MAKASSAR, BKM — Tinggal menghitung hari rakyat Sulawesi Selatan akan menentukan pilihan terhadap dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Siapa yang layak menakhodai daerah ini selama lima tahun ke depan, akan diperoleh pada pencoblosan 27 November mendatang.
Paslon nomor urut satu Mohammad Ramhan Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) bersama paslon nomor urut dua Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati) pun makin intens menggarap dukungan masyarakat yang ada di 24 kabupaten/kota.
Pada Minggu (10/11), keduanya akan kembali bertemu dan mengikuti debat kedua atau yang terakhir dilaksanakan oleh KPU Sulsel di Hotel Claro, Makassar. Apa saja isu krusial yang perlu dibahas dalam debat kali ini?
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Andi Haris,Ph.D. mengemukakan bahwa sebenarnya cukup banyak isu-isu yang penting untuk dibahas dalam debat terakhir pilgub. Mulai dari isu kemiskinan, lapangan kerja, sarana perhubungan sampai ke isu lingkungan hidup dan lain-lain.
“Jadi tinggal dipilih mana yang dianggap prioritas terlebih dahulu untuk kondisi Sulsel. Inilah pentingnya merekrut kepala daerah yang banyak memiliki pengalaman di bidang pemerintahan dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Karena dari sekian banyak jenis kegiatan pembangunan, tentu yang dipilih adalah program yang dinilai amat mendesak bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat,” ujar Andi Haris, Kamis (7/11).
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof Dr Firdaus Muhammad, menyebut masalah ekonomi yang lebih pas karena isu ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat. “Perekonomian harus stabil. Infrastuktur juga jadi pendorong bergeraknya ekonomi,” jelas Firdaus Muhammad.
Simbol Tedong Bonga
Cagub Moh Ramdhan Pomanto berjanji akan mengembalikan simbol budaya Tana Toraja dan Toraja Utara ke Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur jika kelak terpilih. Seperti tedong bonga atau kerbau belang yang merupakan salah satu hewan khas Toraja di Sulawesi Selatan. Masyarakat Suku Toraja kerap melibatkan hewan ini dalam berbagai upacara adat yang dilakukan.
“Tedong bonga sebagai lambang kebesaran seluruh upacara yang ada di Toraja. Bagaimana nilai-nilai budaya begitu tinggi. Apalagi tedong bonga. Karena masing-masing belangnya mempunyai nilai ekonomi tinggi untuk masyarakat Toraja,” kata Danny Pomanto, Rabu (6/11).
Karena itu, simbol budaya Toraja pasti akan dipertahankan dan terus dipelihara. Karena itu, jika DIA memimpin pemerintah Provinsi Sulsel, kami akan mengakomodir, bahkan merawat dan memperkuat tradisi ini, sehingga menjadi daya saing kita,” paparnya.
Karena simbol budaya sudah menjadi sejarah terbesar pada Pariwisata. Toraja dan Tedong Bonga tidak bisa terpisahkan. “Jangan sampai simbol-simbol ini yang hilang. Misalnya Tedong Bonga dan Toraja. Kapan budaya dihapus, maka karakteristik Toraja akan hilang dan redup. Karena itu, DIA akan mengembalikan semua,” tandasnya.
Bukan hanya itu, Danny juga menjanjikan Danau Matano agar menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Salah satu fokus utamanya adalah menjadikan Danau Matano, Towuti, dan Malona yang dikenal Danau Tiga Susun sebagai destinasi wisata unggulan kelas dunia.
Janji ini disambut hangat oleh masyarakat Luwu Timur (Lutim), yang sepakat untuk memenangkan pasangan Danny Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) pada pilgub nanti.
Tokoh masyarakat Kecamatan Towoti, Desa Asuli, Yohel Patulsibilang, mengungkapkan rasa syukur atas rencana Danny yang akan memberikan perhatian lebih kepada Lutim. Menurutnya, selama ini Lutim sering diperlakukan seperti “anak tiri” dalam hal pemerataan pembangunan.
Ia pun berharap kehadiran Danny bisa membawa perubahan besar. Baik dari segi pertanian, karena Lutim merupakan penghasil lada dan cengkeh yang produktif. Yohel berharap Danny akan memajukan sektor tersebut jika terpilih.
“Dengan hadirnya Danny Pomanto yang berkomitmen untuk memajukan daerah kami, ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan,” ujar Yohel dihadapan warga yang menghadiri kampanye dialogis DIA di Lutim.
Ia juga menambahkan bahwa rencana pengembangan Danau Matano, Malona, dan Towoti menjadi destinasi wisata kelas dunia merupakan tawaran yang harus didukung penuh oleh masyarakat. “Kami siap mendukung penuh visi besar Danny Pomanto ini,” tambah Yohel dengan penuh optimisme.
Danny melihat bahwa pemanfaatan potensi alam ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata yang terintegrasi dengan ekonomi daerah. Ia pun menyoroti keindahan Danau Tiga Tingkat yang menurutnya harus dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan. “Kalau DIA menang, saya yang akan rancang sendiri. Insyallah, tungguma,” tandasnya. (rif-rhm)

