pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Imbauan Kadisdik Picu Pro Kontra

Mustakim Sebut tidak Wajib Nonton Film Pulang Tak Harus Rumah

MAKASSAR, BKM — Sebuah film produksi sineas Makassar berjudul Pulang Tak Harus Rumah saat ini tengah tayang di bioskop. Film tersebut mulai diputar 15 Januari dan bisa ditonton segala umur. Di dalamnya berlakon sejumlah talenta Makassar. Termasuk Kepala Dinas Pendidikan Muhyiddin Mustakim.
Dalam film ini Muhyiddin menjadi cameo. Cameo adalah hadirnya seseorang atau sosok yang terkenal dalam sebuah film namun durasi kemunculannya tidak lama. Peran yang dimainkan pun tidak memiliki bobot yang besar pula.
Mustakim berperan sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 6 Makassar. Materi filmnya cukup bagus dan mendidik. Bercerita soal seorang anak bernama Jeihan yang tak bisa lepas dari ponselnya.

Melihat kondisinya itu, sang ibu bernama Inara membawa anaknya ke kampung, di mana kakek Jeihan menetap. Di sana, Jeihan menemui berbagai macam pengalaman. Termasuk bertemu dengan preman kampung di hutan.
Kepala Dinas Pendidikan Muhyiddin Mustakim pun mengimbau peserta didik untuk menonton film ini. Namun sayang, imbauan tersebut langsung menuai sorotan dari sejumlah orang tua peserta didik.
Imbauan yang dilontarkan Kadis Pendidikan Makassar itu dikait-kaitkan dengan tampilnya sang pejabat di film tersebut. Pro kontra pun bermunculan di media sosial. Ada yang mengatakan, memang hanya imbauan tapi berpengaruh terhadap nilai pelajaran peserta didik.
Ada juga orang tua yang mengeluh karena terpaksa harus ikut nonton film tersebut, sebab mendampingi sang anak karena tidak mungkin pergi sendiri.

Dalam sebuah pesan dengan pengirim anonymous yang beredar di WhatsApp, tertulis, “Acece mentang-mentang pak kadis jadi Cameo di Film Pulang tak Harus Rumah, Anak-anak SD diwajibkan pergi nonton bioskop berbayar poeng, belum lagi kalau didampingi orangtuanya terus bikin berita judulnya ‘Antusias warga nonton blablabla’ antusias apanya kalau diwajibkan sekolah. Terpaksa pergi biar nda dikurangi nilainya anak-anak”.
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin memberi klarifikasi. Dia menegaskan, peserta didik maupun orang tua tidak dipaksakan untuk menonton film Pulang Tak Harus Rumah.
“Kan imbauan. Sifatnya tidak mewajibkan atau memaksa. Keputusan untuk menonton film tersebut tergantung dari murid atau orang tua masing-masing,” jelas Muhyiddin.
Dia mengatakan, lepas dari dirinya ikut berperan dalam film tersebut atau tidak, muatan pendidikan dari Pulang Tak Harus Rumah sangat baik. Bahkan dia mengatakan nonton film tersebut bisa menjadi salah satu pembelajaran outing class.
Bukan hanya untuk peserta didik, Muyiddin malah mengimbau masyarakat umum juga menonton film tersebut. “Film itu bagus. Sarat edukasi. Ada juga nilai-nilai budayanya, pendidikan karakter, literasi, dan bisa mengubah kebiasaan anak menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Dia menambahkan, dengan menonton film yang digarap sineas lokal, juga sebagai upaya untuk mengapresiasi karya-karya mereka. Dalam film itu ada nilai edukasi, termasuk perwujudan visi dan misi Pemerintah Kota Makassar yaitu 18 revolusi pendidikan.
Menurutnya, keliru jika ada sekolah yang membahasakan bahwa itu wajib, apalagi mengintervensi sampai ke nilai peserta didik. “Oh tidak (intervensi). Salah itu kalau soal nilai, tidak betul. Ini sifatnya imbauan,” katanya. (rhm)



×


Imbauan Kadisdik Picu Pro Kontra

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link