MAKASSAR, BKM — Wali Kota Munafri Arifuddin berkomitmen menghadirkan stadion berstandar internasional di Kota Makassar. Hal itu masuk menjadi salah satu program prioritasnya.
Sebagai bukti keseriusan orang nomor satu Makassar itu untuk menghadirkan stadion, lelaki yang akrab disapa Appi itu mengunjungi lahan di Kawasan Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sabtu petang (8/3).
Pemkot Makassar diketahui memiliki lahan dengan luas sekitar 22 hektare di kawasan itu. Lokasinya tepat bersebelahan dengan kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.
Dalam kunjungannya, Appi ditemani Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin yang pernah terjun langsung dalam membangun Jakarta International Stadium (JIS). Turut hadir Kepala Bappeda Andi Zulkifli Nanda, Kepala BPKAD M Dakhlan, dan Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga AM Yasir.
Dari hasil peninjauan, lahan milik Pemkot Makassar di kawasan Untia masih berupa rawa yang sebagian tergenang air. Jika diukur dari dasar rawa hingga permukaan jalan umum, kedalamannya sekitar 3 meter. Artinya, untuk membangun stadion di lokasi tersebut, lahannya perlu ditimbun terlebih dahulu.
Namun, kata Appi, hal itu tidak menjadi persoalan. Estimasi anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp70 miliar.
Terkait anggaran penimbunan ini, Munafri menginginkan agar diproyeksi kembali untuk kebutuhan pembangunan stadion “Ya, kurang lebih begitu (Rp70 miliar), karena kan pernah dihitung. Nah, makanya kita mau mencoba menghitung ulang di wilayah-wilayah yang mana atau semuanya itu sudah menjadi hamparan yang padat atau seperti apa, ini yang harus kita pastikan,” ucapnya.
Appi mengatakan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memastikan legalitas dan batas tanah agar proses pembangunan berjalan tanpa kendala. Setelah semua dokumen lengkap, rancangan awal stadion akan segera dibuat untuk menentukan bentuk dan perkiraan biaya pembangunan.
“Langkah pertama yang akan kita lakukan adalah memastikan legalitas dan batas-batas tanah kita. Setelah semuanya fiks, saya coba akan kirimkan ke Pak Iwan (dari Jakpro) untuk coba dibuatkan drafting awal seperti apa bentuknya. Lalu setelah itu kita akan mencoba menghitung berapa besaran biaya yang akan ada,” ujar Ketua DPD II Partai Golkar Makassar itu.
Luas area stadion diperkirakan berkisar antara 300 hingga 500 meter persegi (3-5 hektare). Itu sudah termasuk dengan fasilitas pendukung seperti jogging track. Kapasitas stadion pun dirancang untuk menampung hingga 20.000 penonton.
“Kira-kira kalau untuk wilayah area stadion kurang lebih sampai dengan 1 hektare. Untuk include dengan fasilitas pendukungnya, jogging track, dan lain-lain, 5 hektare mungkin. Kapasitasnya kita maksimalkan 15 ribu sampai 20 ribu,” ungkapnya.
Terkait waktu pelaksanaan, Munafri menargetkan pekan depan sudah ada perkembangan dalam tahap perencanaan. Tim dari pertanahan, hukum, dan aset akan memastikan ukuran serta legalitas lahan sebelum data tersebut diserahkan kepada pihak terkait untuk dianalisis lebih lanjut.
“Mungkin hari Senin saya akan perintahkan teman-teman di Pertanahan untuk memastikan ukuran-ukuran dan batas-batas wilayah ini. Bagian hukum dan bagian aset untuk memastikan segala macam legalitasnya,” jelasnya.
“Lalu data-data itu akan saya coba kirim ke Pak Iwan untuk diolah dan dianalisa. Jadi pekan depan mungkin sudah bisa kita lihat ploting stadionnya, karena arah stadion itu harus benar-benar mengikat, tidak bisa timur-barat, harus utara-selatan,” beber Appi.
Direktur Utama Jakarta Properti (JakPro) Iwan Takwin menerangkan, dari sisi luasan lahan milik Pemkot yang ada sudah sangat memungkinkan untuk membangun stadion. Dia menyebut, lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 5 hektare.
Salah satu yang menjadi tantangan kata Iwan adalah kawasan yang ada di Kelurahan Untia tersebut tidak berbentuk persegi. Sehingga, kata dia, butuh diskusi lebih banyak untuk mendalami dan mengkaji pembangunan stadion ini.
“Tantangannya adalah bentuk kawasan ini tidak square, tidak kotak murni. Jadi perlu memang pemikiran dari arsitektural yang bisa mengakomodir seperti apa sehingga stadion ini bisa memenuhi syarat PSSI dan terutama FIFA,” ungkapnya.
Membangun stadion bukan sekadar itu, akses masyarakat, kebangkitan ekonomi hingga dampak-dampak infrastruktur juga patut diperhitungkan. “Dari sisi luasan itu sudah pasti bisa, cuman memang ini Pak Wali kan memikirkan konteks urbannya. Aksesnya kemudian nanti bagaimana. Kebangkitan ekonomi yang ada di sini bagaimana,” ucapnya.
Selain itu, keamanan seluruh penonton juga harus diperhatikan. Untuk itu, Pemkot Makassar perlu menyiapkan segala prosedurnya. Termasuk saat penonton bubar usai menyaksikan liga di stadion tersebut.
“Kalau nonton bola itu, terutama bubarannya itu kan bersamaan, sehingga nanti pelaksanaan kalau memang PSM main itu kan harus benar-benar ada SOPnya. Bagaimana memecah penonton itu bisa bubar secara rapi, aman, kemudian mereka bisa meninggalkan kawasan ini dengan tenang, cepat dan baik,” tandasnya. (rhm)

