MAKASSAR, BKM — Agenda The Asean High Level Forum (AHLF) on Enabling Disability-Inclusive Development and Partnership beyond 2025 di Makassar berlanjut pada Kamis (12/10). Menteri Sosial Tri Rismaharini mengajak delegasi berkunjung ke Sentra Wirajaya, Jalan AP Petta Rani.
Di lokasi ini, Mensos mengajak seluruh delegasi berkeliling. Mereka melihat sentra pengembangan teknologi alat bantu disabilitas. Mulai dari kursi yang dimodifikasi khusus bagi disabilitas. Kursi tersebut bisa digunakan untuk baring serta berdiri. “Jadi ini bisa membantu disabilitas kalau mau mengambil benda di tempat tinggi,” ujar Risma.
Selain itu, ada pula motor tiga roda yang dimodifikasi untuk penyandang disabilitas.
“Motor ini bisa digunakan berjualan,” sambungnya.
Kemudian ada Tongkat Penuntun Adaptif (TPA) bagi disabilitas netra. TPA dilengkapi fitur-fitur yang mampu mendukung aktivitas para penyandang disabilitas sensorik netra. Seperti mengeluarkan peringatan suara ketika menangkap suatu objek di depannya. Kemudian mampu mendeteksi jarak yang ada di depan tongkat.
“Tongkat ini juga bisa mendeteksi air atau genangan, mendeteksi asap serta api,” kata Mensos.
Kemudian ada gelang gruwi untuk penyandang disabilitas sensorik rungu wicara. Gruwi memiliki fitur tombol panik dengan alarm darurat serta sensor suara dengan pengaturan level tangkapan dan jarak. Gelang grita untuk penyandang disabilitas intelektual dilengkapi dengan fitur unggulan seperti sensor denyut nadi dengan alarm. Jika melebihi batas wajar, lampu indikator darurat untuk perhatian sekitar. Lalu delapan level sensitivitas denyut nadi yang dapat diatur. Gelang ini juga terkoneksi ponsel untuk mengirim koordinat GPS dan data realtime.
Di Sentra Wirajaya,
Mensos juga meninjau sentra kerajinan tangan. Penyandang disabilitas berkarya dengan menjahit. Kemudian ada juga yang mahir membuat kain tenun. Tak ketinggalan, ada botol tumbler yang juga dihasilkan penyandang disabilitas.
Diketahui, Sentra Wirajaya merupakan pusat pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas. Mereka dibekali pendidikan dan keterampilan untuk mampu berwirausaha. Contohnya, dilatih dalam keahlian terkait, seperti menjahit, memasak, kemampuan service alat elektronik dan masih banyak lagi.
“Ini merupakan contoh nyata bagaimana kami melaksanakan program pelatihan kewirausahaan untuk berbagai segmen penyandang disabilitas. Program ini membuahkan hasil luar biasa dalam berbagai aspek, antara lain seni, alat bantu, dan perekonomian,” terangnya.
Hadirnya Wirajaya Center dinilai bisa membuka lapangan pekerjaan, sekaligus memberikan perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas. Guna mendukung program kewirausahaan ini, bantuan keuangan diberikan kepada penyandang disabilitas.
Tri Rismaharini menegaskan, inklusif disabilitas merupakan suatu pendekatan. Menurutnya, cara pandang yang sama perlu menjadi arus utama di semua sektor. Mulai dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, politik-keamanan, perdagangan dan investasi.
“Pembangunan inklusif disabilitas memerlukan kolaborasi dan tidak bekerja secara terpisah. Pemerintah, swasta dan organisasi penyandang disabilitas harus bersinergi dan bekerja sama,” tegasnya.
Mensos juga menekankan perlunya memperkuat ketersediaan data disabilitas. Sehingga kebijakan yang disusun dapat tepat sasaran. Selain itu, menelurkan ide berwirausaha serta memajukan teknologi. Hal ini dinilai sebagai upaya nyata dalam memberdayakan penyandang disabilitas dan meningkatkan kemandirian mereka.
Terpenting, menurut Risma, pihak harus bersama-sama meningkatkan kesadaran masyarakat. Sehingga tidak lagi memandang sebelah mata disabilitas.
“Agar masyarakat tidak melihat disabilitas sebagai sesuatu yang tidak berdaya dan menjadi beban. Agar masyarakat dapat melihat bahwa penyandang disabilitas juga dapat berkontribusi dan berperan penting dalam masyarakat,” ujarnya.
Tendi Gunawan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), menyebut masih terdapat diskriminasi pekerjaan terhadap penyandang disabilitas.
“Padahal jika diberi kesempatan, penyandang disabilitas juga mempunyai kemampuan yang sama,” jelasnya.
Senada dengannya, Staf khusus Presiden RI Angkie Yudistia mengatakan bahwa semua penyandang disabilitas bisa hidup mandiri.
“Tinggal semua pihak bersama-sama memberikan kesempatan dan kepercayaan terhadap penyandang disabilitas untuk berkarya.” katanya.
Mensos Tri Rismahari banyak menjelaskan upaya Indonesia dalam membangun inklusifitas bagi disabilitas
“Selama dekade terakhir, kita telah menyaksikan kemajuan signifikan dalam mendorong inklusi penyandang disabilitas. Kemajuan ini terlihat melalui integrasi hak-hak penyandang disabilitas ke dalam tujuan pembangunan berkelanjutan dan dokumen internasional lainnya,” imbuhnya.
Rencana aksi ini membuka pemenuhan hak penyandang disabilitas di Indonesia. Mulai dari sektor seperti kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, hak-hak sipil. Kemudian kesetaraan di depan hukum, sosial hingga hak kesejahteraan. Inovasi ini pun menjadi salah satu bukti pemenuhan hak penyandang disabilitas yang terus diprioritaskan Kemensos RI. (jun)

