MAKASSAR, BKM — Cuaca terik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan warga. Salah seorang di antaranya adalah Abdiwan. Ia mengaku panas terik seperti membakar kulit membuatnya malas untuk beraktivitas di luar rumah. Padahal, profesinya sebagai seorang fotografer mengharuskannya untuk mobile dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Kalau tidak pakai jaket keluar, itu panasnnya tajam sekali menusuk kulit,” kata lelaki yang akrab disapa Diwan itu. Dia berharap kemarau panjang ini segera berakhir sehingga cuaca menjadi sejuk.
Dikonfirmasi terkait cuaca saat ini, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Dwi Lestari Sanur menjelaskan fenomena suhu panas terik yang terjadi disebabkan oleh dominasi kondisi cuaca cerah dan minimnya tingkat pertumbuhan awan di siang hari. Hal itu memicu penyinaran matahari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan oleh awan di atmosfer.
Akibatnya, suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik. Minimnya awan juga dikarenakan saat ini masih berlangsung musim kemarau.
“Jadi minim awan karena musim kemarau. Akibatnya, penyinaran matahari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan oleh awan di atmosfer,” ungkap Dwi Lestari saat dihubungi BKM, Selasa (3/10).
Dia melanjutkan, cuaca panas masih bisa dirasakan hingga periode Oktober ini, mengingat kondisi cuaca cerah masih cukup mendominasi. Lebih jauh dikemukakan, berdasarkan hasil pengamatan hari, suhu maksimum yang tercatat mencapai 36 derajat celcius.
Khusus untuk Kota Makassar, prakiraan cuaca hingga dua hari ke depan masih seperti saat ini. “Tapi untuk updatenya, bisa dicek kembali prakiraan cuaca yang dibikin esok hari,” terangnya.
Dia menambahkan, tidak semua wilayah di Sulsel akan mengalami panas terik. Karena berdasarkan prakiraan cuaca, ada beberapa daerah yang berpotensi hujan walaupun masih bersifat ringan.
“Untuk dua hari ke depan diprakirakan berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan di wilayah Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Tana Toraja, Toraja Utara, Enrekang dan Pinrang,” tandasnya.
Karhutla Seluas 284,45 Ha
Akibat cuaca dengan suhu panas yang berlangsung saat ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel mencatat ada 284,45 hektare luas lahan dan hutan yang hangus terbakar sepanjang sepanjang September. Upaya pemadaman terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tersebut terus dilakukan, namun petugas juga kewalahan lantaran kekurangan armada.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel Andi Hasbi Nur, menjelaskan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Sulsel tersebar di kabupaten dan kota. Termasuk empat daerah, yakni Daerah Aliran Sungai (DAS) yang luasnya terbakar masing-masing Walanae (Soppeng, Wajo), Bialo (Bantaeng, Bulukumba), Kelara (Jeneponto, Takalar) dan Jeneberang (Gowa)
.
“Empat yang terbesar itu yang terjadi beberapa waktu lalu,” ujarnya, Selasa (3/10).
Sementara itu, Kepala Bidang Linmas dan Damkar Satpol PP Sulsel Pahlevi, menuturkan bahwa sepanjang musim kemarau ini sebanyak 539 laporan kejadian kebakaran lahan dan hutan di Sulsel.
“Iya, ada 539 kejadian. Ini rekapan laporan dari beberapa kabupaten dan kota di Sulsel,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan bahwa dalam proses pemadaman kebakaran petugas banyak menghadapi kendala, seperti kekurangan armada.
“Ada beberapa (kendala) karena jarak dan jangkauan. Kemudian karena minimnya armada, karena ada armada yang digunakan untuk distribusi air bersih. Yang disampaikan rekan-rekan kabupaten kota seperti itu,” ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Pahlevi, pihaknya akan berupaya untuk mencari jalan keluar atas kendala kekurangan armada damkar di daerah-daerah tersebut.
“Ada beberapa, tapi kami coba fasilitas ke pusat juga,” ujarnya.
Sebelumnya, Penjabat Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, menyampaikan bahwa kebakaran yang baru-baru terjadi di huran pinus Malino, Kabupaten Gowa, mesti menjadi pelajaran untuk masyarakat agar tetap waspada.
Kata dia, kejadian itu memang belum termasuk kategori parah, jika dilihat dari posisi dan kondisi Malino yang tak seperti dengan daerah penghasil batubara yang sangat rentan dan rawan kebakaran jika terpapar panas yang berlebih.
“Spot daerah kita kan tidak seperti daerah lainnya seperti Kalimantan. Ada batubara yang mudah terbakar kalau terlampau panas,” jelasnya belum lama ini. (rhm-jun)

