MAKASSAR, BKM — Perusahaan tiga blok tambang eks PT Vale Indonesia sudah memiliki perusahaan dan pemilik sahamnya. Masing-masing blok berbeda perusahaan.
Dari tiga blok itu, masing-masing ada PT Sulsel Citra Indonesia (SCI) atau Perseroda Sulsel pemilik saham. Untuk Blok Bulubalang, nama perusahaannya adalah PT Sulawesi Damai Mineral (SDM) yang pemilik sahamnya itu adalah PT SCI 51 persen, dan PT Ifishdeco 49 persen.
Sementara untuk Blok Lingke nama perusahaannya adalah PT Lingke Sulawesi Mineral yang 51 persen dimiliki PT SCI dan PT Luwu Timur Gemilang, serta 49 persen PT Ifishdeco.
Lalu untuk Blok Pongkeru pemilik sahamnya ada tiga, yakni PT SCI sebanyak 18 persen, PT Antam 51 persen dan PT Luwu Timur Gemilang 31 persen.
Tiga blok tambang eks PT Vale ini, terutama yang pemilik sahamnya adalah PT SCI itu akan menggunakan kontraktor lokal, seperti PT Tiran dan PT Kalla Group.
“Jadi, PT Kalla dan PT Tiran menjadi kontraktor. Kan SCI tidak punya modal besar, experience, dan SDM. Tentunya kita mengundang ini yang punya Kalla yang punya smelter sendiri. PT Tiran juga punya smelter,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengembangan Usaha dan Operasional PT SCI Aerin Nizar, di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (21/11).
“Tentunya mereka pengusaha lokal yang kita undang masuk sebagai mitra SCI dari pengelolaannya saham kita ini,” imbuhnya.
Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan bahwa perusahaan yang akan menjadi pemilik saham tiga blok tambang Eks PT Vale Indonesia telah terbentuk.
Zudan bilang, pihaknya sisa menunggu Izin Usaha Pertambangan (IUP) kemudian melakukan izin produksi pengelolaan tambang itu sendiri.
“(Blok) Lingke, Pongkeru, dan Bulubalang (sudah rampung). Jadi ada tiga perusahaan, satu blok satu perusahaan. Sekarang perusahaannya sudah berdiri terus dalam tahap mengajukan izin usaha operasional khusus untuk eksplorasi, mulai melihat di titik mana nanti yang bisa ditambang,” katanya.
Zudan menargetkan, paling lambat 2026 mendatang tiga blok tambang itu sudah bisa produksi.
“Kalau IUPnya sudah keluar, nanti kita langsung izin produksi. Mudah-mudahan tidak terlalu lama ya, satu tahun sudah bisa produksi. Di tahun 2025 paling lambat 2026 sudah bisa produksi. Sekarang masa persiapan produksi, perusahaannya 100 persen sudah berdiri,” kunci Zudan. (jun)

