pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kembangkan Quote di Medsos Jadi Bahan untuk Menulis

Syahril Amaliah S, Penulis Novel Non Fiksi dan Buku Motivasi

MAKASSAR,BKM.COM–Pernah membaca quote (kutipan) di media sosial yang isinya menyentuh perasaan atau memotivasi diri untuk berbuat yang lebih baik lagi? Mungkin sebagian di antara kita sudah membacanya. Atau bahkan membagikannya kepada teman.

TAPI, bagi Syahril Amaliah S, ungkapan-ungkapan seperti itu malah dikembangkannya untuk kemudian dijadikan bahan membuat tulisan. Bahkan sampai menjadi sebuah buku.
Mahasiswa D3 Agribisnis Perikanan
ini adalah seorang penulis buku. Pria yang akrab disapa Syahril ini juga kerap membuat quote lalu mengunggahnya di media sosial.

Menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Syahril berkisah tentang awal mula menulis buku. Berawal dari sebuah keisengan, ia kemudian konsisten untuk selalu menulis. Tulisan yang dihasilkannya kemudian diunggah di blog. Dari situlah kemudian timbul sesuatu dalam benaknya. ”Kenapa tulisan itu tidak saya jadikan buku saja,” begitu ucap mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, Jurusan Agribisnis Perikanan tahun 2014-2017 ini.

Akhirnya, dari situlah Syahril yang hobi traveling ke gunung, menyatukan tulisannya yang selama ini terserak di dunia maya. Sebuah novel non fiksi karya Syahril akhirnya lahir di tahun 2019.
Buku pertama dan kedua terbit di di bulan Februari dan April tahun 2021. Disusul kemudian buku ketiga yang terbit pada di tahun 2022. Sementara buku keempatnya terbit di akhir tahun 2022 menjelang 2023.
Diakui, di antara keempat buku tersebut, yang paling menguras tenaga saat dibuat adalah buku pertama. Karena baru bisa terbit dalam rentang waktu yang cukup lama, yaitu dari 2019 namun baru bisa diterbitkan di tahun 2021. Sementara tiga buku lainnya bisa diterbitkan hanya dalam tempo beberapa bulan.

Buku pertama merupakan novel non fiksi, atau bisa dikatakan buku selfhealing, novel traveling, atau bahkan bisa disebut novel patah hati. Karena dia yang tengah berproses penyembuhan juga terdapat dalam buku tersebut.
Awalnya, Syahril yang biasa mendaki mengalami patah hati, hingga akhirnya menemukan sesuatu. Sebuah kutipan akhir ada dalam buku tersebut; “ternyata sesuatu yang hilang, berubah jadi banyak namun menjelma menjadi sahabat”.
Buku kedua adalah novel murni dengan gaya penulisan sanandika. Buku ketiga kategorinya selfimprovetment atau pengembangan diri. Disebut juga buku motivasi. Dan buku keempat juga kategori selfimprovertmen.

Menurut Syahril, buku keempat ciptannya sangat cocok bagi orang yang lagi butuh teman curhat. Sebab di dalamnya betul-betul ditulis untuk sesorang yang sedang butuh teman curhat, khususnya yang punya masalah hidup, insecure dan juga kemungkinan besar yang akan terjadi di masa depan. Termasuk bagaimana cara mencintai diri sendiri.
Tidak hanya cerita menarik dalam buku yang ditulisnya. Terdapat pula cerita yang kurang menyenangkan dialaminya. Salah satunya, Syahril mengaku sering dikatakan alay dan diejek oleh teman-teman sendiri. Hal itu terjadi ketika ia menulis quote lalu mengunggahnya ke medsos.

Namun, Syahril selalu menanamkan pada dirinya. ”Biarkan saja orang berkata seperti itu, nanti ada saatnya dia bakal mengerti,” ujar mahasiswa STAI Al-Gazali Barru Jurusan Tarbiyah, Prodi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah 2019-sekarang.

Apa yang menjadi keyakinannya itu pun terbukti. Sejak bukunya terbit, teman serta orang-orang yang dulu pernah menyebutnya alay, malah membagikan kalimat-kalimat puitis yang terdapat dalam buku karya Syahril.
Ditanya tentang cara mengatasi rasa bosan dalam dunia tulis menulis, pria kelahiran Pangkep, 27 Desember 1996 ini punya trik tersendiri. ”Kita harus mencintai dunia tulis menulis, kemudian banyak membaca. Sebelum menulis, ada banyak hal yang perlu ketahui. Seperti banyak membaca dan menganalisa apa yang terjadi di sekitar. Jangan pernah menutup diri, karena ide bukan hanya dari dalam diri sendiri, tapi bisa muncul dari orang lain,” terangnya.
Sempat pula disinggung soal makin maraknya buku yang ditawarkan secara daring dalam bentuk pdf. Juga buku dengan harga yang lebih murah dari aslinya.

Bagi Syahril yang seorang penulis buku, fakta dan kenyataan itu sangat memprihatinkan. Sebab praktik tersebut sangat merugikan banyak pihak. Mulai dari penerbit, editor, penulis, layout dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya.

”Jika buku tersebut disebarluaskan secara gratis itu sangat merugikan, dan bisa disebut sebagai pencurian. Itu sebuah pelanggaran dan semuanya sudah diatur. Bisa dikenakan denda hingga Rp100 juta jika didapatkan melakukan tindakan tersebut,” jelasnya.

Kepada mereka yang punya niat untuk menulis, Syahril menyarankan untuk tidak usah malu. ”Jangan merasa cemas jika dikatakan alay. Tuangkan saja pemikiran kita. Jika memang masih merasa malu, tidak usah diposting, tapi simpan saja file dan mungkin jika sudah banyak/menumpuk, pasti akan timbul niat dalam diri untuk memposting tulisan yang banyak tersebut,” sarannya.

Syahril kemudian mengutip bahwa buku adalah jendela dunia. ”Mungkin kita tidak mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan, dan itu bisa kita ketahui dengan membaca,” tutupnya. (*-pkl1/rus)




×


Kembangkan Quote di Medsos Jadi Bahan untuk Menulis

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link