MAKASSAR, BKM — Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin menggelar Temu Koordinasi Gerakan Pengembangan Budi Daya Pisang. Kegiatan yang mengumpulkan 1.868 penyuluh ini berlangsung di GOR Sudiang, Makassar, Kamis (9/11).
Acara ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan MoU antara Pemprov Sulsel dan PT Perkebunan Nusantara XIV tentang kerja sama pengembangan budi daya tanaman pisang. Kegiatan ini juga bertujuan mengkoordinasikan pelaksanaan Gerakan Pengembangan Budi Daya Pisang dengan petugas lapangan dan stakeholder terkait, Sosialisasi potensi dan prospek pengembangan komoditas pisang dalam menjaga ketahanan pangan dan mengenalkan budi daya pisang melalui kultur jaringan dan bonggol.
Bahtiar mengatakan, penyuluh pertanian harus diperhatikan. Karena mereka adalah orang-orang pilihan yang akan membimbing masyarakat, khususnya petani.
“Para penyuluh adalah andalan saya. Setidaknya budi daya di Sulsel mau tanaman pangan, hortikultura, mau perkebunan termasuk peternakan, perikanan dan kelautan, karena dialah orang-orang yang memiliki kualifikasi kemampuan yang bisa membimbing masyarakat,” ucap Bahtiar.
“Penyuluh juga itu hidupnya bersama masyarakat. Dia hidup di kampung-kampung, hutan-hutan, di pedalaman. Mereka ini orang hebat. Hanya saja selama ini setiap ada program disuruh buat percontohan, tapi tidak pernah dipikirkan nasib penyuluh,” lanjutnya.
Dengan demikian, Bahtiar akan mensupport para penyuluh. Dia juga akan memberikan bibit grati bagi penyuluh sehingga menjadi contoh untuk masyarakat, baik cara merawat dan budi daya pisang.
Tidak hanya itu, Bahtiar Baharuddin juga berharap para milineal anak muda bisa berbisnis dengan berbudi daya pisang. Budi daya pisang menjadi pilihan Bahtiar karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa panen.
“Saya dorong anak muda untuk bisnis di sektor ini. Bukan saya tidak menghargai bisnis yang lain. Seperti duren, cokelat, sawit bagus, tapi itu lama baru ada hasilnya. Kalau ini maaf, 7-10 bulan baru ada hasilnya,” tandasnya.
Olehnya itu, Bahtiar ingin budi daya pisang jadi prioritas. Dia berharap para penyuluh pertanian bisa sejahtera.
Bahtiar meminta para penyuluh mencari 1-2 hektare lahan untuk budi daya pisang.
Nantinya akan diberikan bibit pisang secara gratis. 2.000 bibit pohon pisang per hektare. Artinya, jika dua hektare terpenuhi, maka bisa mendapatkan 4.000 bibit.
“Itu caranya menambah insentif penyuluh dengan cara yang benar. Penyuluh saya kasih gratis bibit 4.000, maka dia akan menjadi orang kaya,” jelas Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini.
Lebih lanjut dia menyebut, jika satu hektare hasilnya Rp200 juta per tahun, maka penyuluh akan mendapatkan penghasilan tambahan Rp8 juta per bulan. Artinya, jika 2 hektare maka bisa mendapatkan Rp16 juta per bulan.
“Kalau satu hektare itu hasilnya Rp200 juta, bagimaki 12 bulan. Atau Rp100 juta saja hasilnya per bulan 1 hektare itu berarti Rp100 juta dibagi 12 bulan, hasilnya Rp8 juta. Berarti kalau Rp8 juta kali 2 hektare Rp16 juta. Berarti penyuluh nanti gajinya, tambah-tambahnya Rp6 juta tiap bulan. Lebih banyak dari pegawai negeri. Jadi bukan insentif, saya mau jadikan penyuluh jadi orang kaya,” tandasnya.
(jun)

