PRESTASI membanggakan ditorehkan pelajar SMA asal Kota Makassar. Mereka berhasil meraih juara pada ajang Duta Siswa Indonesia. Tidak hanya satu, tapi tiga orang sekaligus.
ASMANANDA Aulia Putri, Fatimah Azzahra, dan Sofi Al-Fatihah adalah ketiga nama pelajar tersebut. Mereka hadir di siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Sura Siswa Indonesia merupakan program yang diikuti oleh siswa berprestasi dari seluruh Indonesia untuk membentuk generasi emas Indonesia. Dalam program ini siswa belajar, berdialog, dan bertukar ide untuk menciptakan generasi emas Indonesia.
Dalam ajang ini terdapat beberapa manfaat yang didapat bagi siswa yang terpilih mengikutinya. Diantaranya dalam hal meningkatkan kemampuan komunikasi, membangun kepercayaan diri, belajar bertanggung jawab, membangun karakter pemimpin.
Pada event ini, Asmananda Aulia Putri yang akrab disapa Nanda meraih predikat Pemimpin Perempuan Muda. Sementara Fatimah Azzahra yang karib dipanggil Tini merupakan peraih predikat Penggerak Olimpiade Madya. Sedangkan Sofi meraih predikat Berbakat Madya.
Ketiganya berasal dari sekolah yang berbeda di Kota Makassar. Nanda bersekolah di SMA Negeri 23 Makassar, Tini di SMAN 22 Makassar, dan Sofi di SMAN 1 Makassar. Ketiganya mewakili Provinsi Sulawesi Selatan dalam Ajang Duta Siswa Indonesia yang disebut oleh mereka sebagai pengalaman yang sangat berkesan.
Berkompetisi di kota besar seperti Medan yang menjadi lokasi pelaksanaan pemilihan Duta Siswa Indonesia, diakui Sofi sebagai momentum guna mengeksplor diri untuk keluar dari zona nyaman. “Senang sekali bisa eksplor daerah lain. Saya suka logat orang di sana karena beda. Sampai-sampai saya juga kadang terbawa,” terang Sofi.
Nanda menambahkan, berkompetisi di ajang Duta Siswa Indonesia menjadi sesuatu yang sangat berharga. Sebab dirinya memiliki kesempatan untuk berbaur dengan orang-orang yang memiliki kultur berbeda, khususnya masyarakat lokal Medan. “Di sana kita berbaur hampir 24 jam dengan mereka dan kita harus bisa beradaptasi,” ujarnya.
Disebutkan Sofi, terdapat beberapa kategori penghargaan yang menjadi predikat pada ajang tersebut. Diantaranya adalah pemimpin perempuan muda, penggerak olimpiade, dan berbakat madya
.
Sementara Nanda menjelaskan, untuk masuk berkompetisi pada ajang Duta Siswa Indonesia terdapat tiga jalur yakni kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Hal itu dikarenakan Duta Siswa Indonesia memiliki banyak cabang sehingga terdapat berbagai jalur di dalamnya.
Ditanya mengenai hal yang sulit saat proses mereka mengikuti ajang Duta Siswa Indonesia, ketiganya mengaku memiliki kendalanya masing-masing. Tini sempat merasa kesulitan saat melakukan tes wawancara, lantaran ia merasa bingung dengan pertanyaan seputar psikologi ketika tes berlangsung.
“Saya sempat bingung, karena ada pertanyaan yang awalnya saya rasa tidak nyambung. Seperti pertanyaan jika kamu hewan maka kamu apa,” ungkapnya.
Meski sempat merasa bingung, Tini kemudian akhirnya dapat memahami jika pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kepribadian dirinya dari sisi psikologi.
Pengaduan senada datang dari Nanda. Ia menyebutkan bahwa dirinya juga sempat mengalami beberapa kesulitan, khususnya persiapan dalam membuat video edukasi yang merupakan bagian dari persyaratan untuk para peserta Duta Siswa Indonesia. “Kesulitannya mungkin saat membuat video edukasi, saat itu persiapan masih minim,” ungkapnya.
Sofi juga mengaku mengalami kesulitan dalam hal manajemen waktu lantaran dirinya yang juga aktif dalam mengikuti kegiatan taekwondo, lalu kemudian diharuskan untuk ikut berbagai rangkaian tes seperti uji publik, wawancara,dan pembuatan video sehingga memerlukan persiapan matang dan manajemen waktu yang massif.
“Kesulitannya lebih ke manajemen waktu sih. Karena saya ikut taekwondo. Lalu harus juga ikut rangkaian tes seperti uji publik, wawancara, dan pembuatan video,” jelasnya.
Ketiganya menjelaskan tentang output yang hendak dicapai dalam event yang mereka ikuti. Tini mengatakan, Duta Siswa Indonesia memiliki tagline “Berprestasi Untuk Membangun Negeri.” Hal ini bermakna untuk membantu mencapai cita-cita Indonesia Emas pada tahun 2045.
Kemudian Nanda melanjutkan, Duta Siswa Indonesia berfokus untuk mengembangkan wadah para siswa dan siswi yang ada di Indonesia.
Sofi menjelaskan, Duta Siswa Indonesia memiliki banyak program kerja, seperti melakukan riset tingkat nasional dan internasional sebagai bagian dari edukasi.
Ketiganya juga menjelaskan tentang program kerja yang masing-masing telah dicanangkan. Nanda memiliki program bernama Gen-S, kepanjangan dari Generasi Sehat Indonesia. Menurutnya, memberikan edukasi tentang kesehatan kepada masyarakat menjadi sangat penting. Karena untuk mewujudkan cita-cita menuju Indonesia Emas memerlukan generasi yang sehat, dan edukasi kesehatan harus dimulai dari diri sendiri.
Nanda yang memiliki pengalaman di Palang Merah Remaja (PMR) saat duduk di bangku SMP, berencana mengajak Palang Merah Indonesia (PMI) untuk berkolaborasi.
Sementara Tini memiliki program berbentuk virtual sharing yang menghadirkan berbagai narasumber, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Hal tersebut dilakukan lantaran dirinya memiliki pengalaman mengikuti Konferensi Asia Pasifik di Bali, sehingga ia ingin memanfaatkan relasi yang dimilikinya.
“Dulu pernah ikut Konferensi Asia Pasifik di Bali. Di sana ketemu sama banyak orang mulai dari Bali, Jakarta, Hongkong, hingga Jepang,” bebernya.
Sofi memiliki program seputar minat dan bakat. Di ajang Duta Siswa Indonesia ia menampilkan bakat melukis yang menggambarkan peta Sulawesi disertai dengan aksara Lontara’ bertuliskan falsafah masyarakat Bugis, yakni “taro aga taro gau” yang bermakna satu kata dengan perbuatan.
Dari prestasi yang mereka raih, ketiganya memiliki harapan atau goals masing-masing. Sofi bertekad untuk menjadi role model bagi lingkungan sekitarnya untuk memberikan contoh positif. Kemudian Nanda berkeinginan agar sekolahnya, yakni SMA negeri 23 Makassar yang terbilang baru, dapat bersaing ke depannya. Sedangkan Tini bercita-cita bisa berkuliah di luar negeri agar bisa membanggakan kedua orang tuanya. (yus)

