilengkapi alat BlueComm 200 untuk mengunggah volume data yang besar (hingga 10 Mbps), akan memperlancar transmisi data dari operator ke kapal Barukang,” jelasnya.

Sistem peluncuran dari kapal ini juga dilakukan di kapal permukaan jenis Landing Platform Dock, atau kapal fregat medium. Dimana, kata dia, starting mesin dilakukan di atas kapal, hingga mesin sudah standby, dan operator sudah terhubung.
“Setelah itu kapal siap diluncurkan ke laut, untuk beroperasi. Begitu juga ketika berlabuh (naik ke permukaan) setelah menjalankan misi,” katanya.
Untuk naik ke permukaan, komponen yang berada di circuit room membaca data dari communication room, yang berisi data rekaman visual, hingga data jelajah selama kapal berlayar. Kapal ini dirancang dengan durasi penyelaman maximal 5 jam, untuk naik kembali ke permukaan mereset posisi dan data, agar tidak terjadi lost signal dengan operator, yang menyebabkan kapal akan hilang dan tenggelam (mati daya).
“Sistem autonomous ini sangat bermanfaat, mengingat akhir-akhir ini, maraknya kasus drone lost signal akibat melebihi jangkauan radius pelayaran ataupun karena gangguan transmisi yang diperoleh dari sekitar sabotase,” jelas Nurhalim.
Kapal ini dilengkapi sistem persenjataan 6 peluncur Rudal Mistral Simbad-RC, yang merupakan sistem pertahanan diri anti-udara jarak pendek yang menggunakan dua rudal MISTRAL fire-andforget. Ini telah dirancang untuk memberikan kemampuan pertahanan diri utama di semua kapal perang atau untuk melengkapi pertahanan udara utama kapal perang peringkat pertama. Selain itu, kapal ini juga diperkuat oleh 3 tabung torpedo Black Scorpion di bagian depan.
“Konsep desain ini telah diikutsertakan dalam Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2022, dan berhasil meraih juara 3 Nasional secara luring di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya, Jawa Timur,” jelasnya.
Nurhalim berharap desain kapal selam ini senantiasa terus dikembangkan dan mendapatkan banyak dukungan untuk bisa terealisasikan nanti di masa depan, yang tentu akan memperkuat dan melengkapi armada Angkatan Laut Indonesia.
Desan kapal selam ini melalui pembimbingan dosen Teknik Sistem Perkapalan Unhas, Ir. Rahimuddin, S.T.,M.T., Ph.D. dan beranggotakan Muhammad Ainul Ismawan, Fachrial Novri Triyandi, Rafayza Al Rayhan, dan Muhammad Farhan. (rls)

